Perjalanan Menemukan Penerbit – Gurita Pacitan


Unpredictable, unbelieveable.
Itulah yang kusematkan pada proses pencarian penerbit / percetakan yang mau menerbitkan kumpulan tulisan tentang dunia perkorupsian di Pacitan.

Dengan niat hati menyampaikan /syiar dalam rangka penyadaran masyarakat akan bahayanya tindak pidana korupsi dan semakin berbahayanya tindakan tersebut bila dibiarkan, kami, anak-anak muda Pacitan bertekad bulat membuat sebuah kumpulan tulsan yang syukur-syukur nantinya bisa menjadi buku.

Singkat cerita, setelah kumpulan tulisan dalam berbagai bab / bahasan tersebut kami anggap jadi, lalu kami susun secara sistematis, kami tulis daftar isi, kami mintakan kata pengantar kepada pihak-pihak yang bersimpati, siapapun itu. Alhamdulillah kata pengantar sudah ada dan siap tampil. Edisi hard copy print out pun dicetak satu-persatu, untuk dijadikan pegangan kira-kira bentuknya buku tersebut akan serupa demikian.

Mulailah ajang pencarian pihak-pihak yang kemungkinan mau mencetak buku tersebut. Dari percetakan biasa yang kita harus memiliki modal sendiri, dengan budget minimal Rp. 30an ribu /eksemplar dan minim 1000 eks, kami merasa, kok mahal amat ya. Sementara bila mencetak satuan, jatuhan harganya sangat mahal, mendekati 100ribu. Arggggghh, mana kami sanggup orang-orang kere ini.

Mengevaluasi hal ini, sepertinya kami harus mencari cara lain, sambil harap-harap cemas karena seiring berjalannya waktu, perkembangan kasus-kasus korupsi tersebut juga semakin asyik dan sulit dipegang buntutnya.

Mulailah kami kontak-kontak penerbit, dari yang paling dekat, yakni JP Books, dari telepon, lalu kami datangi ke sana, dan kami beri tinggalan hard copy serta berikutnya kami kirimkan soft copy lengkap. Karena keputusan tidak bisa diambil sepihak dan spontan, kami harus sabar menunggu, apalagi toh kami tidak memiliki kewenangan untuk memaksa menerbitkan. Memangnya penerbitane mbahe dhewe, hehe..

Satu dua hingga lima hari kami kawal naskah tersebut, sembari berharap ada kabar gembira berupa keputusan oke diterbitkan. Namun sayang, memasuki minggu ke-dua, ke-tiga, dst, kabar masih sumir, belum jelas. Kami sempat putus asa mengingat beban ini, karya ini, sudah dibela-belani untuk mengalahkan kegiatan tadarusan 30 juz di bulan Ramadhan, yang biasanya minimal khatam 1 kali, menjadi hanya sampai surah Al-Baqarah. Itupun sudah ngoyo setengah mati. Ini saya lakukan karena yakin, bahwasanya iqoomatul haqq, menegakkan kebenaran, menyuarakan kebenaran, bagaimanapun caranya, lewat media apapun, adalah sebuah perjuangan yang Allah SWT pasti mencatat. Doakan tetap selalu ikhlas, tanpa pamrih.

Kami belum menyerah.

Kata pengantar, biografi nara sumber dan penyusun, serta daftar isipun kami sebar ke mana2. Ke segala penerbit. Dari tumpukan buku-buku di lemari, satu-persatu saya bongkar, saya cari alamat email masing-masing penerbit, meskipun ada juga cara mudah, yakni dengan mencari lewat mbah Google di internet. Namun, saya yakin melalui buku yang sudah ada, cara tersebut akan efektif juga.

Dengan pengalaman spamming email, layaknya dulu ketika awal-awal jualan buku sewaktu masih menjadi buruh pabrik sepatu, satu-satu alamat email yang sudah saya dapat tersebut saya kirimi materi pdf berisikan kata pengantar, biografi penulis dan nara sumber, serta daftar isi buku. Tidak mudah memang, karena harus telaten dan sabar. Hasilnya, saya perkirakan 30% email tersebut mental dengan berbagai sebab, ada yang alamat email tidak dikenal, mailbox overquota, dan lain-lain. 65% sampai ke alamat tetapi tidak ada balasan, dan hanya ada sekitar lima balasan dengan beberapa media, baik email, maupun telepon. Sebuah perjuangan luar biasa.

Alhamdulillah, di antara sekian banyak, masih ada yang berminat, masih menghubungi dan berdiskusi baik panjang maupun pendek.

Akhirnya Datang Juga Harapan Itu

Dari sekian pihak yang mengontak ulang, dengan pengalaman kami yang nihil di dunia penerbitan naskah buku, kami diminta untuk mengirimkan materi buku yang lebih lengkap. Pertama kami kirim file pdf, namun setelah diterima, ternyata malah meminta versi word. Kami sempat memikirkan beberapa kemungkinan. Namun, demi sebuah syiar, dan berlindung di balik kata syiar itu, Bismillah, kami tidak lagi ragu untuk mengirimkannya. Meskipun kami belum pernah bertemu sebelumnya.

Sehari, dua, hingga beberapa hari, kami menghubungi kembali untuk menanyakan perkembangan naskah. Ternyata, naskah diterima dengan sangat baik, bahkan setelah dinilai oleh tim editor, kami mendapatkan lagi masukan untuk menambahkan materi supaya kasus korupsi yang disebutkan di buku menjadi lebih nasional, tidak hanya berskala Pacitan yang hanya seukuran bathok kelapa.

Dus, meski kami sempat sesumbar bisa selesai bab tambahan tersebut dalam satu malam, kami tidak mau gegabah mengingat bobot materi korupsi tersebut harus nasional, dan layak terbit, layak baca, dan layak pasar. Dalam seminggu, kami kejar-kejaran, mencari ide, menambah materi, mencari ke sana ke mari, menelepon sumber-sumber penting yang kemungkinan mengetahui harus bagaimana buku tersebut berisi.

Alhamdulillah, dengan dibantu kecanggihan teknologi digital dunia maya dan jaringan, mbah google bersaudara mempermudah langkah kami untuk melakukan verifikasi data awal yang sudah kami dapatkan. Masuk minggu ke-dua, Alhamdulillah materi sudah cukup lengkap, dan masuk dalam proses editing penulis. Hingga di akhir minggu kedua, naskah sudah selesai semua, lalu kami satukan menjadi file buku yang siap dikirim dan diedit oleh penerbit. Dalam beberapa jam, naskah buku sudah bisa terkirim dan langsung diterima oleh penerbit.

Singkat cerita, meskipun dengan waktu tunggu yang tidak sebentar (total mencapai 6 bulan), Buku itu akhirnya terbit juga. Menjadi sebuah hiburan dan kebanggaan di tengah minimnya empati dan simpati terhadap kebobrokan birokratis nan sistematis di tanah Pacitan. Meskipun simpati itu datangnya dari luar, tidak apa-apa.

Cetak dan Terbit

Pertengahan April, sepulang dari 3 kali ke Kendari, kabar gembira itu akhirnya muncul juga. Penerbit yang diwakili oleh Direkturnya, menanyakan kapan bisa mengambil royalti yang berupa buku. Pilihan royalti berupa tersebut ternyata diapresiasi positif oleh pihak penerbit karena meringankan cash flow yang mereka keluarkan. Di awal negosiasi yang hanya via telepon, kami ditawari beberapa opsi royalti, namun demi sebuah kemudahan dan syiar, kami memilih yang paling ringan untuk penerbit yang sudah berbaik hati menerima naskah kami.

Akhirnya, 108 eksemplar buku sudah kupegang di tangan, diiringi perasaan haru, bahwa ternyata ada yang masih berempati terhadap kami, meskipun yang mengalami kasus sendiri tidak yakin dengan bisa munculnya buku tersebut. Di tengah malam buta, datanglah penulis 2 untuk mengambil sebuah karya eksistensinya dalam dunia tulis-menulis. Sebuah pencapaian yang jarang terjadi, katanya.

Efek Sampingan

Sayangnya, di kalangan internal partai yang kadernya dibela sedemikan rupa, munculnya buku ini kurang ditanggapi positif. Indikatornya ada beberapa macam yang tidak bisa disebutkan satu-persatu di sini.
Namun, kami hanya mengambil positifnya belaka. Bahwasanya diperlukan upaya penyadaran untuk masyarakat, Pacitan khususnya, dan Indonesia pada umumnya, bahwa peran aktif masyarakat untuk mengoreksi segala tindak-tanduk birokrat yang tidak benar itu harus dimulai dari diri sendiri.

Dan khususnya untuk masyarakat Pacitan, bahwa permasalahan tersebut adanya di dalam lingkungan Pacitan, sehingga penyelesaiannya juga harus dari dalam Pacitan, bukan dari luar. tapi itu semua terserah warga pacitan menyikapinya (SON).

catatan :
tulisan ini sudah saya siapkan lama, tetapi belum sempat diterbitkan. Dan baru dilengkapi beberapa saat yang lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: