Perjalanan Laut : Kendari – Raha – Bau Bau (Buton)


Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya tentang perjalanan laut di Sulawesi Tenggara, tepatnya dari kota Kendari – Raha (Ibukota Kabupaten Muna) – Bau Bau (Kotamadya, di Pulau Buton). Foto-foto bisa dilihat di blog : http://donesia.wordpress.com

Saya melakukan perjalan ini pada hari Sabtu dan Minggu kemarin. Sebagai pekerja proyek PLTU yang sedang mengerjakan proyek di tepi laut Soropia Konawe, dan kebetulan memiliki saudara di Bau Bau, saya memanfaatkan secuil waktu untuk berkunjung ke sana. Karena kebetulan kawan-kawan proyek juga ada yang berasal dari Bau Bau, sehingga banyak referensi untuk menempuh perjalanan ke sana.


Sekilas Perjalanan
Perjalanan laut Kendari – Bau Bau ditempuh selama 5 jam penuh. Itu sudah termasuk singgah sebentar (5 s/d 15 menit, tergantung ramai tidaknya penumpang yang naik / turun) di pelabuhan Raha untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Tarif kapal cepat berkisar di Rp. 122 ribu (biasa), dan Rp. 150-an ribu (VIP) dan ditambah tarif masuk pelabuhan Kendari Rp. 4 ribu. Tarif ini bila kita bandingkan dengan perjalanan darat di daerah Jawa, sepertinya termasuk mahal. Sebagai perimbangan, bila rute Surabaya – Solo – Yogya menggunakan bus AC Eksekutif, perjalanan selama 7 jam lebih hanya menghabiskan biaya Rp. 63 ribu, sudah mendapatkan makan dan air putih di tengah perjalanan.

Dengan kecepatan penuh di kisaran 45 km/jam atau sekitar 24 knots (1 nautical mil / mil laut = 1.85325 km), perkiraan jarak yang ditempuh sekitar 220 km (sudah diperhitungkan waktu singgah). Atau bila di jawa timur, ini seimbang dengan jarak Surabaya – Sragen (jawa tengah). Kapasitas kapal cepat yang terbuat dari fiber glass ini sekitar 300 orang, dengan kelas ekonomi sekitar 260 kursi (di lantai dasar), VIP sekitar 40-an kursi (di lantai tengah, belakang ruang kemudi). Di geladak kapal, bisa pula ditempati, dan merupakan tempat favorit untuk mendapatkan pemandangan alam di sekitar rute pelayaran. Kapal ini dilengkapi dengan empat sekoci, pelampung yang jumlahnya mungkin sesuai dengan jumlah penumpang, serta empat buah toilet. Terdapat pula kantin yang menjual minuman, mie dan beberapa makanan ringan.

Jadwal keberangkatan kapal, dalam sehari ada dua kali pemberangkatan. Yakni jam 07.30 dan jam 12.30, baik dari Kendari maupun Bau Bau. Jumlah kapal yang berangkat pada jadwal normal adalah tiga kapal yang berangkat bersama-sama. Namun, kemarin saya hanya mendapati dua kapal yang berangkat, dan satu kapal sewaktu perjalanan pulang dari Bau-bau ke Kendari.

Pemandangan alam, seperti sudah saya singgung sedikit, menurut saya adalah salah satu pemandangan terbaik di Indonesia, meski saya belum pernah keliling ke daerah lain (mungkin skoring yang naif :D). Pemberian peringkat ini menurut saya karena beberapa faktor, di antaranya : pemandangan yang memang bagus, pulau-pulau karang, pemukiman dan arsitektur rumah panggung kayu tradisional di sepanjang pantai dan masih alami; ombak yang cukup kecil (kisaran 20 cm saja) dan bahkan ibarat telaga; kanan-kiri hutan hijau royo-royo masih perawan dan bertebing karang tinggi. Juga adanya rute perjalanan kapal di pagi dan siang hari sehingga leluasa berburu pemandangan; alat transportasi yang cukup nyaman, bisa duduk di dek atas mencari angin maupun berburu obyek fotografi; dan juga tarif yang cukup terjangkau. Serta, bagi yang belum terbiasa di atas laut, lima jam pelayaran saya pikir masih logis dan menyenangkan. Getaran akibat gelombang saya rasakan masih lebih lembut dibandingkan perjalanan darat luar kota, meskipun itu di tanah Jawa.

Perjalanan Dimulai
Kapal bergerak jam 07.38 WITA, terlambat beberapa menit dari jadwal. Keluar dari pelabuhan Kendari yang berada di Teluk Kendari, kita akan disuguhi pemandangan rumah-rumah tradisional, gugusan karang dan beberapa lansekap modern yang terlihat alami menyatu dengan asrinya pemandangan di sekitarnya. Sekeluarnya dari teluk Kendari, hanya sebentar terpapar laut lepas (Laut Banda), kita akan diapit pulau-pulau yang akan melindungi dari ombak yang biasa terdapat di laut. Sementara di sebelah barat, adalah daratan Sulawesi (sekitar daerah Moramo Kab Konawe Selatan) dengan teluk yang cukup tenang, asri, serta hijau. Terdapat pula pemukiman di pinggir pantai.

30 menit lepas dari pelabuhan Kendari, kita dimanjakan dengan hutan perawan daratan Konawe Selatan (daratan Sulawesi). Saya jadi teringat film Jurrasic Park di mana para pemainnya sedang terjun payung ke pulau tersebut. Rute kapal hanya sekitar 200 meter saja dari pinggir daratan. Ini karena perairan di sini termasuk laut dalam.

Masih dengan pemandangan yang sama di sisi kanan, mendekati 1 jam perjalan, di sebelah kiri terdapat pulau dengan penduduk tersebar di sepanjang Pantai. Tentu saja rumah-rumah yang ada masih alami dan tradisional dari kayu, berderet-deret sepanjang pantai. Jarak dari rute kapal sekitar 1 km. Tetapi masih bisa diabadikan dengan kamera. Sementara di kanan, sudah mulai melewati gugusan karang.

Lepas dari daerah ini, di kanan masih daratan Sulawesi, dan kiri masih pulau. Tetapi posisi kapal sudah cukup di tengah sehingga agak jauh dari kedua daratan. Namun ombak tentu saja masih sangat tenang. Berikutnya gugusan karang dan pulau satu persatu terlihat di kanan dan kiri kapal, dari yang berjarak dekat hingga ratusan meter. Hijaunya air di sekitar karang menunjukkan dangkalnya permukaan. Dan terdapat pula beberapa mercu suar rendah yang menjadi penanda dangkalnya permukaan air untuk kapal-kapal yang lewat.

Mendekati tiga jam perjalanan, kapal sudah hampir tiba di pelabuhan Raha. Di perairan ini kapal-kapal besar (barang maupun tanker) juga menggunakan jalur ini. Beberapa juga singgah di pelabuhan Raha. Tiba di Raha, para penumpang yang akan menuju Bau-bau sudah menunggu di dermaga. Pelabuhan Raha terletak di teluk, sehingga lansekap kota Raha yang berada di pinggir pantai terlihat jelas. Selesai menurunkan dan menaikkan penumpang, kapal segera bergerak ke arah tenggara. Perjalanan Raha – BauBau ditempuh sekitar sejam setengah lebih. Tarif Kendari – Raha Rp. 90 ribu, sedangkan Raha – Bau Bau Rp. 70 ribu.

Raha – Bau Bau
Lepas dari teluk Raha, kita segera disambut gugusan karang di kanan-kiri dan juga kapal-kapal nelayan yang sedang mencari ikan. Beberapa kali juga bertemu kapal besar yang sedang berlayar. Setelah lewat gugusan karang ini, tidak lama jarak antara pulau Muna (di sisi barat, kota Raha ada di pulau ini), dan pulau Buton (timur kapal) menjadi semakin dekat.

Di beberapa tempat di kedua sisi, terlihat lahan perairan tempat budidaya rumput laut yang dikelola masyarakat setempat. Cirinya adalah dari banyaknya pelampung seperti jerigen plastik yang diikat dengan tali sebagai penggantung rumput laut. Jumlahnya ada di banyak lokasi. Adanya budidaya rumput laut ini menurut saudara saya yang berdinas di TNI Angkatan Laut dan sering berpatroli, sudah mengurangi tingkat penggunaan bom ikan yang banyak merusak habitat laut, termasuk terumbu karang. Sebuah berkah tersendiri bagi masyarakat dan alam laut.

Sekitar 45 menit sebelum sampai di Bau-Bau, pada jarak terdekat antara pulau Buton dan pulau Muna, terdapat kabel transmisi tegangan tinggi milik PT PLN yang menyeberang pulau. Tiang transmisi berisi empat kawat ini menjadi tulang punggung suplai listrik untuk kedua pulau. Jarak kedua pulau di titik ini sekitar 500 meter saja. Tetapi masih aman dilalui kapal karena dalamnya perairan.

Lepas dari daerah ini ombak agak sedikit lebih tinggi karena di sebelah barat sudah hampir laut lepas. Selain itu, menurut beberapa penumpang kapal yang saya temui, karena arus lautnya sehingga bisa berpengaruh terhadap pelayaran. Pemandangan di kanan-kiri masih pulau Muna dan Buton. Pemukiman penduduk sudah terlihat jelas di kanan kiri.

Memasuki teluk Bau Bau, sudah terlihat kesibukan pelayaran dan pelabuhannya. Maklum, sebagai kota pelabuhan, ini adalah kota tersibuk karena merupakan titik temu ke berbagai wilayah di Indonesia bagian Timur. (saya bahas di tulisan tentang Bau-Bau Buton). Bahkan, pelabuhan ini terlihat lebih sibuk dibandingkan dengan Kendari. Tiba di Bau-Bau, jam sudah menunjukkan angka 12.30 WITA. Saatnya turun dari kapal dan melanjutkan perjalanan.

Rute Lain
Selain rute laut, Kendari – Raha – Bau Bau dapat ditempuh lewat darat. Menggunakan bus Damri yang berangkat sekitar jam 06 Wita, melalui kota Torobulu kemudian menyeberang ke pulau Muna. Kendari – Torobulu menurut salah satu penumpang memakan waktu 2 jam. Lalu menyeberang dengan feri sekitar 30 menit. Perjalanan darat berlanjut ke Raha. Dari Kendari – Torobulu – Raha ini jalanan masih bagus. Namun selewat Raha, jalanan sudah rusak parah hingga Bau Bau.
Akibatnya, bus baru sampai di Bau-Bau paling cepat maghrib. Tentu lebih melelahkan dibandingkan naik kapal.

Menilik indahnya pemandangan laut rute Kendari – Bau Bau, saya menyarakan bagi kawan-kawan yang memiliki waktu lebih dan tahan terhadap perjalanan laut yang agak lama, bila akan berlibur ke kabupaten Wakatobi sebaiknya berawal dari Kendari, lalu Bau-Bau, dan dilanjutkan ke Wakatobi. Bau-Bau ke Wanci (ibukota Wakatobi) bila menggunakan kapal kayu berpenumpang ratusan orang berangkat jam 9 malam dan tiba sekitar jam 6 pagi. Sayangnya berangkat malam hari sehingga pemandangan laut di sekitarnya tidak nampak. Semoga suatu saat saya bisa kelakon, sampai di wakatobi juga. (SON)

2 thoughts on “Perjalanan Laut : Kendari – Raha – Bau Bau (Buton)

    • waduh, mohon maaf tiketnya sudah ilang. Coba tanyakan ke telp 0401-108 penerangan telkomnya kendari, dan tanyakan no telp agen MV Sagori Ekspress (salah satu armada kapal cepat kendari-baubau). Insya Allah mereka tahu nomornya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s