Buton – Bau Bau, Ibukota Bahari Nusantara Abad 21


Dalam perjalanan singkat yang hanya singggah selama sekitar 24 jam saja, Kesan pertama yang saya dapatkan tentang kota ini adalah aktivitas bahari yang seolah tanpa henti.

Apa pasal ? Beberapa hal yang mendukung kesan ini di antaranya : Hampir seluruh pelayaran Pelni singgah di kota ini. Dalam satu bulan, terjadwal antara 28 hingga 32 kali kapal Pelni singgah di pelabuhan Bau-Bau.

Jalur pelayaran ke seluruh kawasan Indonesia timur, banyak yang bersinggungan atau bahkan berawal dari kota ini. Sebutkanlah ke seluruh penjuru Papua, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Jawa. Armada yang melayanipun bermacam-macam. Dari armada milik PELNI (plat merah) dengan kapal-kapal besarnya, fery penyeberangan, kapal cepat yang terhitung modern, hingga kapal tradisional bermotor yang terbuat dari kayu. Jenis yang terakhir ini dari yang hanya muat beberapa gelintir orang, hingga ratusan orang, ada di Bau-Bau. Dan mayoritas rute non Pelni dalam sehari berangkat dengan frekuensi satu kali hingga tiga kali.

Sebutlah nama daerah berikut ini : Makassar, Surabaya, Kendari, Raha, Labuan Bajo, Bitung, Ambon, Sorong, Manokwari, Ternate, Fak Fak, Wasior, Nabire, Wanci, Seram, dan ribuan pulau besar dan kecil di wilayah Indonesia bagian Timur melewati kota ini. Maka tak heran, bila kota yang dari dulunya merupakan ibukota kerajaan Buton ini merupakan sebuah kota yang multi etnis, multi budaya, dan latar belakang. Dari Bone, Bugis, Makassar, Jawa, Minang, Madura, Papua, Maluku, Batak, China, dan lainnya, semua tumpek-blek di kota ini.

Karakter Perairan Karang
Perairan di wilayah ini, didominasi batu karang yang sangat keras, dan pantai yang curam. Ini terlihat dari sekeliling pulau Buton dan sekitarnya dengan daratan yang langsung bertebing tinggi. Di wilayah ini banyak pulau-pulau berkarakter karang keras. Termasuk pula di kota Bau Bau di mana bila akan menggali untuk keperluan pondasi, sumur dan sejenisnya, sudah pasti menghadapi kerasnya batuan karang tersebut.

Namun, di balik kekerasan tersebut, perairan di sini memiliki keistimewaan yakni bebas dari pendangkalan yang sering mengancam banyak pelabuhan di penjuru dunia. Dengan karakter alam yang demikian dan ditambah posisi pentingnya, Bau Bau menjadi sebuah pelabuhan yang semakin penting posisinya di kancah pelayaran khususnya di Indonesia bagian Timur.

Selain merupakan kota transit dalam pelayaran, di Bau-Bau juga terdapat bandara yang melayani lalu-lintas udara. Tercatat saat ini aktif empat penerbangan setiap hari yang dilayani oleh Wings Air dan Ekspress Air. Kesemuanya berhubungan dengan rute Makassar.

Kekurangan Bau-Bau dan sekitarnya
Sebagaimana permasalahan klasik seluruh penjuru Indonesia saat ini, kebutuhan akan daya listrik yang semakin tinggi menjadi kendala besar, termasuk di Bau-Bau. Selama ini, listrik baru disuplai oleh pembangkit diesel. Sementara pembangkit jenis lain, untuk daerah-daerah terpencil beberapa menggunakan tenaga matahari. Namun ini juga masih terbatas khususnya di kalangan ekonomi menengah ke atas. Dalam perjalanan singkat saya tersebut, saya menemui beberapa kali pemadaman (entah padam karena kurang daya atau gangguan, saya tidak mengetahui persis).

Untuk mengatasi kekurangan listrik ini, sebenarnya PLN Wilayah pembangkitan SulMaPa juga sedang mengusahakan pembangunan PLTU di wilayah Bau-Bau. Bahkan lahannya sudah disiapkan. Saat ini masih dalam evaluasi dari proposal tender yang masuk. Namun entah kapan akan digulirkan pembangunannya, yang bila mengacu pada kapasitasnya berukuran sekitar 2×10 MW. Akibat minimnya daya listrik ini, di kota transit seramai Bau-Bau, industri bisa dikatakan belum berkembang. Sehingga yang terlihat denyut perekonomiannya justru pada bidang pelayaran dan perdangangan.

Selain listrik, kualitas infrastruktur jalan raya juga menjadi keluhan tersendiri. Sebagai daerah penghasil aspal alam, khususnya di pulau Buton dan Muna, jalan raya masih minim panjang ruasnya dan juga kualitasnya. Dan menurut beberapa penduduk Sulawesi Tenggara yang saya temui, banyak daerah belum menikmati mulusnya jalan raya, dan juga belum terjamah jalan, sehingga untuk menuju daerah tersebut mengandalkan tranportasi laut.

Sebagai contoh, bus Damri yang melayani trayek Kendari – Trobulu – Raha – Bau Bau, berangkat dari Kendari sekitar pukul 6 pagi, dan baru tiba di BauBau selepas magrhib. Bahkan kemarin saya masih melihat jam 9 malam baru tiba di dekat pelabuhan Kendari. Memakan waktu 12 jam lebih. Padahal bila menggunakan kapal cepat, hanya ditempuh selama lima jam saja.

Kota Budaya
Selain Yogyakarta yang masih utuh peninggalan dan sistem kesultanannya, di Bau Bau ini juga demikian. Terdapat salah satu warisan budaya yang masih terjaga, yakni Benteng Keraton Buton. Benteng yang dulunya difungsikan untuk menghadang invasi pihak musuh (Portugis dan Belanda) ini masih kokoh berdiri. Dan menurut keterangan di sekitar, ini adalah benteng terluas di dunia. Keliling tembok bentengnya mencapai 2 kilometer lebih. Atau bahkan di kisaran 3 km. Kesemuanya masih seperti dahulu kala. Juga peninggalan masjid dan bangunan-bangunan pendukungnya masih terjaga. Dan uniknya, di dalam kawasan ini terdapat pemukiman keturunan kerajaan Buton yang masih dihuni hingga saat ini. Ciri khas bangunan berupa rumah panggung terbuat dari kayu masih lestari hingga sekarang.

Dari atas benteng ini, pemandangan laut di wilayah Bau-Bau terlihat dengan jelas. Begitu pula dengan kawasan pemukiman penduduk Buton yang semakin padat dan sesak. Terlebih pasca tragedi kemanusiaan Maluku di periode 1998 hingga awal dekade 2000. Eksodus pengungsi konflik maluku yang pernah terdata menurut penduduk setempat di bilangan 160 ribu jiwa.

Harga Tanah
Di kawasan ini, sebelum eksodus besar-besaran penduduk Maluku pada awal reformasi karena kerusuhan horizontal, harga tanah per m2 berkisar Rp. 2000. Namun, kini sudah melambung tinggi di kisaran rata-rata Rp. 400 ribu di kawasan pemukiman. Sedangkan di kawasan padat dan ramai, sudah tembus jutaan rupiah. Sebuah harga yang sangat fantastis.

2 thoughts on “Buton – Bau Bau, Ibukota Bahari Nusantara Abad 21

  1. andyblack says:

    kota ini terlihat eksotis tapi sayang kok gitu ea apa pemerintah setempat dah gak peduli lagi padahal kota tsbt menjanjikan sekali..
    harus ada yang memperjuangkan!

    mas artikel mas kongkrit ada artikel lain tentang penghasil ikan tdk?

    beri saya tautan dunk kayaknya mas pandai dalam menyikapi keadaan!

    http://4ndybl4ck.wordpress.com

  2. mukhlason says:

    Iya Mas, di Bau Bau yang megah baru di istana wali kotanya. Semoga bisa berbenah ke depannya.

    Terima kasih atas atensi mas Andy utk tulisan2 saya. Kebetulan belum ada tulisan ttg penghasil ikan. Coba saya cari dulu bahannya, barangkali bisa dijadikan tulisan.

    trims.
    Selamat berpetualang memancing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: