Sebuah Pengantar, Korupsi dan Mafia di Kabupaten Pacitan


Oleh : M Ari Mukhlason & Aswika Budhi Arfandy

Mengapa Kabupaten Pacitan? Ada apa di daerah terpencil ini? Kabupaten yang terletak di ujung selatan barat Provinsi Jawa Timur ini namanya mulai menasional ketika Presiden Republik Indonesia ke-enam, lahir di sini. Namun, sejak dikenalnya daerah ini, perkembangan demi perkembangan mulai terjadi di Pacitan.

Puncak terjadinya perkembangan itu ketika mulai berkuasanya bupati Sujono, yang notabene dipilih karena politik restu dari perkumpulan warga Pacitan di Jakarta. Yang dalam hal ini, Sujono dan Presiden SBY menjadi anggota komunitas ini.

Dimulai tahun 2005, pembangunan demi pembangunan level nasional pun dimulai. Bumi Pacitan sedikit demi sedikit, dikeruk. Mulai yang bersampul pabrik tambang, hingga pembebasan lahan Jalur Lintas Selatan (JLS) oleh Tim 9 yang diketuai Sekretaris Daerah, Mulyono yang tidak sesuai dengan Hak Azasi Manusia.

Untuk itu, dari buku ini, para penulis seakan mencoba memaparkan, beragam permasalahan yang ada di bumi kelahiran Presiden SBY. Terutama menitikberatkan pada penyelewengan-penyelewengan yang terjadi pada masyarakat dengan tokoh utama pemerintah daerah beserta kroni-kroninya.

Memang, tidak ada daerah tanpa ada permasalahan. Begitupun di Pacitan. Beberapa permasalahan yang ada, ada yang berupa warisan, ada pula yang buatan baru. Tetapi entah kenapa, pembangunan yang seharusnya positif dengan latar belakang bumi SBY ini justru dirusak ’’penjahat-penjahat’’ bahkan mafia-mafia yang berkedok ibarat serigala berbulu domba. Apalagi mampu memberikan pengaruh pada tatanan wilayah, lingkungan, dan sosial kemasyarakatan Pacitan.

Dasar sosiologis masyarakat Pacitan yang cenderung menerima apa adanya, pekerja keras, santun, menghormati tamu, ramah, murah senyum, jujur, lugu, baik hati, tidak sombong, tidak iri atau dengki ini ternyata malah dimanfaatkan oleh pendatang-pendatang yang tidak tahu diri.

Akibatnya, dasar tantangan kehidupan di Pacitan yang sudah sangat berat selama ini (dari kontur alamnya hingga keterbatasan air), menjadi semakin parah dengan adanya ketidakadilan yang dibuat oleh para pendatang penjahat tersebut.

Memang, tidak semua pendatang bersifat jahat dan tidak pula penduduk asli semuanya baik. Namun, kejahatan-kejahatan tersebut didominasi dan diciptakan oleh penjahat kambuhan dari luar Pacitan. Yang melihat wilayah ini begitu mudah ditaklukkan melalui tameng peraturan pemerintah atau peraturan legal formal yang bahkan sudah dilangkahi dan dikangkangi.

Kesan yang ada selama ini, pendatang ’’penjahat’’ tersebut seolah-olah meremehkan kemampuan masyarakat Pacitan yang dianggap karena keterpencilan wilayah, keterbatasan akses transportasi dan informasi, menjadikan warga bodoh-bodoh dan mudah dibodohi. Tetapi, ternyata semua anggapan itu mulai salah dan malah menjadi bumerang untuk para penjahat dan mafia tersebut.

Pacitan, Riwayatmu Kini…

Menyebut Pacitan, tampaknya ada dua istilah yang terbesit di pikiran. SBY dan terpencil. Memang, tanah kelahiran presiden keenam Republik Indonesia ini, tak bisa jauh dari anggapan terpencil, tandus dan serbakekeringan. Namun, kondisi tersebut, membuat semangat kekeluargaan masyarakatnya kian tinggi. Bahkan, penyakit-penyakit nyleneh yang terkait dengan kelaparan, seperti busung lapar, jarang sekali menjangkiti masyarakat pesisir ini. Meski begitu, tak sedikit beberapa kekurangan-kekurangan yang melanda daerah ini.

1. Akses Transportasi Serbaminim

Di Pacitan, akses ke wilayah pelosok-pelosok cukup sulit dan berat. Meski, apabila dijangkau dari luar kota, Pacitan memang sudah masuk kategori pelosok. Kontur Pacitan dapat dipastikan lebih dari 90 pesen pegunungan. Itu terlihat dengan pola pembangunan jalan yang mengikuti alur yang landai. Sebagai konsekuensi keterjangkauan wilayah yang begitu rendah.

Tak hanya itu, sulitnya akses transportasi juga dibuktikan dengan sarana transportasi umum yang ada. Ambil contoh, untuk angkutan umum semisal bus pun sangat terbatas. Dan mobilitas angkutan umum pun terjadi hanya pada siang hari. Dan sebaliknya, menjelang malam, sudah tidak ada akses transportasi massa yang berjalan.

Seiring kemajuan zama, keadaan itu menjadi lahan basah bagi pengusaha travel. Untungnya, melihat minimnya akses transportasi malam ini tidak dimanfaatkan si pengusaha. Itu terbukti dengan tarif travel yang relatif terjangkau. Meski, apabila dikalkulasi, jumlahnya adalah dua kali lipat dari tarif angkutan umum kebanyakan. (Selengkapnya diuraikan dalam bab infrastruktur)

2. Infrastruktur Jalan Serbaminim

Di Pacitan, jumlah ruas jalan yang ada dapat dikategorikan sangat terbatas. Kualitasnya pun juga sangat memprihatinkan. Kalaupun ada proyek perkerasan jalan baru, hanya difokuskan di kota dan sekitarnya. Sementara daerah pedalaman minim tersentuh program ini. Meski, saat ini tengah ada pembangunan megaproyek Jalur Lintas Selatan yang menghubungkan wilayah Jawa Tengah dan Jogjakarta ke Pacitan, tapi tak sedikit jalur luar kota lainnya kondisinya sangat memprihatinkan.

Seperti di jalur utara misalnya. Akses jalan Pacitan menuju Surabaya yang melewati Kabupaten Ponorogo. Berdasarkan pengamatan, pola perbaikan jalan menuju pusat pemerintahan provinsi ini hanya dilakukan secara tambal sulam. Ada lubang, ditambal. Kalaupun diblok dengan aspal baru, termasuk sedikit pelebaran jalan, kondisi jalan mulus itupun dapat dipastikan tak berlangsung lama. Apalagi, adanya pembangunan megaproyek PLTU Jatim 1 di Kecamatan Sudimoro, seluruh akses transportasi pengangkut material proyek, melewati jalur ini.

Sehingga, keadaan itu membuat kian hancurnya kondisi jalur utara. Dan itu menjadi sangat kontras dari perhatian pemerintah. Apalagi, itu baru kondisi akses jalan provinsi yang minim perhatian. Belum lagi akses jalur antarkecamatan, antardesa, hingga antardusun. (Selengkapnya diuraikan dalam bab infrastruktur)

3. Kesan Buangan Bila Bertugas di Pacitan

Di Pacitan, apabila seorang pejabat atau aparat dari luar Pacitan, tentu selalu ada kesan ’’dibuang’’ jika mendapat tugas dinas di Pacitan. Pasalnya, kesan itu muncul lantaran kondisi Pacitan yang memang terpencil. Jauh dari ingar bingar kota besar. Bahkan, akses untuk menuju Pacitan pun juga sangat sulit dijangkau. Dengan jalur yang notabene berkelok-kelok, untuk sekadar naik angkutan umum seperti bus, yang tidak terbiasa, bisa dipastikan mabuk darat. Itu sebabnya, kesan pejabat ’’buangan’’ itu seringkali dialamatkan kepada pejabat dari luar Pacitan yang mendapat mandat atasannya untuk bertugas di Pacitan.

4. Publikasi Media yang Minim

Di Pacitan, jarang sekali berita yang bisa dijual level nasional. Kalaupun ada, biasanya tak lepas dari unsur Presiden SBY. Entah kondisi keluarganya, entah kondisi bangunan tempat kelahirannya.

Keadaan ini seakan menjadi hal yang menyebabkan ’’terkotaknya’’ posisi kerja wartawan. Dengan kondisi Pacitan yang kota kecil, sekali saja membuat berita fakta yang berbau kontradiktif, pekerja media itu bisa dengan mudah dikecam sang narasumber.

Dampaknya, beberapa Densus 86 antitekor (sebutan wartawan bodrek, Red) bisa leluasa beraksi di Pacitan. Sehingga, beberapa informasi yang tersampaikan ke publik, seringkali kurang berimbang.

Namun, keadaan itu juga tak semuanya menimpa wartawan. Keadaan itu juga mampu mendidik pekerja media untuk semakin meneguhkan idealismenya.

5. Maraknya Permainan Hukum

Di Pacitan, di tengah krisis penegakan hukum, keadilan justru menjadi barang mahal. Apalagi, masyarakat Pacitan yang notabene buta hukum, dapat dengan mudah diombang-ambingkan ketika secuil saja berbuat melanggar hukum. Dengan baju dan kuasa yang dimiliki penegak hukum, masyarakat dengan mudah bisa dipermainkan. Celakanya, tak hanya itu, pejabat pun tak jarang yang seringkali memanfaatkan jabatannya untuk mengejar untung perutnya dengan mengatasnamakan hukum.

Itu belum lagi beberapa kasus-kasus titipan semacam kriminalisasi. Meski, pembuktian kasus titipan ini, pembuktiannya sangat rumit. (Selengkapnya diuraikan dalam bab ukum dan kriminalisasi).

6. Kontrol Sosial yang Sangat Minim

Di Pacitan, lemahnya kontrol sosial tak hanya dari kinerja wartawannya. Tetapi, sekelas DPRD pun juga masih tergolong lemah. Apalagi, mayoritas wakil rakyat diisi oleh figur yang jarang berani menyuarakan perbedaan terhadap penguasa. Apalagi bila sudah berasal dari koalisi. Meski dalam teorinya, koalisi diperlukan sebagai upaya menjamin sinergitas eksekutif-legislatif.

Minimnya kontrol tersebut sangat kentara ketika terdapat hal-hal negatif, terutama dari penguasa perlu dikoreksi. Fungsi kontrol sebagai kepanjangan tangan masyarakat ini seolah menjadi tumpul. Toh beberapa figur yang menjadi wakil rakyat juga jarang yang memiliki basic leadership yang mumpuni. Karena ada yang memiliki basic pengusaha, penggangguran terstruktur (pensiunan, Red), hingga broker mobil bekas.

Tak hanya itu, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang ada pun juga jarang menyuarakan pergerakannya. Apalagi, banyak kesan yang menuding bahwa LSM hanya sebagai kedok untuk mencari proyek sekelas tender pengadaan barang. Ketika kalah tender, sorotan-sorotan pun mulai digencarkan. Dan sebaliknya, ketika mendapat tender, keberanian itu seolah mati suri. Meski, ibarat ayam bertelur, dari sepuluh telur yang dihasilkan, tak semuanya kopyor (mati membusuk, Red). Artinya, tak semua keadaan itu bisa digebyah-uyah kepada semua unsur lembaga kontrol tersebut.

7. Masyarakat yang Kritis Pilih ke Luar Daerah

Di Pacitan, tampaknya sejak nenek moyang, sumber daya manusianya ditakdirkan menjadi pengelana. Bahkan, dari zaman pra kemerdekaan, banyak warga yang merantau ke luar daerah. Bahkan hingga ke luar negeri. Hampir semuanya diniatkan untuk mencari taraf kehidupan yang lebih baik. Maklum, tantangan bagi masyarakat Pacitan, selain berupa tantangan dari diri sendiri untuk melawan segala macam kemalasan, tantangan itu berasal dari alam lingkungan di sekitarnya. Dengan kontur 90 persen lebih berbukit, kapur, serta kondisi air yang minim, menjadikan tanaman pangan cukup sulit tumbuh di Pacitan.

Sebenarnya, SDM Pacitan tidaklah kalah dengan daerah lain. Terbukti, dari banyaknya warga Pacitan yang merantau dan mengadu nasib ke luar daerah, tidak sedikit yang menorehkan prestasi membanggakan. Termasuk beberapa nama yang saat ini menjadi tokoh nasional dan memiliki hubungan batin dengan Pacitan. Contohnya kecilnya adalah sebagai berikut :

7.1 Bidang Agama

a. Kyai Yahudo alias Mbah Yahudo

Namanya mungkin kurang dikenal di belantika nasional. Tetapi, beliau yang hidup di jaman Pangeran Diponegoro ini, menghabiskan sisa usianya hingga wafat di Nogosari, Ngadirojo, Pacitan dan dimakamkan di sana. Menurut legenda yang beredar, beliau adalah salah satu prajurit Diponegoro yang melarikan diri ketika Diponegoro sudah ditangkap oleh Belanda. Salah satu istrinya adalah putri dari keraton Solo yang diboyong ke Pacitan. Mbah Yahudo ini menurunkan banyak generasi yang merupakan pemuka agama, baik di lingkup Pacitan maupun lingkup Jawa Timur seperti KH Abdul Masyir atau yang biasa dikenal sebagai Mbah Mesir di Durenan, Trenggalek yang setiap haulnya dirayakan dengan sangat meriah dan khidmat. Sejumlah pendiri pondok pesantren besar di Jatim, seperti Lirboyo, Jampes, dan Ploso pernah “berguru” kepada Mbah Mesir.

b. Syeikh Mahfuz At-Tarmasi

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi. Populer disebut Syekh Mahfudz Tremas. Beliau merupakan ulama Jawa paling berpengaruh pada zamannya. Lahir di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Pacitan, pada 12 Jumadil Ula 1285 H/31 Agustus 1868 M, dan bermukim di Makkah sampai beliau wafat pada 1 Rajab 1338 H/ 20 Mei 1920 M. Mahfudz amat berjasa dalam memperluas cakupan ilmu-ilmu yang dipelajari di pesantren-pesantren Jawa, termasuk hadits dan ushul fiqh.

Sejarah hidup beliau dapat ditemukan dalam karya-karyanya. Seperti Kitab Muhibah zil Fadhli jilid keempat dikatakan bahwa beliau pada masa mudanya banyak menimba ilmu kepada ayahnya sendiri, Syaikh Abdullah bin Abdul Mannan at-Tarmasi. Dari ayahnya beliau mempelajari Syarh al-Ghayah li Ibni Qasim al-Ghuzza, al-Manhaj al-Qawim, Fat-h al-Mu’in, Fath al-Wahhab, Syarh Syarqawi `ala al-Hikam dan sebagian Tafsir al-Jalalain hingga sampai Surat Yunus. Beliau pada masanya juga pernah menjadi salah satu imam Masjidil Haram di Makkah serta masjid Nabawi di Madinah Arab Saudi.

7.2 Bidang Birokrasi, Politik, dan Militer

a. Tentunya Presiden Dr H Susilo Bambang Yudhoyono, MA

Sosok ini lahir di Pacitan, 9 September 1949. Setelah menamatkan pendidikan dasar hingga menengahnya di Pacitan, sosok satu ini merantau untuk menjadi siswa Akabri. Bahkan, tahun 1973, dia dinobatkan sebagai lulusan terbaik Akabri Darat. Tak hanya itu, beliau merupakan seorang ilmuwan teruji. Meraih gelar Master in Management dari Webster University, Amerika Serikat tahun 1991. Lanjutan studinya berlangsung di Institut Pertanian Bogor. Dan tahun 2004 meraih Doktor Ekonomi Pertanian. Tak berhenti di situ, tahun 2005, beliau memperoleh anugerah dua Doctor Honoris Causa. Masing-masing dari almamaternya Webster University untuk ilmu hukum, dan dari Thammasat University di Thailand ilmu politik.

b. Prof Dr Haryono Suyono

Sosok satu ini lahir di Pacitan, 6 Mei 1938. Beliau merupaka Menko Kesra Kabinet Reformasi Pembangunan. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang terkenal dengan program Keluarga Berencana (KB) di era Presiden Soeharto. Semasa kecilnya, beliau diasuh kedua orang tuanya, Bapak Alimoeso dan Ibu Padmirah Alimoeso. Ayahnya adalah seorang guru SD yang kemudian berpindah-pindah dari satu desa pegunungan ke desa pegunungan lainnya di kawasan Pacitan. Karena itu, semasa kecil beliau banyak diasuh oleh ibunya yang ulet. Yang mendidik anak-anaknya kerja keras dengan membuka warung kecil keperluan sehari-hari bagi keluarga sekitar rumahnya di kawasan Kelurahan Pucangsewu, Kecamatan Kota Pacitan.

d. Bambang Dwi Hartono

Sosok ini lahir di Desa Tegalombo, Kecamatan Tegalombo, Pacitan pada 24 Juli 1961. Sejak 28 September 2010 lalu hingga lima tahun ke depan, dia resmi dilantik sebagai Wakil Wali Kota Surabaya, mendampingi Tri Rismaharini yang menjadi wali kota. Sebelumnya sosok satu ini pernah menjabat sebagai Wali Kota Surabaya sejak tahun 2002 hingga 2010 (dua periode). Dulunya dia pernah menjabat sebagai wakil Wali Kota Surabaya selama dua tahun. Bambang dikenal pula sebagai Ketua Umum Persebaya Surabaya hingga 29 September 2005.

e. Budi Hardjono

Sosok satu ini lahir di Pacitan, 3 September 1939. Dan meninggal di Jakarta, 4 September 2003 pada usia 64 tahun. Dia merupakan seorang politikus asal Indonesia yang juga ketua umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Politikus kelahiran Pacitan, yang masih aktif di dunia kepartaian sampai tutup usia ini, meninggal karena stroke yang dideritanya sejak 19 Agustus 2003. Jenazahnya dimakamkan di Blora, Jawa Tengah. Dia meninggalkan seorang istri, Wido Retno dan dua anak, yakni Amelia Diatri dan Ari Tuanggoro serta satu menantu, H Andredan.

e. Jenderal Suweno, almarhum

Mantan Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) ini berasal dari Ngadirojo, Pacitan. Istrinya, Inten, adalah mantan menteri Sosial pada masa kabinet Presiden Soeharto.

e. Hadisubeno

Tokoh politik nasionalis senior ini lahir di Ngadirojo / Lorok tahun 1912. Terpilih sebagai ketua umum Partai Nasional Indonesia – PNI setelah partai ini mengalami perpecahan dengan berafiliasi kepada garis kiri – komunis dan kanan nasionalis. Hadi Subeno memimpin PNI yang berafiliasi pada kubu nasionalis pada tahun 1970, melalui kongres di Semarang. Mantan Walikota Semarang dan Kepala Daerah Jawa Tengah ini mengawali karier politiknya pada waktu mahasiswa. Memimpin perkumpulan pemuda di Cirebon, duduk dalam kepengurusan Indonesia Muda di Semarang. Tahun 1946 menjadi ketua cabang PNI Pekalongan, wakil komisariat PNI Jawa Tengah (1950), Ketua DPD PNI Jawa Tengah (1953). Beliau juga merupakan mertua dari Suryadi, ketua Partai Demokrasi Indonesia masa orde baru. Tokoh yang terkenal dengan semboyan “Sepuluh Soeharto tidak bisa menandingi satu Soekarno” ini meninggal tahun 1971 di sebuah rumah sakit di Semarang.

7.3 Bidang Perjuangan

Abdullah Anshori

Mengawali karir pergerakannya semasa masih menjadi pelajar di Pacitan. Mantan ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Pacitan ini tercatat memulai kiprahnya dalam wilayah yang lebih luas, menggalang berbagai forum diskusi antar mahasiswa di Jawa Timur, semenjak terjadinya fusi partai politik, termasuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan gabungan dari berbagai macam parpol Islam. Sosok yang konsisten mengkritisi jalannya kehidupan bernegara ini mengedepankan perlunya proporsi pembagian dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat di Indonesia dalam berbagai bidang, politik, ekonomi, sosial, maupun kebudayaan. Adanya ketimpangan proporsi ini menjadikan situasi kenegaraan lambat laun akan destruktif, merusak. Untuk itu, perlu dibentuk tatanan politik yang mencerminkan kehidupan yang nasionalis religius Islam.

Kiprahnya dalam mengkritisi pemerintah, di antaranya penerapan Pancasila sebagai asas tunggal, Dwi Fungsi ABRI yang kebablasan, hingga militerisasi masyarakat sipil dan kehidupan berpolitik yang dikuasai oleh satu golongan besar / single majority. Terakhir, beliau digolongkan dengan sebutan Ekor Kambing / EKa (sebuah istilah yang biasa di dunia intelejen Orde Baru untuk memberikan label pada orang-orang yang konsisten memperjuangkan agama) dan dipenjara selama kurang lebih sembilan tahun di LP Cipinang, dikaitkan oleh penguasa orde baru dalam kasus Tanjung Priok 1984.

Menilik perkembangan politik di masa reformasi setelah Kongres Umat Islam November 1998, yaitu dengan semakin pecahnya umat dalam bidang politik dan askari, Anshori mengundurkan diri dari hingar bingar dunia pergerakan, madheg pandhito.

7.4 Bidang Profesional Medis

a. Dr dr Basuki Bambang Purnomo, Sp U

Sejak 1 Oktober 2010 lalu, sosok satu ini resmi tercatat sebagai direktur RSUP Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang. Jabatan sebelumnya adalah Wakil Direktur bidang Pelayanan dan Medik di rumah sakit yang sama. Di bidang akademik, Basuki pernah menjadi Ketua Jurusan / Departemen Kedokteran, Fakultas Kedokteran Univ. Brawijaya Malang. Ibunya lahir di Dusun Klepu, Desa Losari, Kecamatan Tulakan, Pacitan. Bahkan hingga saat ini, hubungan batin dokter spesialis urologi ini tak pernah bisa lepas dengan Pacitan. Termasuk dengan saudara-saudaranya di kampung, tempat bermainnya kala kecil dulu.

b. dr. Soedarso

Nama dokter ini mungkin asing di Pacitan, namun tak asing di telinga masyarakat Kalimantan Barat. Namanya diabadikan di sebuah rumah sakit propinsi dengan sebutan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso. Penghargaan itu diberikan atas pengabdian dan jasa dokter kelahiran Pacitan tahun 1906 pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan yang memperjuangkan kepentingan masyarakat Kalbar. Beliau masuk Kalbar pada tahun 1938. Dan dari usulan dia jugalah, Kalbar akhirnya diterima menjadi sebuah provinsi pada tahun 1957.

c. H Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H MARS

Sejak tahun 2003, beliau menjabat sebagai Direktur RSU Dr Sutomo Surabaya. Namun sebenarnya, awal karir beliau dimulai di Pacitan. Yakni sebagai kepala salah satu puskesmas di Pacitan sejak tahun 1980-1986 serta Kasi P2M Dinkes Pacitan sejak 1984-1986.

7.5 Bidang Bisnis & Pendidikan

Abdullah Marzuki dan Siti Aminah

Pasangan suami istri ini merupakan The Founding Father PT Tiga Serangkai Inti Corpora, sebuah perusahaan percetakan buku ternama yang berdiri di Kota Surakarta. Semua mengenal sosok ini sebagai mantan guru yang berasal dari Padi dan Losari, Tulakan, Pacitan. Selain Tiga Serangkai, Abdullah juga mendirikan pesantren modern Assalaam sejak awal 1980-an di Pabelan, Kartasura, Surakarta yang memiliki santri ribuan orang yang berasal dari seluruh penjuru tanah air dan beberapa dari manca negara. Adanya grup Tiga Serangkai dan Pesantren Assalaam cukup memberi akses lahan pekerjaan bagi masyarakat Pacitan. Betapa banyak karyawan yang berasal dari Pacitan direkrut.

7.6 Bidang Pendidikan

a. Prof(lb). Imam Barnadib, MA., Ph.D (alm).

Tokoh Filsafat Pendidikan, Filsafat Ilmu dan Pendidikan Perbandingan (Komparatif) ini adalah kelahiran Tulakan, Pacitan pada 01-09-1930. Beliau mendapatkan beberapa penghargaan atas karya nyatanya selama ini, antara lain, Satyalancana Karya Satya Kelas I dari Presiden RI – 1984, Bintang Gerilya – 1965, Founders’ Day Award (Sebagai Mahasiswa Berprestasi), New York University – 1974, Medali Perjuangan Angkatan 1945, HUT RI Ke 50, DHN Angkatan 1945, 1995. Publikasi karya bukunya ada lima buah, yang rata-rata membedah tentang filsafat pendidikan. Karir yang pernah dilalui antara lain menjadi Rektor IKIP Yogyakarta sejak April 1974 hingga akhir Pebruari 1979 dan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah V, mulai April 1979 hingga akhir Mei 1982. Guru Besar pada Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Yogyakarta ini wafat pada Kamis 26 Agustus 2010 setelah sempat dirawat di RS Jogja International Hospital. Almarhum meninggalkan seorang istri dan lima orang anak.

b. Prof Dr Bambang Setiaji, MS

Pria jangkung, berpembawaan kalem, tenang penuh wibawa ini sarat prestasi. Saat ini, beliau menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta. Beliau Lahir di Kecamatan Tulakan, Pacitan pada 24 Desember 1956. SD hingga SMP nya ditempuh di tanah kelahirannya itu, yang notabene kecamatan terpencil, sekitar 26 kilometer dari pusat Kota Pacitan. Dan, baru hijrah ke Kecamatan Kota setelah menapaki bangku SMA. Barulah ketika kuliah S1 ditekuninya di Kota Solo tepatnya di Universitas Sebelas Maret (UNS). Karena di Pacitan pada waktu itu belum ada perguruan tinggi.

c. Prof Dr Tatik Suryani, MM

Tokoh satu ini merupakan guru besar pertama yang juga Ketua STIE Perbanas Surabaya. Pengukuhan guru besarnya diselenggarakan pada 21 Juni 2008. Judul orasi ilmiahnya adalah Pengembangan Orientasi Pasar dalam Praktik Pemasaran. Pengukuhannya sekaligus membawa pengalaman tersendiri bagi STIE Perbanas Surabaya. Pasalnya acara ini baru pertama kali digelar di kampus bisnis dan perbankan ini. Dan yang terpenting, beliau lahir di Pacitan, 25 April 1966.

7.7 Bidang Olahraga

Fandi Ahmad

Tokoh satu ini memang lahir di Singapura 29 Mei 1962. Namun, kakek dan neneknya (orang tua Ahmad Wartam, ayah Fandi Ahmad) adalah orang asli Kebonagung Pacitan. Fandi merupakan seorang pelatih dan mantan pemain sepak bola asal Singapura. Ia mulai melatih Pelita Jaya Purwakarta di Indonesia sejak musim 2007 dan dikontrak selama tiga tahun. Sepanjang karirnya sebagai pemain, Fandi sukses bermain di Eropa dan Asia serta pernah menjadi kapten tim nasional sepak bola Singapura. Di Eropa ia pernah bermain di Piala UEFA. Oleh banyak orang ia dianggap sebagai pemain sepak bola terbaik Singapura. Posisinya sebagai pemain adalah penyerang. Tak hanya itu, dia tampil lebih dari 100 kali dalam tim nasional.

Tentunya, masih banyak lagi tokoh-tokoh bangsa ini yang lahir dan memiliki hubungan batin cukup kuat dengan Pacitan. Seperti yang juga dilansir di situs jejaring sosial grup SMAN 1 Pacitan. Seperti Irjen Pol Rubani (Mabes Polri), Ir Sutarto Ali Moeso (Dirjen Tanaman Pangan Deptan), Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M.Sc (Universitas Malang), Prof Dr Ayu Sutarto, MA (Dosen Unej), Dr Rahayu Hartini, SH, M.Si, M.Hum (Dosen Fakultas Hukum UMM), Dr Muntaminah (Dosen UII), Dr Sukesi (Dosen Unitomo Surabaya), Dr Eny Budi Setiyani (Staf di Departemen Kelautan), serta Ahmadi Agung (Pelukis terkenal dari bahan antik). Edy Wirabhumi, mantan bakal calon walikota Solo tahun 2010 yang juga suami Gusti Mung (GRAy Moertiyah), juga adalah warga kelahiran Nawangan, Pacitan.

Bahkan di negeri Singapura, salah satu warga keturunan Pacitan menjadi ketua MUIS – Majelis Ugama Islam Singapura, majelis ulamanya Singapura.

Setidaknya, beberapa nama di atas sudah menjadi salah satu contoh kecil, bagaimana semangat yang terbangun dari seseorang yang pernah mengembuskan nafas di Pacitan.

8. Warga Tidak Anti Kemajuan

Di Pacitan, meski berada di daerah terpencil, namun masyarakatnya tidak anti kemajuan. Terbukti, banyak sekali contoh pembebasan lahan hak milik masyarakat untuk prasarana umum yang tidak menimbulkan konflik. Meski, dalam pembebasannya tidak mendapatkan ganti yang setimpal atau hingga tidak diganti sama sekali. Itu menunjukkan betapa ikhlasnya masyarakat terhadap harta benda dan tanahnya demi mendukung terbangunnya kemajuan di Pacitan. Namun, di balik itu, ada faktor keadilan, dan keseimbangan perlakuan terhadap warga yang terkena imbas yang selalu kontradiktif dengan sikap pemerintah. (Selengkapnya diuraikan dalam bab Jalur Lintas Selatan)

Uraian tersebut setidaknya mampu menggambarkan, bagaimana luar biasanya Pacitan. Dengan posisi demografi daerah yang terpencil, namun mampu membuahkan beberapa hal yang tergolong luar biasa. Sayangnya, banyak mafia dengan wajah tak berdosa, bermukim di bumi kelahiran SBY ini. Terutama tumbuh suburnya beberapa kejahatan-kejahatan struktural hingga permasalahan korupsi.

Selain itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pacitan juga sempat defisit hampir Rp 40 miliar. Itu seakan kontras dengan pembangunan-pembangunan yang ada, yang sebagian harus bermasalah dengan masyarakatnya. Ironisnya, permasalahan itu muncul seiring dengan tidak dipenuhinya hak-hak yang seharusnya menjadi milik masyarakat.

Selanjutnya, buku ini mencoba mengurai, bagaimana benang kusut mafia yang ada di Pacitan. Termasuk berbagai permasalahan yang menjadi buntut dari permasalahan tersebut. Satu persatu bab, mencoba mengupas secara umum, beberapa permasalahan yang ada. Termasuk bagaimana pemberitaan dari media yang ada. Tentunya, sebagai pengungkapan fakta, isi tiap-tiap bab dititikberatkan pada informasi dari media. Termasuk beberapa data primer pendukung lainnya.

Sebelum memasuki inti sesungguhnya buku ini, ada salah satu kalimat yang juga imbauan bagi pemimpin baru yang awal 2011 ini akan memimpin bumi kelahiran SBY ini. Kalimat itu pernah ditulis di baliho Joko Sudibyo, salah seorang bakal calon bupati Pacitan yang gagal maju lantaran tidak mendapat rekomendasi dari Partai Demokrat. ’’Ojo Apik Wektu Butuh, Lali Wektu Lungguh.’’ Dan jika di indonesiakan, jangan hanya berbuat baik waktu membutuhkan (dukungan rakyat), dan melupakan (rakyat) manakala sudah duduk dan berkuasa. (son/wka)

7 thoughts on “Sebuah Pengantar, Korupsi dan Mafia di Kabupaten Pacitan

  1. a says:

    siapa aja yang koropsi di pacitan kasih hukuman mati aja biar kapok dan ngak berakar deh

  2. infiltrate the system lawan tirani dipacitan, contohnya el john dan kaki tangannya dan manusia pacitan yang sok belain el john tu.🙂

  3. nanang says:

    saya rasa keberhasilan tokoh tokoh yang disebut tuh bukan didapat dari pacitan tapi dari kota kota besar walaupun mereka lahir di pacitan,mental orang pacitan yang sabar dan telaten yang membuat mereka bisa diterima dan mungkin juga dimanfaatkan oleh atasannya ,rata rata jiwa perlawanan orang pacitan sangat lemah ketika berhadapan dengan penguasa ,dan satu hal yang sering saya ketahui orang pacitan tuh kalau ama atasan atau orang yang membayarnya setia minta ampun ,tapi ketika mendapatkan jabatan puncak maka mereka suka mempersulit dan adigung serta jobrio.dan di tempat saya orang pacitan terkenal ngegem lek diwenehi gelem tapi lek menehi angel. ini fakta yang saya dapat setelah saya bersama dan berteman dengan beberapa orang pacitan asli .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: