Motor dan Perjalanan Madiun – Surabaya


Lama tidak nulis blog, ternyata gatel juga. Maklum, wira-wiri Surabaya – Jakarta dari tengah Juni kemarin jadi membuyarkan semua angan-angan.

Ceritanya, motor yang sudah berusia 5 tahun (beli bekas) sudah mengalami penurunan kinerja. Karena setelah dihitung-hitung resiko perawatan ke depannya dan unjuk kerja si motor pertama ini, akhirnya berkeputusan dijual saja. Padahal baru setahun mutasi ke Sidoarjo dari Jakarta dan habis sejuta lebih serta ribet banget birokrasinya.

Dari salah satu penjual motor second dekat rumah, diberilah harga 5.5 juta. Masih mending dibanding tempat lain yang hanya menawar 5 juta. Dengan berbagai pertimbangan, keputusan motor pengganti jatuh ke Jupiter MX yang harga barunya 16 juta lebih. Memang terasa mahal, tetapi untuk sebuah alasan menghindari resiko perawatan apa boleh buat. Motor dibeli di Madiun untuk mempermudah penggunaan ketika musim mudik dan beberapa alasan lain.

Kembali ke judul, mengendarai motor jalur ramai nan padat Madiun – Surabaya memerlukan beberapa trik khusus. Ini berdasarkan pengalaman pribadi hari selasa 27/sept/2011 kemarin. Setelah motor diservis pertama sejak pembelian, perjalanan ke surabaya dimulai jam 09.34. Pastikan juga untuk selalu menyalakan lampu utama karena sudah beberapa waktu terakhir ini razia polisi terhadap motor yang tidak menyalakan lampu semakin diperketat.

Alhamdulillah sepanjang jalan cukup lancar, karena didukung jalanan yang tidak terlalu ramai. Dan ingat, menyusuri jalur ini usahakan motor selalu di lajur kiri sambil tetap waspada pada kondisi jalan (berlobang atau tidak), serta kendaraan yang searah maupun berlawanan.

Ada sekitar 8 persimpangan rel kereta api yang bila kita bertemu satu kereta yang searah, bisa jadi di persimpangan depannya bakalan ketemu lagi. Ini dimulai dari perbatasan Caruban – Saradan.

Waspadai juga lajur yang menyempit sehingga kendaraan tidak bisa menyalip. Yang perlu menjadikan awas, di jalur ini terkadang ada pengguna jalan yang tidak sabar sehingga menyalip mengorbankan lajur kendaraan lawan yang secara ukuran lebih kecil.

Memasuki daerah kabupaten Nganjuk, sejak hutan jati Wilangan, Bagor, Nganjuk kota, Baron, hingga Kertosono Mengkreng, hal berbahaya lagi yang harus menjadi perhatian adalah kuatnya hembusan angin dari samping. Menggunakan motor yang sudah terbilang berat dengan bobot tubuh yang juga tidak ringan saja masih oleng meliuk-liuk
mempertahankan keseimbangan dan kestabilan berkendara.

Selepas Nganjuk, masuk wilayah Jombang, angin samping sudah lumayan minor. Namun lalu lintas yang ramai tetap harus diwaspadai hingga masuk Mojokerto. Terlebih di Mojokerto terdapat beberapa sempitan jalan berbelok. Masuk wilayah sidoarjo, jumlah kendaraan naik drastis terutama kendaraan industri. Jadi harus tetap waspada dan tetap berada di lajur kiri.

Dengan satu kali beristirahat di Perak Jombang, jam 12.50 saya sudah sampai di kawasan Juanda, Sidoarjo. Lumayan melelahkan untuk jarak 205 km, tetapi menjadikan semakin percaya diri dan berani untuk menempuh jalur tersebut.

6 thoughts on “Motor dan Perjalanan Madiun – Surabaya

  1. Sri Muawana says:

    ternyata aktifnya disini..apa kabar mas???

  2. rudik says:

    saya Jakarta Pacitan Jakarta sudah 3 kali Pak, single seater…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: