cerita mondok – Hukuman Gundul


Berawal dari ngobrol ngalor-ngidul dengan Adlil Umarat, akhirnya bismillah saya coba mulai tulisan ini.

Menjalani pendidikan 24 jam di pesantren selama 3 tahun membuat semakin kaya akan pengalaman sehari-hari. Dari yang biasa-biasa saja, hingga yang luar biasa. Konyol, unik, membuat mangkel, sedih, lucu. Semua bercampur aduk menjadi satu.

Pesan saya, ambillah sisi positifnya dan contoh, sementara sisi negatifnya buang saja dan jangan dipikirkan lagi. Karena itulah warna-warni hidup, ada yang terang, ada juga yang gelap.

Mulai edisi ini, secara bertahap akan dituliskan pengalaman waktu mondok, nyantri mencari ilmu bersama ribuan kawan-kawan dari segenap penjuru negeri. Kami juga mengharapkan sumbangan tulisan dari kawan-kawan yang pernah mondok atau bersimpati maupun antipati dengan dunia pondok pesantren. Selamat menikmati.

Hukuman Gundul

Di pondok, hukuman yang lazim untuk membuat efek jera bagi pelanggaran kelas sedang menuju berat adalah dengan dicukur gundul untuk santri laki-laki. Penyebab digundul bermacam-macam. Dari masalah klasik berupa merokok, lompat pagar, keluar tanpa izin, pacaran dengan santriwati, mencuri, dan pelanggaran kelas berat menengah.

Untuk pelanggaran yang sudah mengakibatkan kerugian pada orang lain seperti mencuri, sebelum digundul, pelaku juga dihukum dengan hukuman lain. Ada yang dipukul, ditendang. Wajah biru-biru pun sebenarnya sudah biasa bagi pelakunya. Ini juga tergantung benda yang dicuri. Tetapi kadang, meski bendanya tidak terlalu bernilai atau bahkan belum terbukti maupun belum ada pengakuan, layaknya perlakuan aparat keamanan di negeri ini, tindakan kekerasan juga tetap dilakukan. Sebuah tindakan yang tidak layak ditiru, termasuk pelanggarannya.

Untuk urusan lompat pagar, biasanya terjadi pada remaja-remaja yang baru tumbuh pesat keberaniannya untuk mengimprovisasi dirinya. Penggodanya adalah menonton bioskop, main bilyard, pulang ke rumah, hingga janjian dengan pacar di luar pondok. Waktunya juga tidak tentu, yang jelas memanfaatkan saat-saat lengah, baik ramai maupun sepi. Entah itu siang hari atau malam hari. Uniknya, ada saja kawan-kawan yang tertangkap tangan sedang memanjat pagar karena di luar sudah ditunggu oleh ustadz pengasuh yang langsung mencekal ybs. Kapokmu kapan hayoo..

Kalau sudah begini, pengurus bagian keamanan yang biasanya terdiri dari santri kelas 2 dan kelas 1 MA/SMA turun tangan. Mereka memajang pelaku pelanggaran yang akan digundul ini di depan GOR setelah waktu sholat untuk dicukur plontos. Entah malu atau tidak, yang jelas pada saat itu seluruh santri putra maupun putri diperbolehkan menyaksikan proses penggundulan tersebut.

Kapok digundul ? Belum tentu lha wong buktinya banyak pelaku yang merupakan residivis pelanggaran-pelanggaran sebelumnya yang juga pernah divonis gundul.

Tagged , , , , , , , ,

2 thoughts on “cerita mondok – Hukuman Gundul

  1. elfi15 says:

    wahaha,, benar juga,, kadang hukum gundul itu sendiri g memberikan efek yang begitu berpengaruh pada si pelaku kak

  2. mukhlason says:

    betul, semua tergantung pada manusianya kok.
    Kadang malah digundul itu seger loh di kepala, semriwing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: