Belajar Kepada Sumber Kencono


Nama SUMBER KENCONO menjadi semakin populer. Terkenal karena menurut orang awam sering mengalami kecelakaan yang bahkan berakibat fatal. Dua terakhir adalah di by pass Mojokerto dengan korban 20-an orang termasuk pengemudi, dan di Balerejo Madiun dengan 6 penumpang meninggal.

Namun, di balik kelemahan itu, mengapa sampai hari ini perusahaan bus itu masih eksis beroperasi dan dipercaya masyarakat ? Bila dianalisis, terdapat banyak kekuatan yang sangat dikuasai SUMBER KENCONO dengan luwes nan mumpuni. Berikut ini saya mencoba menjabarkan :

1.    Trayeknya melewati belasan kota, pusat kegiatan masyarakat

Jalur trayek yang dilayani oleh SK adalah termasuk jalur menengah, dengan tiga trayek :
Trayek terbanyak yakni : Surabaya – Sidoarjo – Mojokerto – Jombang – Nganjuk – Madiun – Maospati (Magetan) – Ngawi – Sragen – Palur (Karanganyar) – Solo – Klaten – Yogyakarta;
Surabaya – Solo – Sukoharjo – Wonogiri;
Surabaya – Solo – Boyolali – Salatiga – Semarang;

Trayek Surabaya – Yogyakarta sebagai trayek utama, untuk kelas ekonomi dilayani bersama oleh dua perusahaan, yakni Sumber Kencono / Sumber Selamat dan Mira. Dengan wilayah yang dilalui mencapai belasan kabupaten / kota, otomatis modus tranportasi ini bisa menjadi andalan masyarakat yang bepergian menggunakan angkutan umum di jalur ini. Apalagi tujuan akhirnya adalah kota besar, yakni Surabaya dan Yogyakarta dengan tujuan antara Solo dan Madiun. Surabaya dengan pusat ekonomi, pendidikan, dan kesehatan di wilayah timur, Yogyakarta sebagai pusat budaya dan pendidikan di wilayah tengah, Solo sebagai kekuatan ekonomi, budaya dan pendidikan, serta Madiun sebagai kota menengah yang menjadi titik hubung dengan kota-kota di sekitarnya.

Di trayek ini juga terdapat beberapa irisan dengan trayek bus besar yang lain, di antaranya : Surabaya – Kediri – Tulungagung – Trenggalek, Surabaya – Madiun – Ponorogo – Pacitan, Surabaya – Madiun – Magetan, Sragen – Solo, Solo – Yogyakarta, serta trayek panjang Surabaya – Yogyakarta – Cilacap.

Sementara trayek ke arah Wonogiri juga beririsan dengan bus Solo – Wonogiri dan Solo – Wonogiri – Pacitan. Adapun ke arah Semarang juga beririsan dengan bus jurusan Solo – Semarang.

Di wilayah trayek Jawa Tengah khususnya, bus dari Jawa Timur dibatasi jam operasi dan daerah pengambilan penumpangnya. Ini demi menciptakan sebuah persaingan yang fair dengan bus trayek pendek yang beririsan. Beberapa kali di penghujung tahun 90-an / awal 2000, terjadi kericuhan di wilayah Jawa Tengah karena belum ditaatinya kode etik ini. Akibatnya, beberapa bus pendatang dirusak. Untunglah ini tidak berlangsung lama setelah disepakati solusinya.

2.    Jumlah Armada Banyak

Permintaan pasar akan transportasi yang melalui kota-kota tersebut yang sangat besar, memerlukan jumlah armada yang mencukupi, dan beroperasi 24 jam. Grup usaha Sumber Kencono mengoperasikan armada sejumlah 230 unit. Jauh lebih banyak dibandingkan rivalnya, PO Mira yang berada di kisaran seratus bawah.

Dengan jumlah armada sebanyak itu dan beroperasi 24 jam, bila dihitung rata-rata, maka tiap 6 menit 16 detik lewat satu buah bus Sumber Kencono. Atau bila dikombinasi dengan PO Mira yang 100-an unit, tiap 4 menit 22 detik lewat satu bus Sumber Kencono atau Mira. Ini bisa dibandingkan dengan keberadaan Busway yang di koridor paling ramaipun bisa molor hingga setengah jam lebih setiap harinya.

3.    Tarif Transparan dan Adil

Penggunaan karcis sebagai bukti pembayaran penumpang memang sudah lama digunakan dalam transportasi bus. Namun, sekitar 15 tahun terakhir sistem itu mulai menghilang dengan munculnya sistem setoran. Angkutan bus besar di Jawa Timur, hingga kini mayoritas masih mempertahankan sistem itu karena pendapatan yang didapatkan oleh pengusaha berdasarkan karcis yang dijual. Tentunya ini harus didukung sistem kontrol yang ketat. Sumber Kencono, sebagai salah satu operator angkutan juga menggunakan sistem ini.

Penumpang, dalam hal pembayaran tarif hanya membayar sesuai jarak dari mana berangkat dan di mana akan turun. Harganyapun sudah dipatok resmi oleh perusahaan dan diawasi ketat batas atas-bawahnya oleh Departemen Perhubungan. Sebagai contoh, bila kita naik dari Surabaya dan turun di Perak Jombang, tarifnya berbeda dengan bila kita turun di Kertosono Nganjuk, meskipun hanya terpaut jarak sekitar 10 km saja. Beda tarif Rp. 500 pun akan dikembalikan oleh Kondektur.

Ini berbeda halnya dengan bus di wilayah propinsi lain yang gradasi tarifnya antara kota yang berdekatan sangat jauh berbeda dan jarang menggunakan karcis serta terkesan tawar-menawar, mahal, bahkan tidak fair.

Untuk menjaga loyalitas penumpang, armada ini juga mengeluarkan sistem Kartu Langganan yang biasa disebut KL yang bila ditunjukkan sebelum membayar mendapatkan potongan di kisaran Rp. 2 ribu. Anggota TNI dan Polri yang naik dan berseragam juga mendapatkan potongan tarif istimewa sebesar 50 %.

4.    Ketepatan Waktu menjadi Andalan

Sebenarnya ini adalah faktor utama mengapa masyarakat masih percaya menggunakan armada ini. Meskipun sebenarnya ukuran waktu adalah sesuatu yang relatif, apalagi mengingat kondisi jalan raya yang terkadang tidak bisa diduga, serta banyaknya faktor rintangan yang dilalui. Namun, Sumber Kencono mencoba memberikan solusi pelayanan meminimalkan waktu tempuh dengan mengoptimalkan kondisi jalan dan lalu-lintas yang ada. Contohnya, adalah meminimalkan parkir ngetem yang tidak perlu. Rute Surabaya – Yogyakarta, bus hanya berhenti di terminal Madiun selama maksimal 20 menit untuk memberi kesempatan awak bus makan minum secukupnya. Selain itu relatif tidak berhenti lama. Terkadang ada bus yang berhenti di terminal Nganjuk, dan bila sudah berhenti di sini, biasanya di Madiun tidak berhenti lama. Tidak digunakannya sistem setoran juga meminimalkan waktu berhenti ngetem ini.

Bus lain yang beririsan dengan trayek Sumber Kencono tidak seketat ini jadwalnya. Contohnya untuk rute Surabaya – Kediri – Trenggalek, paman saya yang berdomisili di Surabaya dan mengajar di Trenggalek selalu menggunakan Sumber Kencono dan pindah bus di Kertosono daripada menggunakan bus langsung Surabaya – Trenggalek karena lebih cepat. Bahkan, secara umum masyarakat masih beranggapan kecepatan menjadi diutamakan dibandingkan dengan kenyamanan khususnya bila mengejar waktu. “Sing penting cepet tekan.” Begitu kira-kira yang ada di benak masyarakat.

Optimalisasi waktu yang lainnya, adalah bus hanya mengisi bahan bakar ketika penumpang sudah diturunkan di terminal. Bila bus sedang berisi, betapa banyak waktu penumpang yang ikut tersita pada saat mengisi bahan bakar ini.

5.    Armada Sangat Prima

Usia bus yang dioperasikan Sumber Kencono semakin ke sini semakin muda. Tentu semua mafhum bila semakin berusia, kehandalan sebuah kendaraan menurun serta memerlukan biaya perawatan yang tidak sedikit. Dari beberapa kali perbincangan dengan pengurus maupun kru SK, diperoleh info bahwa maksimal usia bis adalah 5 tahun. Dan secara bertahap diperbarui dan dimodernkan armadanya.

Dalam periode 2008 hingga sekarang, sudah puluhan kali (mendekati seratusan) saya naik bus Sumber Kencono. Selama itu pula, tidak pernah sekalipun saya mengalami bus dalam kondisi rusak mogok. Bahkan, hanya untuk sekedar menambah tekanan angin ban saja, saya tidak pernah mengalaminya. Hanya pernah sekali mengalami kerusakan knalpot, itupun masih bisa meneruskan perjalanan hingga ke garasi dengan keterlambatan hanya sekitar setengah jam saja.

6.    Terbuka Menerima Masukan

Sepanjang saya keluyuran naik bus umum (dari tahun 1993 hingga sekarang), di kolong langit Jawa ini hanya ada satu perusahaan yang konsisten di seluruh armadanya secara terbuka dan terang-terangan menuliskan permintaan kepada penumpang yang berbunyi:

“BILA SOPIR NGEBUT / UGAL-UGALAN,

MOHON HUBUNGI : 031-8973558, 8973559 ATAU SMS 081 5510 4883”

Dan di samping tulisan besar-besar itu, juga terdapat nomor polisi bus yang bersangkutan. Tulisan ini berada di atas dashboard depan atau di langit-langit di atas kaca depan. Tulisan yang sama juga terdapat di karcis yang dibagikan kepada tiap penumpang. Saya juga beberapa kali memberikan masukan lewat SMS ke nomor kontak tersebut. Dan bagusnya, selalu ditanggapi tidak lebih dari 24 jam dengan ucapan terima kasih atas masukannya.

Tentunya banyak pihak yang sudah memberikan masukan kepada PO Sumber Kencono, termasuk Departemen & Dinas Perhubungan, Kepolisian, serta instansi terkait agar berubah lebih baik lagi dan sudah dilaksanakan oleh pengelola.

7.    Fasilitas Semakin Bagus

Peremajaan armada Sumber Kencono dilakukan dengan meningkatkan kualitasnya. Yang paling terlihat adalah adanya pendingin udara (Air Conditioner) di mayoritas bus. Hingga pertengahan 2009, sebenarnya jumlah armada AC Sumber Kencono masih kalah dibandingkan PO Mira. Tetapi perlahan tapi pasti, kini mayoritas armada sudah menggunakan AC. Hanya satu dua yang terlihat tanpa AC. Penumpang juga dimanjakan dengan TV LCD 21 inch lengkap dengan sound systemnya yang sering memutar lagu dangdut “Asolole”. Benar-benar merakyat. Jok kursinya juga mulus, terbuat dari kulit sintetis yang mudah dibersihkan serta terawat rapi sehingga tak ada lagi cerita jok bau apek dan kumal.

Kelengkapan keselamatan standard seperti pintu darurat di sebelah kanan belakang, palu pemecah kaca, alat pemadam api ringan (APAR) juga sudah tersedia di armada Sumber Kencono. Tidak kurang juga alat pemantau posisi dan kecepatan berupa GPS (Global Positioning System) juga sudah dipasang pada mayoritas armada untuk memonitor pergerakan dan kesemuanya dapat berimplikasi pada tindakan sanksi apabila terdapat pelanggaran.

8.    Identitas Armada dan Kru Jelas

Seluruh bus Sumber Kencono dan Sumber Selamat memiliki identifikasi yang jelas, termasuk warna cat yang seragam hingga nomor polisinya juga tercantum jelas. Bila malam hari, keberadaan bus ini dari jauh juga mudah dikenali, yakni dari billboard putih berlampu bertuliskan Sumber Kencono di atas kaca depan sehingga calon penumpang lebih mudah untuk mengenalinya.

Seragam kru bus juga demikian. Bila hingga dua tahun lalu masih menggunakan seragam khas Jawa Timur warna merah oranye, kini semua awak sudah mengenakan seragam khas warna Biru. Tidak hanya siang hari, malam haripun mereka disiplin menggunakannya. Termasuk petugas lapangan yang ada di terminal.

Di tengah maraknya kejahatan di atas kendaraan umum yang dilakukan oknum awak angkutan, disiplin ala Sumber Kencono ini sangat layak diteladani karena perusahaan yang lain tidak sedisiplin ini.

FAKTOR PENYEBAB

Memang, perilaku pengemudi menjadi faktor dominan dalam berbagai peristiwa yang terjadi. Apakah itu pengemudi bus atau pengguna jalan yang lain. Namun, di luar itu juga terdapat faktor dominan di antaranya :

1.    Jalur sempit

Kapasitas jalan sudah tidak mencukupi. Lalu lintas kendaraan termasuk truk bermuatan berat di jalur sempit membuat waktu tempuh bertambah karena harus antri dan merayap perlahan. Instansi terkait terlambat dalam mengantisipasi pertumbuhan lalu-lintas yang sangat pesat lima tahun terakhir ini. Meskipun jalan tol Surabaya – Solo sedang dalam proses pembangunan yang entah kapan selesainya, tetapi jalan raya non tol juga sudah selayaknya diperlebar sehingga minimal dapat menampung empat lajur, dua ke arah barat, dan dua ke arah timur. Jalanan menyempit ini tercatat berada di banyak titik sehingga menjadi penyumbat arus lalu lintas dan sering memicu kecelakaan. Dua kejadian fatal terakhir (Mojokerto dan Balerejo Madiun) yang melibatkan Sumber Kencono berada pada daerah penyempitan lajur.

2.    Minim Penerangan

Yang juga mengherankan, masyarakat sudah membayar biaya listrik bulanan termasuk Penerangan Jalan Umum (PJU) yang bila dijumlahkan tidak sedikit. Dari PLN, biaya ini sudah dikembalikan ke Pemda untuk dikelola (diambil marginnya) lalu dibayarkan tagihannya kepada PLN kembali. Namun sayangnya, mungkin baru sekitar 20 – 30 % saja sepanjang jalur ini yang sudah diterangi dengan penerangan jalan yang memadai di malam hari.

Kebiasaan tidak mempersiapkan kendaraan dengan baik khususnya faktor penerangan dan keterlihatan ini juga memperburuk risiko berkendara.  Apalagi modifikasi kendaraan sudah sedemikian di luar batas. Dari yang tanpa lampu depan atau belakang, hingga pemasangan lampu yang tidak sesuai dengan standard seperti penggunaan lampu yang sangat terang (berwarna putih) dan menyilaukan mata.

3.    Banyaknya Perlintasan Rel Kereta Api

Sepanjang jalur Surabaya hingga Ngawi, terdapat sekitar 9 hingga 10 perlintasan kereta api aktif yang harus dilalui. Dan yang lebih parah rel ini sejalur dengan rute jalan raya. Khususnya pada ruas Saradan Madiun hingga Bagor Nganjuk, bila berpapasan searah dengan kereta api maka kendaraan juga akan berpapasan kembali di persimpangan di depannya. Akibatnya waktu berhenti semakin lama. Selain itu, di kawasan persimpangan rel ini selain jalur menyempit, posisi rel menyerong sehingga rawan tergelincir, minim penerangan. Padahal mengingat padatnya lalu-lintas jalan raya, sudah selayaknya untuk dibangun jalan layang atau terowongan di titik-titik .

4.    Perilaku Berkendara

Cara pengguna jalan mengemudi juga mengambil peran yang signifikan dalam menentukan selamat tidaknya di di jalan raya. Pelanggaran marka, keterbatasan jarak pandang tetapi tetap memaksakan untuk menyalip, tidak menyalakan lampu depan atau sein ketika berpindah lajur juga membuat risiko meningkat drastis. Khususnya sepeda motor, sering pengendara tidak memperhatikan spion ketika akan berpindah lajur, terlalu ke tengah dan semisalnya.

5.    Waktu Istirahat Kurang

Dari beberapa kali pembicaraan, pengemudi Sumber Kencono merasa cepat lelah mengingat durasi mengemudi yang terlalu lama. Persiapan sebelum berangkat, membersihkan diri, mengurus administrasi sebelum berangkat katakanlah 30 menit. Perjalanan dari garasi di Krian ke terminal Bungurasih hingga berangkat katakanlah 30 menit. Waktu tempuh Surabaya – Yogyakarta atau Wonogiri dan Semarang rata-rata delapan jam tanpa pengganti.

Istirahat untuk keberangkatan di terminal Madiun sekitar 10-15 menit saja. Dua jam di terminal tujuan jika waktu masih memungkinkan, serta 10-15 menit di terminal Solo dalam perjalanan kembali. Sesampai di Surabaya, bus kembali ke garasi yang berjarak sekitar 15 km. Katakanlah 8 jam Surabaya – Yogya, 2 jam istirahat di Yogya, 7 Jam Yogya – Surabaya, 45 menit ke garasi termasuk mengisi bahan bakar. 30 menit untuk membersihkan diri dan makan. Total memerlukan waktu 19.5 jam. Sementara dengan siklus 24 jam, pengemudi sudah harus kembali menjalankan kendaraannya. Ada sisa waktu 4.5 jam.  Padahal, sekali jadwal mengemudi tiba, sopir bisa menjalankan kendaraan selama 6 – 10 hari. Tentu sangat diperlukan stamina yang tinggi. Padahal bila menggunakan dua pengemudi tentu kurang layak dari sisi pendapatan.

Mungkin, solusi yang cukup realistis dengan berbagai pertimbangan adalah dengan membuat mess pengemudi di terminal akhir (Yogya, Semarang, Wonogiri) dan menjadwalkan waktu istirahat minimal 4 jam. Bila memang kendaraan sudah harus kembali, pengemudinya adalah yang berselisih jadwal 2 jam sebelumnya. Sementara jam keberangkatan dari Surabaya bergeser mundur 2 jam.

Berikut ini tabel ilustrasi jadwal pengemudi :

Kelemahannya sistem ini dalam 13 hari naik mengemudi, hanya didapatkan 12 kali perjalanan pergi pulang (PP) karena satu siklus memakan waktu 26 jam. Sementara menggunakan jadwal lama tiap 24 jam satu PP. Adapun untuk kondektur dan kernet, dibuat tetap sesuai jadwal awal karena tidak diperlukan tingkat keawasan dan risiko yang sangat tinggi sebagaimana pengemudi meskipun jenis pekerjaannya termasuk berat. Adapun batasan berapa hari pengemudi akan naik mengemudi, diserahkan kepada manajemen dan pengemudi terkait.

6.    Sistem Bagi Hasil

Ada beberapa pihak yang menuding (termasuk Wagub Jawa Timur Saifullah Yusuf) bahwa sistem premi bagi hasil pendapatan kotor menjadi salah satu penyebab pengemudi mengejar waktu. Mungkin ada benarnya juga. Tetapi bila ditimbang manfaat maupun mudharatnya, akan lebih banyak manfaat untuk semua pihak. Awak bus menjadi lebih tenang baik di masa ramai penumpang ataupun di waktu sepi. Lain halnya bila menggunakan sistem setoran. Di mana penumpang harus mencapai minimal sekian persen yang seringkali baru bisa tercapai dengan ngetem lebih lama. Padahal jumlah armada di trayek ini 330 unit.

 

LANGKAH PENCEGAHAN dan PENINDAKAN

Banyak pihak sudah memperbincangkan, mendiskusikan dan merumuskan langkah-langkah nyata untuk menstandardisasi upaya pencegahan dan penindakan bila terdapat kasus-kasus semisal Sumber Kencono ini. Di antaranya adalah Pemerintah Propinsi Jawa Timur, Komisi D DPRD Jawa Timur yang membidangi transportasi, Departemen dan Dinas Perhubungan, Kepolisian Daerah Jawa Timur, hingga media maupun masyarakat yang ikut membantu atau bahkan memancing di air keruh. Langkah-langkah yang sudah diambil oleh Komisi D DPRD Jatim juga sudah cukup komprehensif, melibatkan banyak pemangku kepentingan, seperti Organda, Perusahaan, hingga pengemudi. Hingga akhirnya keluar sanksi berupa pengurangan armada sebanyak 40 % dari 230 armada yang berarti sebanyak 92 unit bus tidak beroperasi tiap harinya.

Penumpang Dirugikan

Hanya sayangnya, pihak konsumen dalam hal ini penumpang yang rutin menggunakan jasa angkutan di jalur Surabaya – Solo – Yogya, Wonogiri dan Semarang sepertinya belum pernah diajak berbicara.  Memang, keinginan penumpang sebenarnya sederhana saja, yakni sampai di tujuan dengan selamat, sebisa mungkin tepat waktu, nyaman, mudah didapat, tarif adil berimbang. Kalaulah ada bonus AC yang sejuk, hiburan, jok nyaman ya Alhamdulillah.

Kini pertanyaannya, apakah dengan pemberian sanksi pengurangan armada sebanyak 92 unit itu menyelesaikan masalah atau malah mendatangkan petaka baru, khususnya dari sisi penumpang ? Apakah pemerintah selaku regulator mampu menyediakan suplai armada yang bisa mengangkut penumpang ke tujuan ?

Jum’at malam, 6 Januari 2012, beberapa hari setelah disebutkan sanksi tersebut di media, armada bus yang berangkat dari Bungurasih menjadi langka. Ini diperparah dengan kondisi bahwa setiap malam libur (Jumat & Sabtu malam) jumlah penumpang naik drastis karena mudik mingguan. Bus yang biasanya selalu tersedia 2 – 3 armada di jalur antrian, menjadi hilang. Hingga lebih dari 30 menit menunggu dan penumpang berjubel membuat semakin tidak nyaman karena harus berebut. Padahal biasanya hal ini hanya terjadi pada waktu libur panjang akhir pekan (3 hari). Lagi-lagi penumpang dirugikan oleh regulator.

Himbauan

Saya selaku pengguna rutin jalur Surabaya – Solo – Yogyakarta mengajak kepada pihak-pihak yang terkait, apabila akan merumuskan suatu tindakan yang berdampak kepada masyarakat agar dipertimbangkan matang-matang. Kesediaan untuk merasakan langsung bagaimana pelayanan diberikan dengan menaiki bus tersebut akan lebih memberikan sense yang tidak didapat bila tidak menggunakannya secara langsung.
Contohlah Dahlan Iskan, menteri BUMN yang bersedia naik ke KRL berdesakan di gerbongnya, bahkan akan naik ke atap gerbong untuk merasakan sendiri bagaimana kualitas pelayanan KRL Jabodetabek yang akan dibenahi jajaran kementrian BUMN.

Tidak dipungkiri peran pengemudi cukup besar dalam hal ini, dan saya menghimbau pengemudi bus Sumber Kencono agar selalu hati-hati dan penuh perhitungan yang matang dalam mengemudi. Keselamatan penumpang dan anda menjadi hal yang paling utama, keluarga menunggu di rumah.

Dan kepada manajemen Sumber Kencono, agar dibenahi sikap pengemudi terlebih yang kurang matang memperhitungkan gaya mengemudi. Saya rasakan ke sini pelayanan kru sudah semakin membaik, lebih sabar dalam melayani, dan tidak terburu-buru khususnya waktu menaikturunkan penumpang. Tetap pertahankan pelayanan yang prima, dan sebisa mungkin jangan mengurangi jumlah armada yang beroperasi.

Kepada pengelola armada bus yang lain di seluruh Indonesia, contohlah hal-hal positif yang sudah dilakukan oleh Sumber Kencono. Manjakan penumpang dengan pelayanan sepenuh hati. Buatlah sistem dan tarif yang adil. (SON)

Penulis adalah Alumni Teknik Penerbangan, Institut Teknologi Bandung, tinggal di Juanda Sidoarjo, sering menggunakan bus Sumber Kencono, hobi naik bus dan ngeblog di https://mukhlason.wordpress.com.

catatan :

Baca juga tulisan saya tentang Transportasi di Jawa Timur :

https://mukhlason.wordpress.com/2009/12/27/beda-transportasi-swasta-dan-negeri/

https://mukhlason.wordpress.com/2009/08/28/transparansi-keuangan-ala-bus-jawa-timur/

https://mukhlason.wordpress.com/2009/09/15/mendambakan-kereta-api-yang-handal/

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

52 thoughts on “Belajar Kepada Sumber Kencono

  1. fery says:

    bagus sekali penjabaran-nya mas,,, memang suatu kesalahan tidak serta merta menyalahkan satu pihak, harus dilihat dari berbagai pandangan.
    kadang di satu pihak disiplin, yang lain tidak.

    mungkin juga yang punya perlu diruwat, hehehe,,,
    biar nggak apes terus

  2. mukhlason says:

    terima kasih atensinya Mas Fery. Iya, memang harus berimbang. Jika sudah tidak berimbang, mau sebanyak apapun nilai positifnya, pasti tidak diakui.

    Daripada ruwatan, jauh lebih penting membenahi penyebab2 pendukungnya, seperti melebarkan jalan, menambah penerangan, dll.

    Salam

  3. wawan/sumanto says:

    sip sip dan sip mas dengan ini itunya sumber kencono!,saya sampai ngiris membacanya.memang bener mas setiap kali kita melihat sesuatu jangan kita lihat dari satu sisi saja.karna kalau kita hanya melihat dr satu sisi pasti kita tidak bisa merasakan plus minusnya!jujur untuk dampak pengurangan armada bisa saya rasakan setiap kali mau mudik akhir pekan di terminal bungurasih sekarang jalur surabaya jogya selalu berjubel orang menunggu bis jurusan tersebut.dan jujur juga kenapa saya tau itu karna sumber kencono sudah ada di benak saya setiap kali saya mau mudik maupun balik.untuk petinggi petinggi dalam hal ini mari kita rembuk dengan semua pihak dan janganlah kita mengambil keputusan atas dasar emosional .

    • mukhlason says:

      Betul Mas Wawan, harus dipertimbangkan lebih jauh efeknya.
      Saya juga rutin menggunakan, meski tidak tiap minggu. Dan lebih senang naik Sumber Kencono karena lebih cepat.

      Semoga ini didengarkan, dibaca dan dilaksanakan pihak2 yang terkait.

  4. tambahsipae says:

    ok, memang SUMBER KENCONO, SUMBER SELAMAT, SUGENG RAHAYU rajanya trayek surabaya jogja, Bis diluar itu biasanya main oper atau ninggal diterminal, contohnyamkayak perjalanan surabaya jogja, belum sampai jogja, didaerah madiun penumpang diturunkan begitu aja, alasan, penumpang yang ke jogja dikit, gak nutut ongkos kesana, atau klo gak dioper ke bis lain, salut aku sama Sumber Group, jossss tenan, ayo pak pilot, tancap gassssssss!!!!!!!!!!!!!!!

  5. mey says:

    alhamdulillah, dapet referensi buat karya tulis🙂 terimakasih

  6. aris says:

    IY MAS, SYA memang jarang naik bis sk, tapi setiap pergi keluar kota sya pastikan naek sk, armada yang prima, keramahan kru, fasilitas bis (lagu dan ac), palu dan tabung pemadam kbkran sllu ad, adnya kartu langganan, dan ketepatan waktu, dll yg sya rasa sangat berbeda dngn yang lain, sangat jauh berbeda, sarannya hanya seragamnya mungkin dibuat berapa hari memakai batik yg modelnya tidak meninggalkan identitas sk serta desain yang sesuai dengan pekerja lapangan. mungkin 1 atau 2 hari sja….

  7. ain says:

    langganan saya bus eka

  8. adi says:

    thanks infonya, tp kurang detail pembagian hasil yang didapat antara sopir , kernet dan kondekturnya ga di jelaskan.
    kalau aku penumpang setia sumber jurusan semarang, untuk wekenan ke solo.
    soalnya cepet abis sih. 6 jam dah nyampe solo.

    salam SK Lovers

    • mukhlason says:

      Mas Adi, matur nuwun sudah mampir.
      Setahu saya, rate pembagiannya 10 % untuk pengemudi, 5.5 % untuk kondektur, dan 4.5% untuk kernet. Mohon dikoreksi bila tidak tepat.

  9. afien says:

    lebaran libur ga mas bisnya…. ???

  10. irsyad says:

    mulai jam berapa armada SK boleh menaikkan penumpang di jlan solo-jogja mas,,?

  11. Detil sekali pembahasannya.terimakasih
    Transport darat di Jawa relatif lebih bagus,lengkap,murah,cepat berkembang dibanding pulau lain di Indonesia.hanya jalan rayanya yg lambat perkembangannya.tak beriringan.
    Waduh gimana besok minggu ya,mau ke Surabaya dari Yogyakarta,uyel2an gak rebutan bus Eka?ada tips buat mendapatkan kursi Eka?

    • mukhlason says:

      makasih Mas Asam🙂 hehe.
      ya dicatat dikit2 nantinya kan jadi bahan tulisan yg banyak🙂

      Betul, negeri ini sudah terlena 20 tahun, khususnya pasca reformasi, minim pembangunan infrastruktur yang mampu menjawab permintaan kebutuhan masyarakat. tetapi daripada tidak sama sekali, lebih baik terlambat.

      Semoga ke depannya tidak hanya eker-ekeran politik saja yang dipikirkan pemerintah, maupun pendapatan dari proyek semata, tetapi pelayanan untuk masyarakat.

    • mukhlason says:

      gmn perjalanan kemarin ? dapet kursi-kah ? konon salah satu tips utk rebutan kursi, adalah dg membayar ke pedagang asongan, kasih saja 5-10 ribu utk booking kursi🙂

      • dapat tanpa perantara. 3 bus AC ekonomi sepi penumpang, 1 bus cepat Eka baru muncul setelah menunggu dari jam 5-6.30 pagi.meski agak lebih mahal orang2 rela rebutan demi kenyamanan (tanpa berhenti2, dapat makan siang dan tanpa asongan/pengamen).sudah dapet masih aja deg degan karena kata orang Eka semalam Surabaya Jogja ditempuh 11 jam, alamat ketinggalan pesawat jam 5 sore.kalau telat entah kapan lagi dapat tiket, maklum musim lebaran.Alhamdulillah Jogja-Surabaya siang itu hanya ditempuh dalam waktu 7,5 jam.beda tipis dari normal 7 jam.tak terlalu macet seperti malam sebelumnya.masih sempat 2 jam makan minum sore di singosari lounge bandara juanda.he3x. memang murah sih bis senyaman Eka ini, 88 ribu sudah termasuk tuslah lebaran. Inget bus Transnasional dari KL-Johor 2 tahun lalu yg sudah bertarif 35 ringgit (105 ribu) untuk jarak kira2 Jogja-Kertosono.

      • mukhlason says:

        mantap…
        saya minggu malam delay 4.5 jam di juanda (tp sdh dikasih tau siangnya) pake merpati. yg lain juga banyak delay termasuk garuda n citilink. untung dari magetan minggu pagi by motor, dan Alhamdulillah nggak macet. Kemarin menghindari naik SK/Mira krn khawatir penuh2 dan ternyata bener..

  12. qomar says:

    Nak iki baru bismania tenan. Salut saya. . Senang ngebis tapi juga didukung ilmu. Ora ming seneng bis tur gumunan. Wah kapan kapan pgn kopi darAt saya. Kalao perlu buat po bareng mas h h h

    • mukhlason says:

      Mas Qomar, terima kasih sudah berkenan mampir. ini bukan apa2 kok, masih banyak kawan2 yg justru bus mania tapi lebih smart. Kalo bikin PO bareng saya belum berani, wong blom ada modal, tur kabarnya untuk bertahan, sebuah PO juga cukup berdarah2, karena selain mempertahankan diri untuk pelayanannya, juga diobok2 oleh yg berwenang.

  13. putra says:

    nganjuk jogja kira2 brp mas klo naik sk?

  14. […] Berikut ini adalah keunggulan-keunggulan bus Sumber Grup (dikutip dari sini) […]

  15. frenky says:

    sayang sk banyak awu awu…

  16. […] Pak Basuki coba studi ke Jatim, di sana untuk rute bus Surabaya – Solo – Yogya, beroperasi selama 24 jam penuh, dan interval bus-nya paling lama bila siang hari adalah 2 – 5 menit, kalo malam hari paling lama tiap 15 menit. Bus AC tarif Ekonomi, nyaman, cepat dan armadanya baru-baru semua, padahal full swasta. Merknya Sumber Kencono dan Mira. Silahkan klik tulisan saya : – https://mukhlason.wordpress.com/2012/01/12/naik-busway-sudah-tidak-nyaman/https://mukhlason.wordpress.com/2012/01/14/belajar-kepada-sumber-kencono/ […]

  17. pakde_moxer says:

    mantapz ulasanx.saya hidup di terminal & skrng jd pelaut sll menggunakan bus setiap cuti kerja,SK bis ekonomi layan prima. saya kliling jawa sumatra kalimantan tarif yg paling seportif adalah armda dr JAWATIMUR. (jkt-cirebon)Luragung, bhineka,setya negara, warga baru, dedy jaya, sinar jaya playanan minimal tarif maximal. (jkt-merak) hiba/laju utama arimbi grup pelanyan ga menuasak. Dan yg paling utama NGETEMx ga ketungan,

  18. barlin says:

    SUMBER KENCONO, ARMADAMU SGT DI KENAL DI PULAU JAWA
    maju dan terus perbaiki untuk kepentingan org banyak dan selalu hati hati di jalan yang kami harapkan.
    thankz mz

  19. faizal ahmad says:

    jadi kangen gan ane naek sk….bener2 jos gan sopir kru serta pelayanan.nya gannnnn

  20. sangat – sangat obyektif Mas Mukhlason ini…., meski sdh lama g naik SK (terakhir 2009 an mungkin) tapi bagi saya SK memang lebih dari sekedar PO….
    Salut Mas …

    • mukhlason says:

      makasih Mas Agoess🙂
      matur nuwun sudah mampir.
      saya yakin, di negara manapun di bumi ini gak ada trayek bis 24 jam non stop seperti jalur Surabaya – Solo – Yogya yg intervalnya sangat ketat🙂

  21. surabaya – nganjuk kisaran berapa ?

  22. pram says:

    Om mohon info jarak tempuh maospati – solo kira kira2 berapa lama ya?
    Sekalian tarif nya om
    Thanks..

  23. Ansanj Haze says:

    mas numpang tanya dong klo dari madiun ke sidoardjo ada ga yah??
    tepat nya dari terminal madiun saya mau ke sun city mall sidoardjo.
    jam berapa ya mas dari madiun ?
    kepengen nya sih abis magrib ada ga yah..
    mohon info ya mas..

    • mukhlason says:

      dari madiun ke Surabaya aja, turun di terminal bungurasih. 24 jam ada terus.
      lalu sambung dengan ELF dari dalam terminal bungur ke arah sidoarjo. setahuku juga 24 jam.

  24. panji says:

    bhasan nya sangat mendetail saya juga pengguna bus sk sr dan ss n sya jga mania nya… sya baru tau kli ini
    sungguh postingan yang sangat bermanfaat bagi semua pengguna jalan

  25. dion says:

    malam takbir masih ber operasi gak pak??

  26. winona.seza says:

    kalau dari madiun ke solo, berhentinya dimana aja min?
    mohon bantuannya.. ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: