Profesional Media yang Kukenal


Punya kenalan kawan maupun saudara yang di bidang media, rasanya menjadi kagum saja dengan prestasi mereka. Dengan durasi yang relatif tidak terlalu berlama-lama, mereka yang meniti dari level paling bawah, kini sudah menunjukkan prestasi yang cukup signifkan dalam usia yang relatif muda.


Aswika, ini adalah ponakanku. Perjuangannya cukup berdarah-darah dan masuk angin. Bergabung dengan Jawa Pos Radar M dengan bekal sebagai mantan reporter media di kampusnya Univ. Muhammadiyah Malang. Di awal trainingnya, dengan beberapa minggu dipindah-pindah dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya, dia sudah mampu memanasi kuping kasatreskrim salah satu kota. Pasalnya, ybs menurunkan berita tentang anggota polres tersebut yang menjadi agen ganda sebagai calo Surat Izin Mengemudi. Buntutnya, pemeriksaan dari polwil Madiun waktu itu turun ke lapangan dan memberikan sanksi kepada si pelaku. Bahkan ponakanku ini sempat dipanggil kasatreskrim dan diminta kalau menulis berita yang bagus-bagus saja.

Di kabupaten tetangganya, tidak lama berselang juga timbul kasus. Karena memberitakan sesuatu yang sudah disetel oleh jaksa lokal, akhirnya dikotak menjadi wartawan olah raga. Bidang ini bukan merupakan kompetensinya karena berlatar belakang hukum. Namun apa daya, selama sekitar 2 tahun penuh dia menjalaninya.

Lepas dari olah-raga, posisi yang tidak kalah mengospek menanti. Yakni menjadi wartawan backup, pengganti wartawan-wartawan di kabupaten se karesidenan yang sedang libur. Enam kabupaten / kota dia kelilingi tiap minggu. Hari senin di P, selasa di M, rebo di N, kamis jumat di M, serta sabtu di P. Dan minggu adalah hari liburnya. Puas menjalani ospek selama 8 bulan, kini posisi yang relatif stasioner sudah dipegang. Menjadi kepala biro yang fokus 5 hari di M dan sehari di P dalam usia yang masih relatif muda, 26 tahun.

Rahmat Budi Harto, kawan kuliah beda satu tingkat ini dengan latar belakang teknik penerbangan yang sangat jauh dari dunia jurnalistik. Menjadi wartawan Republika setelah lulus kuliah. Pernah menerima penghargaan atas tulisannya, meski bukan yang merupakan latar belakang pendidikan. Akhirnya ybs naik posisi menjadi redaktur dan menerima tanggung jawab untuk halaman 1.

Ada juga Mas Achmad Yani. Suami kakakku ini mengawali debutnya di Radar Malang selama beberapa waktu. Pada waktu Indo Pos dibuka, ybs ikut dimigrasi ke Jakarta dan nongkrong sehari-hari di DPRD Jakarta. Yang menjadi tema tulisannya adalah politik, kriminal dan umum. Setelah menjalani beberapa waktu sebagai wartawan lapangan, akhirmya ybs dipindah ke kantor, menjadi redaktur yang bertanggung jawab pada halaman 1.

Begitu juga Mas Yuni Haryanto. Kawan satu kos ini ternyata memiliki prestasi yang unik. Meski bukan penuh sebagai wartawan, kinerjanya mendukung kelangsungan hidup media juga patut dicermati. Menurunkan tingkat tunggakan dari agen koran dari di atas 30 hari menjadi 20an hari bahkan belasan hari. Juga membantu meningkatkan oplah media tersebut di tengah persaingan yang tidak ringan karena bukan sebagai media utama di wilayah itu. Karena prestasinya, ybs pernah diganjar keliling Brunei dan Hongkong untuk menulis sambil jalan-jalan di sana. Kini dia berperan sebagai divisi Even dan Promosi yang berusaha semaksimal mungkin menggaet pasar iklan untuk medianya.

2 thoughts on “Profesional Media yang Kukenal

  1. Afti says:

    Prestasimu sendiri apa Son? Nggak usah segen sebut pencapaian diri.

  2. mukhlason says:

    biasa-biasa saja Jeng. nggak ada yang istimewa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: