Numpang Truk


Dalam dua minggu terakhir saya numpang truk untuk perjalanan yang agak lama sudah dua kali. Minggu lalu, saya ditumpangkan ke truk yang kebetulan membawa kayu dari Pacitan ke Ponorogo. Maklum, transportasi dari Pacitan bila sudah mendekati malam tiba, keberadaannya semakin langka dan jarang, dan semakin tiada bila malam sudah menggelayut. Karena berangkat mepet (dari rumah jam setengah lima sore), terpaksa potong kompas melalui jalur Tulakan – Kasihan – Tegalombo untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh.

Pasalnya, bila harus melewati kota Pacitan, waktunya bisa bertambah dua jam lebih, dan selisih jarak mencapai dua puluhan kilometer. Padahal di Ponorogo, kota tujuan antara, bus terakhir yang berangkat ke Surabaya jam setengah delapan malam. Lewat itu, hanya ada bus ke Madiun yang tentunya lebih lambat, tarif lebih mahal. Meski masih bisa nyambung lagi dengan bus dari jalur Yogya Solo.

Di depan kecamatan Tegalombo, ada truk yang lewat, distop, Alhamdulillah mau, karena ternyata temannya Mas Pur yang saya mintai tolong untuk mengantarkan ke Tegalombo. Bersama Mas Heri, sopir truk ini, sepanjang jalan bercerita ngalor ngidul, Dari politik lokal pacitan, kerusakan jalan, PLTU, hingga ke karakter masyarakat Pacitan. Dan tidak terasa sudah sampai di perempatan pabrik es di Ponorogo. Sayapun diturunkan di situ, dan harus menyambung dengan ojek yang tidak seberapa jauh dari terminal. Alhamdulillah, selesai dari toilet di pinggir terminal, bus Restu terakhir keluar dari pintu gerbang dan saya stop.

Pengalaman kedua naik truk, sore ini. Meskipun mobil Avanza untuk antar jemput kawan2 dari Site ke Mess / Hotel sudah bertambah, ternyata masih kurang dan ada saja kendala untuk tidak cukupnya kapasitas mobil. Apalagi bila ada keharusan Mr X harus menggunakan mobil ini, dan Mr Y pake mobil satunya. Belum lagi mobil ketiga menjemput mr Z, dan mobil ke empat sudah berjalan di awal jam pulang, serta mobil ke lima sudah penuh. Merana.

Maka, daripada merana di site, segala cara digunakan. Termasuk mencari kemungkinan tumpangan. Setelah berencana memesan ojek yang Alhamdulillah batal (untung batal karena di tengah jalan hujan deras), ternyata masih ada truk yang selesai drop material besi di site. Dengan menggeser mas Iwan ke bak belakang, akhirnya saya bisa duduk di depan. Bahkan diantarkan sampai ke depan hotel. Terima kasih Pak Laode, Pak Ondo, dan Mas Iwan. Maaf telah merepotkan. Insya Allah dibalas dengan balasan yang sangat baik, kapanpun, di manapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: