Susu Tercemar : Bukti Iktikad Buruk Pemerintah


Pemerintah cq Menkes, IPB, dan BPOM sudah menunjukkan iktikad tidak baiknya dalam melindungi kepentingan masyarakat konsumen susu. Sebagai konsumen, sudah selayaknya putusan Mahkamah Agung agar pihak yang terkait ini mengumumkan merk susu tercemar tersebut ternyata hanya dianggap angin lalu belaka. Bahkan, di kesempatan berikutnya, MenKes malah ngeles, dengan memberikan pernyataan bahwa daripada ribut-ribut tentang susu tercemar, lebih baik anak-anak dialihkan untuk mengkonsumsi ASI.

Memang, ASI adalah sesuatu yang alami, natural. Dan pasti, keberadaannya juga sangat penting dalam perkembang-tumbuhan seorang anak manusia. Gizinya lengkap. Namun, bila disebabkan satu dan lain hal, tidak selamanya si bayi dapat menyusu ASI dari Ibunya. Dan tidak selamanya pula si Ibu dapat keluar air susunya. Lihatlah beberapa hari pertama setelah si anak lahir, betapa banyak ibu yang belum bisa keluar ASInya memberikan pada si buah hati. Dan mau tidak mau, untuk situasi sedarurat ini diberikanlah susu Formula.

Juga misalnya bila si Ibu sedang sakit, sementara harus mengkonsumsi obat-obatan yang sedikit banyak berpengaruh terhadap kandungan ASI, tentu susu Formula menjadi pilihan. Dan tidak jarang pula ketika si bayi menginjak usia yang ke dua tahun, sudah ada adiknya. Sementara asupan nutrisi untuk ibu harus diberikan pula untuk janin yang baru tumbuh. Mau tidak mau bayinya yang sudah lahir harus mengalah.

Maka, bila terpaksa si anak bayi ini mengkonsumsi susu tercemar tersebut dan berakibat fatal hingga meninggal, apakah dalam perhitungan statistik penduduk Indonesia dianggap sebagai angka kematian bayi yang dianggap normal ? Juga bila ada efek turunan khususnya terhadap kesehatan anak di masa depan adalah hanya dibungkus dengan sebuah “resiko produk” ?

Bila ditinjau dari etika kepemimpinan dan pelayanan, apalagi pelayanan terhadap masyarakat umum, langkah tiga lembaga terkait ini sangat-sangat buruk, tidak beretika dan tentu tidak pantas. Terlihat dari kenyataan ini pihak-pihak tersebut tidak berani hanya untuk sekedar mengumumkan, apalagi bila harus bertanggung jawab atas akibat buruk yang ditimbulkan oleh produk susu beberapa tahun silam itu.

Memang, jika dikembalikan kepada gambaran besar pemerintahan yang terlalu mengutamakan pencitraan, langkah mengumumkan produk tercemar ini sangat tidak populer, dan bahkan bisa menjadi blunder. Tetapi, kan tidak sepenuhnya salah pemerintah. Masih ada produsen yang seharusnya paling
bertanggung-jawab.

Maka, sebuah pertanyaan besar dan umum di benak masyarakat, ada apa gerangan kok sampai tiga lembaga terkait tidak mau mengumumkan merk susu tercemar ini ke publik ? Apakah sampai ada sogokan yang diberikan oleh produsen produk tercemar itu untuk membungkam kebenaran ? Apalagi sampai dibela dan dialihkan isunya oleh Bu Menteri Kesehatan. Ada apa gerangan ? Hanya IPB, BPOM, Produsen Susu dan Kementrian Kesehatan yang bisa menjawabnya. Dan lagi-lagi, rakyat terbengong-bengong melihat kenyataan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: