Belajar Total dari Dokumen Tender


Sudah lama saya ingin menulis tentang ini, tetapi sepertinya baru kelakon untuk memulainya saat ini. Temanya adalah mempelajari sebuah “sistem teknis yang utuh” secara menyeluruh. Contoh dari “sistem teknis yang utuh” di antaranya : pesawat terbang, dan pembangkit listrik. Namun tidak terbatas dari situ saja, melainkan juga bisa diturunkan ke sub-sistem yang lebih kecil.

Aktivitas ini saya lakukan sejak masih kuliah. Dimulai dari mata kuliah wajib “Perancangan Pesawat”, seluruh bidang harus dikoordinasikan, disatukan menjadi sebuah kesatuan yang utuh, saling terkait, dan saling melengkapi. Debutan pertama adalah pada tugas wajib kelompok untuk merancang sebuah pesawat terbang dengan persyaratan khusus jarak jelajah cukup jauh (lintas benua), irit, muat penumpang banyak tetapi tidak kebanyakan.

Dosennya adalah Pak Rais Zain, pria asal Jatim yang membagi kami ke beberapa kelompok dengan jumlah 5-6 orang. Alhamdulillah, sedari awal kelompok kami sangat solid dan tidak ada satupun yang memble sehingga ritme tetap terjaga. Ada Indra Lingga, Abdul Azis, Ahmad, Arief Suhariyono, M Syaifudin dan saya sendiri.

Masing-masing diberi tugas pada disiplin yang berbeda. Ada yang membuat v-n diagram, matching cart, potatoe diagram yang oleh Pak Rais diplesetkan menjadi diagram telo, aerodinamika, aircraft performance, struktur airframe, layout kursi dan beban, menggambar, hingga desain kokpit yang mempermudah pilot dan kopilot melihat di sekitarnya. Saya sendiri ditugasi membuat kalkulasi diameter strut landing gear, volume tangki bahan bakar yang ada di dalam sayap, serta yang satu lagi lupa. Maklum, sudah hampir sepuluh tahun silam.

Dan satu lagi, tugas saya yang tidak kalah berat, adalah sebagai integrator atas semua sub-sistem tersebut. Saya katakan berat karena harus menyeragamkan bahasa laporan kawan-kawan tersebut dalam satu kesatuan yang utuh, saling melengkapi dan tidak terpisahkan. Banyak koreksi redaksional di sana-sini yang musti dilakukan agar diperoleh laporan yang baik. Dan tentunya jam kerja yang saya perlukan lebih banyak dibanding kawan-kawan, karena saat kawan2 sudah selesai, justru saya baru mulai bekerja.

Pengalaman menyatukan berbagai sub-disiplin ilmu penerbangan ini membuat saya lebih bisa memahami akan arti sebuah kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan. Dan siapa sangka, ini berlanjut hingga di dunia pasca kuliah.

Masuk tempat kerja yang sekarang, di bulan Oktober 2007 silam, langsung disodori dokumen tender untuk pembangkit listrik tenaga uap. Mau tidak mau, saya harus membaca semua dokumen yang terdiri dari beberapa buku dan tebal-tebal tersebut. Dari dokumen teknis hingga administrasi. Memang administrasi belum menjadi perhatian utama, tetapi tetap saja ada yang berkaitan dengan hal teknis, seperti garansi unjuk kerja yang mengikat dan memberi efek pinalti pembayaran, dan semisalnya.

Dokumen teknis, dibagi menjadi empat kelompok besar dari disiplin ilmunya, yakni bidang sipil, mekanikal, listrik, dan juga instrumen kendali. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: