Satu Per Satu PKS Terbongkar, Apa Lagi yang Berikutnya ?


Ternyata, kader-kader PKS yang bercokol di DPP sudah mulai ketahuan, sudah mulai terlihat siapa figur aslinya. Ya, split personality, kepribadian ganda yang membingungkan simpatisan mulai terkuak.

Tidak heran bila banyak dari kalangan politisi sendiri yang melihat bahwa PKS adalah sebuah kumpulan massa / organisasi yang seperti kehilangan jatidiri, kehilangan ruh. Pasalnya, dalam cita-cita yang diperjuangkan, sudah melenceng. Mungkin anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya, secara tertulis tidak. Tetapi, dalam pelaksanaannya, bisa diamati dari beberapa kasus yang muncul ke permukaan.

Maka, tidaklah mengherankan, bila memang terdapat dua faksi dalam PKS, yakni faksi Keadilan, dan satu sisi Faksi Sejahtera. Tentu, faksi keadilan ini adalah diisi oleh orang-orang yang masih berharap PKS bisa berperan mengkoreksi kehidupan berbangsa bernegara dan
berpemerintahan yang sudah melenceng jauh.

Tidak heran pula bila faksi keadilan, dalam memperjuangkan ruhnya untuk membela masyarakat (ini masih ada beberapa gelintir orang), tidak lagi mendapat simpati (atau kalo ini terlalu kasar, tidak terlalu menarik untuk dibantu, dibela mati-matian / habis-habisan).

Merunut pernyataan salah satu politisi yang jumlah suara partainya lebih kecil dari PKS, disebutkan partai PKS ini kurang militan dalam membela kader-kadernya, kurang strategi, dan secara tersirat belum mempersiapkan diri untuk menyiapkan tim advokasi yang canggih, maton, dan menguasai lobi baik hukum di dalam sistem peradilan maupun di luar peradilan.

Ini sangat berkebalikan katakanlah dengan partai yang jelas-jelas kadernya bersalah, namun tetap dibela habis-habisan bahkan oleh tim pembela yang berkualitas tinggi, (Sebut saja Golkar dengan Muladi, mantan Menteri Kehakiman yang diturunkan untuk membela kader golkar bermasalah dalam kasus suap dewan gubernur Bank Indonesia).

Padahal, bila memang PKS itu berkeinginan berperan positif dalam mengkoreksi tindakan tercela yang ada di negeri ini, pasti, sudah menjadi sunnatullah, bahwa akan bergesekan dengan pihak-pihak yang terganggu kepentingannya, sehingga memicu perlawanan secara
sistematis, khususnya menggunakan alat-alat negara atau lobi hukum. Sehingga sudah sewajarnya bila PKS memiliki tim advokasi yang mumpuni.

Namun, ternyata, semakin ke sini semakin berbeda. Entahlah. Mungkin, bila menyitir tulisan salah satu kawan bila dihitung dengan deret hitung, urutan nomor pemilu PK dan PKS berurut, dari 24, menjadi 16, lalu 8, dan mungkin berikutnya adalah 0, alias ditinggalkan
simpatisannya.

Apakah ini sebuah pertanda para elit politik PKS belum / tidak siap dengan dukungan yang mengalir semakin banyak, sehingga kehilangan orientasi jati dirinya ?

pemilih nomor 24, 16, dan 8. Entah berikutnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: