Persiapan Masuk Kuliah, Sejak Kapan ?


Mungkin tulisan ini bisa sedikit menarik bagi adik2 yang ngebet kepingin kuliah di manapun, maupun bahan cerita untuk menggali kisah unik kawan2 yang sudah pernah mengalami masa-masa perkuliahan, tentang bagaimana kiat mempersiapkan dunia kuliah sedari awal, khususnya di tingkat Strata 1 (S-1). Mungkin bahasanya agak berlebihan, namun dari niatan, bukanlah untuk berlebihan apalagi menyombongkan diri. Berikut ini ceritanya :

Latar Belakang Ndeso Pool

Pengalaman pribadi saya, saya bukanlah orang yang memiliki prestasi akademik yang menonjol khususnya di tingkat SMP dan SMU. Apalagi latar belakang saya yang ndeso, dari pelosok pedalaman Pacitan yang bahkan listrik saja baru masuk tahun 96 ketika saya hampir lulus SMP. Otomatis selama masa belajar SD di Pacitan, tiap malam ditemani lampu teplok atau paling mewah dengan petromax. Maklum, saingan datang dari seluruh Indonesia mengingat latar belakang asal daerah kawan2 SMP dan SMU yang cukup merata. Latar belakang yang ada tersebut, menjadikan belajar menjadi sebuah kebutuhan. Saya sendiri merasa, tidak terlalu ngoyo, atau bahasa lainnya mati-matian belajar, seperti teman2 yang lain. Hanya sekedarnya.

Selama SMP, upaya belajar ya hanya begitu-begitu saja. Alhamdulillah selama 3 tahun masuk terus di kelas yang katanya favorit, meskipun itu bukan tujuan saya. Ketika lulus MTs pun, manakala ada bukaan sekolah baru di Serpong, saya bersama banyak teman2 mendaftar, dengan jumlah pesaing yang sangat banyak dan cukup berkualitas. Termasuk teman2 MTs yang prestasinya jauh di atas saya. Alhamdulillah, Allah menuntun saya ke sekolah ini yang di Serpong.

Masuk SMU, jumlah siswa kelas 1 sebanyak 48 orang. Ini dibagi dalam 4 kelas sehingga masing-masing berjumlah 12 orang tiap kelas. Kelas satu ini adalah “very intensive class”. Saking kelewat intensifnya, bahkan hanya untuk sekedar mengantuk saja tidak bisa karena sudah keburu dibangunkan oleh guru. Maklum, jelas terlihat Di cawu 1, dengan usaha belajar yang seikhlasnya, Alhamdulillah masuk urutan pertama dari 12 siswa. Tapi setelah itu turun terus, deep sinking, nggak pernah muncul-muncul lagi ke permukaan. hahaha.

Mencuri Start

Di kelas 1 ini bisa dikatakan saya mencuri start. Mumpung masih semangat untuk belajar, saya habiskan buku kumpulan soal-soal UMPTN, Sipenmaru dan SKALU yang bersampul merah dan setebal bantal untuk menemani kehidupan, minimal selama 2 cawu di kelas satu. Hanya materi-materi yang belum diajarkan yang saya tidak tahu jawabannya. Lainnya kan bisa sambil dilogika. Pada tahapan ini, saya merasa (belum tentu benar perasaan saya ini), bahwa 60 % lebih isi buku sudah saya pahami dan saya pelajari. Jadi sudah PD untuk menghadapi ujian 2 tahun mendatang.

Kelas 2, saya semakin tenggelam dalam lumpur anak2 muda. Belajar jadi males, senangnya kumpul sama teman2, main bola, dan segala kegiatan yang bukan belajar. Urutan rangking, sudah pasti tidak masuk hitungan lagi karena sudah lewat dari sepuluh. Lain halnya dengan teman2, malah mulai menemukan jati dirinya dengan belajar mempeng, serius, dan sungguh-sungguh. Sementara saya semakin jauh dari belajar, karena merasa sudah belajar di kelas 1. Penentuannya di akhir cawu 3 di mana semua siswa diseleksi untuk masuk IPA atau IPS. Batas nilainya adalah 6.5 pada mata pelajaran matematika, fisika, kimia dan biologi. Nilai saya pun pas-pasan, hanya 6.75, sedikit berada di batas aman.

Kelas 3, teman2 sudah semakin semangat belajar, sementara saya hanya sekedarnya. Kalopun membuka2 buku soal SKALU merah, hanya dibaca sekedarnya. Terlebih pada soal yang sudah pernah saya kerjakan, ooh, wis pernah tak garap, kiro-kiro ngono jawabane. Hehe.

Di awal cawu di kelas tiga, saya sudah menentukan pingin kuliah di mana, sehingga getol banget ngebetnya. Bahkan di sekitar tiga bulan terakhir kelas 3, saya rutin tahajjud sambil meminta pada Allah agar dimasukkan ke jurusan yang saya pilih tersebut. Sisi isengnya, bahkan jam 2 pagi saya setel murattal ngaji di loudspeaker masjid sekolah, membangunkan teman2 satu sekolahan yang masih asyik tidur. Selain tahajjud, beberapa kali juga puasa Daud, sehari puasa, sehari tidak, hingga karena kurang asupan gizi sampai dihinggapi wabah beri-beri

Begitu ebtanas, hingga umptn, Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tapi ada sedikit kekeliruan yang hampir fatal. Ketika jam tangan saya mati pada waktu hari ke-dua (materi ipa terpadu), saya merasa belum waktunya habis dan masih sejam lagi. Ternyata waktu sudah habis. Pokoknya sudah deg-deg-an. Khawatir nggak lulus. Ternyata Allah masih Maha Penyayang pada saya. Alhamdulillah lulus.

Trik Belajar

Dari pengalaman saya pribadi tersebut, inti yang bisa dipelajari adalah sbb :

1. temukan cara belajar yang paling cocok dengan diri kita.

Tidak semua orang bisa belajar dengan cara yang sama. Belum tentu cara yang cocok saya pakai, bisa cocok dan nyaman untuk si Andi. Cara tersebut misalkan dengan menuliskan kata-kata kunci (nama lainnya jembatan keledai) untuk hal-hal yang perlu dihapalkan. Pahami juga logikanya, sehingga kita tidak melulu menghapalkan rumus / formula. Akan lebih mengena manakala kita mengetahui cara penurunan rumus daripada sekedar hapal. Dunia perkuliahan di teknik menuntut hal ini. Bahkan yang sering saya alami, produk2 bimbel yang instan, banyak dicela oleh dosen2

2. Curi waktu belajar sedini mungkin.

Kalo saya sudah mencuri start di kelas 1, saya harap adik2 bisa lebih awal lagi mendahuluinya. Terlebih materi pelajaran sekarang, beberapa tahun lebih awal diajarkan dibanding kurikulum pada saat saya sekolah. Wong namanya deret aritmetika saja sudah diajarkan di SD, padahal saya baru belajar di SMU. Khususnya level SMU, utamanya di kelas 2 dan kelas 3, adalah masa hura2nya remaja, di mana kegiatan belajar sudah bukan menjadi hal yang menarik lagi. Maka harus ada strategi mengalihkan waktu belajar selain di klas 2 dan 3. Lagian tidak mungkin kita mengalihkan kegiatan hura2 di kelas 2 dan 3 kan ? Nggak gaul gitu

3. Banyak2 berdoa.

Allah tidak tidur dan senantiasa dekat dengan hamba-Nya. Perbanyak Tahajjud, Puasa, dan ibadah2 sunnah lainnya. Selain itu yang wajib jangan lupa dikerjakan, jangan tertinggal dan bolong2.

4. Banyak diskusi dengan Senior (termasuk orang tua)

Alhamdulillah sekarang sudah banyak media online untuk berdiskusi. Melalui media ini bisa banyak ditanyakan seluk-beluk jurusan / bidang yang akan dimasuki kelak. Jangan segan untuk bertanya, meskipun menurut kita adalah hal yang bodoh untuk ditanyakan (stupid question). Jika ragu-ragu akan memilih jurusan, sambil lakukan sholat istikhoroh, memohon bimbingan Allah agar kita diyakinkan pada pilihan yang sudah kita tetapkan.

5. Tinggalkan hal-hal yang mengganggu konsentrasi

Bagi yang pacaran atau berniat pacaran, tinggalkan saja dulu, daripada mengganggu konsentrasi, malah buyar tujuan utamanya. Nikah juga belum dan masih lama, rencana kuliah terbengkelai. Nanti baru setelah berpenghidupan yang matang dan layak, Insya Allah semakin memperkuat daya tawar kita di depan calon dan keluarga calon pendamping

Ingat, masa perkuliahan adalah masa-2 paling menantang, dan dapat dikatakan sebagai waktu mengeksplorasi apapun yang kita mau dan kita bisa. (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: