Memelihara Binatang di Rumah ? Sebaiknya Berpikir Ulang !


Bismillahirrahmaanirrahiim

Tulisan ini mulai ditulis dua hari menjelang meninggalnya Ibunda Siti Aminah. Pertama ditulis di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, sambil menunggu beliau dirawat dan dilanjutkan dua bulan setelah beliau wafat.

Ini merupakan pengalaman pahit yang harus dialami oleh ibu saya selama hampir sepuluh tahun terakhir. Ceritanya berawal dari ketika sibuk membangun masjid, stok gabah di lumbung hasil panenan banyak digerogoti tikus. Sambil berdoa supaya tikus-tikus dijauhkan, ternyata dari rumah tetangga ada kucing betina yang boyong, transmigrasi dan akhirnya menetap di rumah.

Setali tiga uang, kehadiran keluarga kucing ini disambut baik karena terbukti mengenyahkan para tikus tersebut. Stok gabah pun aman selama enam tahun. Sayangnya di tengah masa-masa harmonis tersebut, terjadi insiden yang merupakan awal ujian tersebut. Di pagi hari ketika sedang mengambil lauk-pauk di lemari, ketika berbalik arah, jari kaki ibu saya menginjak anak kucing yang langsung menggigit jari tersebut hingga berdarah. Sambil berangkat ke sekolah (karena profesi ibu adalah guru), ibu menyempatkan mampir ke puskesmas untuk berobat. Dan setelah menjalani perawatan luka sekedarnya, oleh dokter dikatakan tidak berbahaya. Ini kejadian di tahun 2000.

Sekitar pertengahan 2002, sepulang dari menghadiri undangan pernikahan di Jakarta, kurang satu km dari rumah, timbullah gejalanya. Tiba-tiba ibu pingsan tanpa sebab yang jelas. Padahal sedari dulu tidak pernah mengalami hal ini. Pada kejadian yang pertama, langsung ditangani oleh tenaga medis dan dirujuk ke puskesmas. Namun dokter belum bisa menentukan penyebabnya. Hingga pingsan ini berulang beberapa kali dan megharuskan dirujuk ke RS kabupaten dan kemudian atas saran kakak sepupu yang juga dokter spesialis, dibawa ke RS yang lebih memadai untuk menganalisa penyebabnya.

Dibawalah ke Malang dan dirawat di RSSA, sambil dianalisa lengkap darahnya dan dilakukan rontgen, ct-scan dan analisa laboratorium lainnya. Dus, ketika hasil-hasil lab tersebut keluar, yang dinyatakan positif adalah adanya virus toksoplasma yang ditandai dengan adanya kandungan IgM dan IgG dalam darah. Sedangkan fenomena efeknya terlihat di hasil ct-scan yang menunjukkan adanya pengapuran di otak kecil (kalsifikasi cerebellum). Begitu menurut analisa dokter.

Berdasarkan analisa lanjutan oleh dokter spesialis syaraf Bambang Budiarso, seorang spesialis di kota Malang, adanya pengapuran di otak inilah yang menjadikan ibu sering pingsan yang diawali dengan gejala kejang. Alhamdulillah penyebab kejang dan pingsan sudah diketahui. Langkah selanjutnya adalah menyembuhkan penyakit itu. Dengan terapi dari dokter menggunakan obat-obatan, virus berhasil dinonaktifkan.

Tetapi, yang ternyata sulit atau hampir mustahil diperbaiki adalah pengapuran yang sudah terjadi di otak kecil tersebut. Menurut info dokter, otak kecil bertanggungjawab terhadap kerja keseimbangan dan syaraf bicara dan seiring bertambahnya usia, akan semakin banyak dan meluas. Fenomena gangguan syaraf keseimbangan dan bicara itulah yang sering dialami ibu. Apalagi seiring bertambahnya usia, penyembuhan menjadi semakin sulit. Oleh karena itu, diberikanlah terapi sekedar untuk mencegah terjadinya kejang.

Terapi obat yang diberikan yaitu pemberian fenitoin ke dalam tubuh yang bila berbentuk cairan bisa diinjeksi (ketika di rumah sakit), tetapi bila di rumah dalam kondisi normal, diberikan obat dengan merk dagang Dilantin. Dosis yang diberikan berkisar antara 2×100 mg hingga 3×100 mg.

Perubahan Dosis
Adanya variasi dosis ini, sering menjadikan hal-hal yang nyaris berjung fatal. Beberapa kali hal ini terjadi. Maklum, sebagai manusia normal, bila harus mengkonsumsi obat 3x sehari selama hampir sepuluh tahun, kadang membuat hampir frustrasi. Namun ibu saya tetap disiplin meminumnya. Meski berbagai kebosanan melanda, karena bergantung kepada obat-obatan agar tidak mengalami kejang. Di tahun 2005, karena terjadi kekeliruan dosis (biasanya meminum dosis 3×100 mg, tetapi entah kenapa di apotek hanya ada yang 50 mg sehingga 3×50 mg), Ibu mengalami anfal. Akibatnya beliau harus dirawat intensif dan kali ini di kota Malang. Setelah beberapa minggu dirawat, Alhamdulillah bisa kembali ke rumah dan beraktivitas.

Tahun 2007 awal, karena seringnya cuti sakit, dan atas saran Bapak, pensiun dini pun diajukan Ibu. Alasannya cukup logis, untuk mengurangi beban pikiran dan tenaga, mengingat posisi beliau sebagai seorang Kepala Sekolah. Di akhir tahun itu saya menikah. Alhamdulillah selama mempersiapkan acara pernikahan saya, beliau tetap sehat dan tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti.

Agustus 2008, di saat wisuda S2 kakak, di tengah acara beliau mengalami kejang kaki dan harus dibawa ke poliklinik. Alhamdulillah bisa segera sehat. Namun, menjelang Ramadhan 2008, ibu kembali anfal. Dan setelah dirawat lebih lanjut di ruang IRD RSU Dr. Soetomo, dan menjalani serangkaian cek laboratorium, diketahui kadar SGOT, SGPT, dan kolesterol di atas batas maksimal. Sedangkan albumin turun drastis. Kesadarannya pun menurun drastis. Sehingga dilakukan tindakan trakheostomi, pembedahan leher untuk by pass tenggorokan sebagai jalan nafas darurat. Seingat saya ibu tidak sadar dalam fasa ini hampir seminggu. Dan hampir sebulan penuh dirawat. Akhirnya menjelang idul fitri bisa kembali ke rumah di Pacitan.

Di tahun 2009, gangguan kesehatan yang dialami seringkali berupa kejang di kaki, adapun kejang yang sampai menghilangkan kesadaran, bisa dikatakan jarang. Maret 2010, Alhamdulillah kami semua memiliki agenda besar, yakni menikahkan kakak perempuan. Alhamdulillah dalam mempersiapkan itu semua, Ibu tetap sehat. Justru ibu kejang kaki setelah prosesi pernikahan selesai.

Bulan mei, di tengah ganasnya wabah Chikungunya di Pacitan, daerah kami juga termasuk endemik parah. Betapa tidak, hampir setiap rumah penghuninya terkena penyakit ini. Begitu pula Bapak dan Ibu. Bahkan Ibu terpaksa harus dirawat di Puskesmas selama 4 hari. Dan setelah agak kuat, kami boyong ke Malang, supaya lebih bisa terawasi. Rupanya, ini adalah masa hidup terakhir Ibu di Pacitan. Bahkan idul fitri 2010 juga harus dihabiskan di Surabaya dan tidak pulang ke Pacitan. Di masa-masa ini kami juga memberikan terapi ramuan dari ahli TORCH, A. Juanda yang sering mengisi acara di televisi dan berkeliling seluruh Indonesia. Dan ramuan aquatreat ini kami berikan hingga sebelum ibu dibawa ke rumah sakit untuk terakhir kalinya.

Tiga bulan terakhir, Ibu berada di rumah saya, dan tentunya karena kondisi kesehatannya, kejang kaki sering pula beliau alami. Dari yang 4 hari sekali, menjadi setiap hari. Dan terakhir, justru hilang sama sekali kejang kakinya. Saya pun berasumsi beliau sudah sehat. Namun ternyata, empat hari kemudian justru kejang yang tidak sadar terjadi. Dari yang semula dua hari sekali, hingga terakhir setiap kali terjaga, beliau kejang. Ini terjadi selama dua minggu terakhir. Dan beliau kami bawa ke IRD RSU Dr. Soetomo lagi. Masuk ke ruang resusitasi. Dan alhamdulillah bisa sadar kembali. Malam itu pula bisa kami bawa ke kamar perawatan.

Seminggu penuh di ruang perawatan kondisi Ibu terlihat membaik. Di malam kedua di RS, datang anugerah dari Allah SWT berupa kelahiran cucu perempuan kedua. Di hari ketiga selang oksigen sudah dilepas. Namun, sehari berikutnya terpaksa dipasang lagi karena menunjukkan gejala penurunan kondisi. Namun diajak berkomunikasi masih cukup nyambung dan merespon baik, meski dengan pembicaraan yang terbatas.

Tiga hari terakhir
H-3, kondisi ibu stabil, dengan alat penyuntik dopamin terpasang, infus cairan, serta injeksi makanan melalui sonde (injeksi makanan cair lewat selang langsung tembus ke lambung). Selama dirawat, hanya makanan cair yang bisa dimasukkan ke lambung. Kondisi kesadaran biasa, begitu pula ritme nafas. Komunikasi bagus. Urine berjumlah normal banyak, dan berwarna kuning jernih.

H-2, kondisi stabil, dengan alat penyuntik dopamin terpasang, infus cairan, serta injeksi makanan melalui sonde. Kondisi kesadaran biasa, begitu pula ritme nafas. Komunikasi bagus. Urine berjumlah normal banyak tetapi warna coklat pekat.

H-1, kondisi stabil, dengan alat penyuntik dopamin terpasang, infus cairan, serta injeksi makanan melalui sonde. Kondisi kesadaran biasa, begitu pula ritme nafas. Komunikasi bagus. Urine berjumlah normal banyak, dan berwarna kuning jernih kembali.

Hari H, Senin 10 Januari 2011
Hingga pagi hari, setelah dimandikan menggunakan wash lap, saya masih sempat mengajak berkomunikasi agar beliau segera sehat dan menengok cucu yang baru lahir. Namun dijawab beliau dengan menangis. Duuh, sedihnya. Ini terjadi jam 6 pagi. Jam 7 saya pulang ke rumah, karena masih banyak agenda pekerjaan yang saya lakukan. Dan juga sambil beristirahat. Menjelang maghrib, Bapak menelpon agar saya segera ke RS karena ibu drop. Ternyata sedari jam 8 pagi beliau menurun kesadarannya dan tidak merespon. Alat penyuntik dopamin terpasang, infus cairan, serta injeksi makanan melalui sonde. Kondisi kesadaran menurun drastis, ritme nafas tersengal-sengal. Komunikasi tidak ada. Urine berjumlah sangat sedikit, dan berwarna coklat pekat. Saya masih sempat suntikkan susu cair untuk mengisi lambung Ibu.

Oleh dokter jaga, didatangkan dokter ahli anestesi untuk memberikan pendapat kedua (second opinion) terkait kondisi Ibu. Dikatakan oleh dokter anestesi ini, tingkat kesadaran ibu berada di level 111, dan ini adalah tingkat kesadaran terendah manusia. Ini setelah beberapa kali upaya penyadaran dilakukan. Dan lanjut dokter tersebut, kita hanya menunggu waktu karena kemungkinannya meninggal dunia, dan hanya bisa memberikan tindakan supportif (pendukung) seperti memasok oksigen, infus, dan pemacu jantung. Sedangkan untuk tindakan bedah semacam trakheostomi tidak berani dilakukan. Dalam hati saya masih berharap adanya keajaiban Ibu untuk sembuh. Dan dalam waktu dua jam terakhir, saya masih sempat mengambil alat bantu nafas yang lebih kecil, hasil rontgen paru dan jantung, dan juga ringer infus. Bahkan juga diminta untuk melakukan uji lab darah Ibu. Uniknya, darah ini terlihat lebih pekat dan kental.

Begitu kembali dari laboratorium, jam 21.30 saya raba kaki Ibu yang kebetulan memang tidak berselimut. Dingin, sampai ke tulang kering. Di atasnya masih hangat. Dan saya raba dahinya, ternyata tidak berkeringat. Mungkin karena sudah berkeringat sepanjang hari karena nafas tersengal-sengal tersebut. Saya pun memberitahukan hal ini kepada bapak, dan dijawab dengan datar “Ketoke Ibumu wis budhal” yang artinya “Kelihatannya Ibumu sudah berangkat / meninggal”. Innaa lillah wa innaa ilaihi raajiuun.

Segera saya panggil perawat dan dokter jaga, dan dengan serangkaian tindakan, membenarkan bahwa Ibu sudah menghadap Allah SWT. Sayapun segera menelpon Mbak Dini, yang tidak sempat bertemu ibu hingga beliau meninggal. Juga saya hubungi Mas Dodo, kakak sepupu yang rumahnya hanya sepelemparan batu dari rumah sakit, dan tidak lama beliau muncul. Begitu pula Budhe Ismi yang segera tiba di RS. Istri saya, dan beberapa orang keluarga yang teramat baik segera pula tiba di RS.

Setelah jenazah Ibu dibawa ke kamar Jenazah, lalu kami mandikan, kami kafani, dan lalu kami sholatkan. Sambil menunggu ambulan yang dipersiapkan oleh Mas Basuki, keluarga yang akan mengantarkan juga bersiap-siap. Sekitar jam 24 ambulan sudah bergerak menuju rumah saya di kawasan Juanda, lalu beristirahat sejenak sembari bersiap-siap menuju Pacitan. Mendekati jam 2 pagi, ambulan bergerak ke Pacitan dengan rute Surabaya – Mojokerto – Jombang – Madiun – Ponorogo – Pacitan Kota – Tulakan. Baru di perjalanan inilah saya bisa menangis, di samping Ibunda yang sudah mendahului. Menangis karena merasa pengabdian dan bakti saya untuk beliau masih sangat jauh dari kata sempurna. Allahummaghfir lanaa..

Alhamdulillah, jam 7.30 setelah memakan waktu perjalanan 5 jam setengah kami sudah tiba di ruma. Menjelang jam 10, jenazah diberangkatkan menuju pemakaman yang sudah disiapkan oleh saudara dan tetangga yang baik hati. Sayapun bisa masuk ke dalam liang lahat bersama Mas Slamet dan Wika untuk menerima jasad Ibu terakhir kalinya. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

Pelajaran yang Bisa diambil
Dari rangkaian gangguan kesehatan yang dialami Ibu, saya mengambil pelajaran bahwa sebersih, sejinak, maupun se-higienis apapun binatang dengan perawatan dimandikan, dicuci, maupun divaksin, selayaknya kita manusia tidak hidup bersama dalam satu rumah. Virus dan bakteri yang merupakan jasad renik dan menumpang hidup di binatang, bisa tumbuh subur dan mengganggu kesehatan manusia bila menemukan tempat dan kondisi yang sesuai. Memang daya tahan tubuh manusia yang satu dengan lainnya berbeda-beda. Namun, ditinjau dari kacamata kebersihan dan kesehatan, hidup bersama binatang kelihatannya tidak menyehatkan.

Sebagai bukti medisnya, hasil CT-Scan terakhir kepala Ibu, ternyata besar pengapurannya di kedua bagian, masing-masing di otak kecil bagian kiri dan kanan, sudah berdiameter sekitar 20 mm atau 2 cm. Bandingkan dengan besarnya otak kecil yang hanya beberapa cm lebih besar, di dalam naungan otak besar. Maka tidak mengherankan bila frekuensi kejang yang dialami Ibu sudah sangat sering dan fatal.

Dari literatur lain yang saya baca, gejala terkena toksoplasma terlihat antara lain : pada wanita usia subur bila hamil sering keguguran, atau bila anak lahir dengan cacat permanen seperti organ tubuh yang tidak lengkap (misalnya mata hanya satu), juga pembesaran kepala (hidrosephalus). Sedangkan gejala lainnya seperti yang dialami ibu, yakni pengapuran di dalam otak dan syaraf.

Oleh karena itu, saya senantiasa mewanti-wanti keluarga saya dan juga kawan-kawan, agar jangan hidup bersama dengan binatang dalam satu rumah, apapun itu binatangnya. Baik kucing, anjing, burung, kelinci, hamster, kura-kura, ular, kadal, dan berbagai jenis binatang lainnya. Sayang binatang itu wajib, tetapi tidak harus dengan tinggal serumah. (SON)

8 thoughts on “Memelihara Binatang di Rumah ? Sebaiknya Berpikir Ulang !

  1. mulyanto says:

    Turut berduka cita. Iyah rumah saya juga suka dikunjungi kucing, tapi ada satu kucing yang tetap ngeyel masuk rumah. walau sudah berkali-kali selalu diusir🙂 . Ini kayaknya kucing keturunan Nurdin Halid😀 .

  2. Adlil Umarat says:

    Mas, tulisannya bagus, bermanfaat, dan diceritakan dengan narasi yang apik. Lanjut mas

  3. Palka Adripta says:

    Mas son sedih saya membaca tulisan anda. semoga anda sekeluarga selalu diberi kekuatan Allah SWT.

    terima kasih banyak atas pencerahannya. semoga banyak pelajaran yang bisa diambil

  4. Sugeng Harianto says:

    Good…..Salam super…

  5. Org yg telah berpikir ulang says:

    Sebelumnya, saya turut berduka cita..
    Saya menghargai kesimpulan anda di akhir tulisan ini, tapi saya ingin menerangkan sedikit:
    Bahwa toksoplasma tidak ditularkan melalui gigitan hewan, melainkan secara oral. Asalnya dari feses hewan yang terinfeksi toksoplasma (toksoplasma sendiri adalah protozoa T.Gondii, bukan virus) kemudian terpegang tangan manusia dan termakan (oral: masuk melalui mulut)..Kemudian, toksoplasma juga bisa memasuki tubuh manusia dari konsumsi daging hewan (sapi, kambing, ayam) yang kurang matang atau bahkan dari sayuran yang dicuci kurang bersih, bukan cuma dari serumah dengan binatang peliharaan..
    Maaf jika ada kalimat yang tidak berkenan di hati

  6. Dyah anugrah says:

    turut berduka cita juga mas.
    tapi..yup benar. oleh karenanya, orang yang tidak memiliki kucing pun bisa terkena toksoplasma, misalnya karena berkebun tanpa menggunakan sarung tangan dan tanpa sengaja terkena toxo dari kompos. Jadi sebaiknya, seperti biasa saja selalu biasakan cuci tangan dengan bersih sebelum makan, dan biasakan membersihkan sayuran yang akan kita konsumsi dalam keadaan segar (tanpa dimasak). Tapi terlalu higienis dalam segala hal juga tidak terlalu bagus sih…tubuh manusia sebenarnya bisa membentuk kekebalan terhadap toksoplasma ketika tubuh dalam keaadaan sehat. namun dalam kasus tertentu toxoplasmosis memang bisa sangat berbahaya terutama apabila terjadi infeksi baru pada wanita hamil dan orang dengan kekebalan tubuh yang lemah.
    oleh karena itu akan lebih baik bila sebelum merencanakan kehamilan, dilakukan tes TORCH untuk mendeteksi toxoplasma, rubella,CMV dan Herpes.
    Malah sebenernya apabila kita pernah terinfeksi toksoplasma dan telah membentuk kekebalan tubuh, lebih aman untuk hamil. apabila wanita hamil belum pernah sama sekali terkena toksoplasma, diharuskan lebih berhati-hati dengan tidak dekat2 dengan feses,menjauhi berkebun, dan tidak berdekat-dekat dengan daging mentah.

  7. turut berduka cita mas, saya dulu juga suka memelihara kucing bahkan ibu saya juga tapi saya rawat betul rutin dimandikan dan jangan lupa dilihat makanannya, alhamdulilah 5tahun menemani keluarga saya kucing saya meninggal tepat saat malam suro2010. semoga memelihara hewan tidak menjadikan phobia dengan pemeliharaan yang sesuai dijaga kebersihan pasti tidak membawa virus dan tidak lupa 3-6 bulan divaksinasi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: