Kuli Ratan, Ironi Kualitas Infrastruktur Jalan Raya


Sebagai seorang anak desa yang tinggal di pinggir jalan raya yang sudah diaspal sejak saya belum lahir, di masa kecil saya sering melihat bagaimana Bapak-bapak kuli ratan bekerja merawat jalan raya (kuli jalan, perawat jalan yang entah statusnya bagaimana dalam kelembagaan departemen pekerjaan umum).

Di dekade 1980-an dan awal 1990-an, beliau-beliau ini aktif merawat jalan raya supaya kualitas jalan tetap bagus, baik, jarang rusak. Beberapa bentuk perawatan yang mereka lakukan adalah dengan merawat selokan / saluran air di sepanjang pinggir kanan dan kiri jalan sehingga air tidak merusak badan jalan, tidak melimpas ke tengah jalan, dan aliran air selalu lancar terlebih di musim hujan. Rumput-rumput secara berkala disiangi, dipotong agar tidak mengganggu aliran air. Sementara longsoran ataupun runtuhan material tanah dan pasir dibersihkan agar tidak menghalangi air masuk ke salurannya.

Pepohonan yang kemungkinan akan roboh ke tengah jalan dan dapat mengganggu kelangsungan prasarana jalan pun dirapikan, ditebang dahan-dahannya yang menjuntai ke tengah jalan. Juga pepohonan yang tumbuh agak ke tengah, dibabat. Sampah dedaunan kering dikumpulkan dan dibakar supaya tidak menghalangi aliran air. Pokoknya semua hal-hal yang dapat mengurangi kualitas jalan diberesi dengan sempurna. Sering dalam pelaksanaannya Bapak-bapak ini dibantu oleh keluarganya. Dan tidak jarang warga masyarakat juga aktif membantu dengan kerja bakti bergotong royong meringankan tugas beliau. Warga juga tidak jarang yang membantu menyediakan konsumsi minum maupun makan dalam kegiatan perawatan jalan oleh Bapak-bapak Kuli Ratan ini.

Namun, setelah masa reformasi, entah mengapa semuanya itu hilang. Tidak ada lagi perawat jalan yang dengan profesional menjaga kualitas jalanan di daerah saya. Akibatnya, jalanan menjadi cepat rusak, dan tidak jarang yang pecah-belah, berantakan, dan tidak sedikit pula yang dari tengah aspalnya keluar sumber air. Maka sudah pasti aspal yang kata seorang kawan tidak tahan terhadap air, menjadi semakin amburadul (Mohammad Yusdi, Sipil ITB, SubJur Transport, Departemen Perhubungan).

Bahkan kini, khususnya di Pacitan Jatim, seiring berkuasanya mendiang bupati Sujono selama hampir 5 tahun yang tidak memperhatikan kualitas infrastruktur, jalanan di Pacitan semakin berantakan. Ini diperparah dengan hujan yang hampir tiap hari mengguyur kabupaten Pacitan bagian selatan selama dua tahun terakhir tanpa henti. Jalan raya, sebagai wajah yang dilihat terlebih dahulu sebagai indikator pembangunan daerah, menjadi syarat mutlak untuk diprioritaskan.

Aji Mumpung Jalan Pantura

Betapa banyak proyek pembangunan jalan maupun perbaikannya yang kualitasnya amburadul. Lihatlah di beberapa daerah, khususnya di Pantura Jawa Barat. Di daerah jalur Cikampek – Indramayu – Cirebon yang di pinggir pantai, aji mumpung perbaikan jalan raya dilakukan pada waktu bulan Ramadhan, beberapa hari menjelang Idul Fitri. Dan seringkali di waktu puncak arus mudik, perbaikan jalanpun belum selesai dilakukan sehingga semakin memperparah kondisi lalu-lintas.

Entah mengapa hal ini bisa terjadi, apakah anggaran perbaikan baru bisa turun H-20 sebelum idul fitri, atau sebagai ajang aji mumpung oleh pengelola anggaran dan proyek perbaikan jalan ini. Apakah tidak sebaiknya dilakukan di bulan-bulan Rajab dan Sya’ban, sehingga kalau ada molornya dalam melaksanakan, masih tidak mengganggu lalu lintas mudik. Atau justru ini sebagai faktor penekan agar dana perbaikan lebih cepat turun. Atau karena beban jalan yang sangat tinggi termasuk oleh truk-truk bersumbu lebih dari dua ikut memperparah kondisi jalanan yang kualitasnya juga tidak sepenuhnya bagus dan benar ? Saya tidak tahu persis.

Selain jalanan di Indramayu, selama empat tahun dari tahun 2006 hingga awal 2009, setiap kali saya melewati tol Jakarta Merak, khususnya ruas setelah masuk wilayah kabupaten Serang ke barat, selalu ada perbaikan. Kalau tidak di ruas kiri, di ruas kanan dilakukan perbaikan. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah kualitas jalan tol tersebut sedemikian parahnya, ataukah pada waktu pembuatannya dahulu tidak mempertimbangkan faktor tanah yang kemungkinan besar masih bergerak / belum ketemu lapisan kerasnya ? Dan selama beberapa tahun tersebut, selalu jalanan dibongkar beton dan aspalnya, diperbaiki. Setiap kali saya lewat, entah pagi, siang, ataupun malam selalu ada yang dibongkar dan dikerjakan.

Pertanyaannya, apakah ini sebagai sebuah never ending project, proyek untuk hidup sehari-hari dari pengerjaan perbaikan ruas jalan ini ? Tapi, beberapa waktu lalu saya coba bertanya pada kawan yang berdomisili di daerah Cilegon, sekarang tidak lagi dilakukan perbaikan rutin karena kualitasnya sudah bagus. Syukurlah kalo ini benar.

Anggaran Berlebih

Merunut pernyataan istri yang kebetulan sebagai auditor di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), bahwa sebenarnya anggaran pembuatan, perbaikan, dan pengelolaan jalan raya ini sudah lebih dari cukup untuk membuat jalanan yang bagus dan bermutu tinggi. Tetapi pada kenyataannya, sering berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, kualitas maupun kuantitas tidak sesuai spesifikasi dan lebih rendah mutunya. Akibatnya, tidak jarang pihak-pihak yang mengelola jalan raya ini harus mengembalikan ganti rugi karena tidak sesuai anggaran.

Kerugian material secara perdata mungkin masih bisa dikembalikan. Namun, bagaimana bila dengan kondisi jalan raya yang rusak mengakibatkan kecelakaan yang tidak jarang merenggut korban jiwa ? Kepada siapa kerugian non materiil ini akan dibebankan ? Padahal, dalam mengerjakan proyek milik pemerintah, kontraktor selaku pelaksana sudah mendapatkan untung bersih sebesar 10 persen yang itu sudah diatur resmi dalam undang-undang. Tetapi, karena harus menyetorkan fee kepada banyak pihak, selain harganya dilakukan mark-up, modus lain adalah dengan mengurangi kualitas dan spesifikasi pekerjaan yang dilakukan, apakah itu dari sisi material aspal, kerikil, pasir, ketebalan perkerasan, hingga lebar jalan. Inilah salah satu bentuk tindak pidana korupsi yang masih sulit untuk diberantas di Indonesia ini.

Tidak heran jika prasarana transportasi rel kereta api di Indonesia tidak berkembang karena variabel yang bisa dicuri, dikorupsi tidak sebanyak jalan raya. Betapa harga pasaran baja semua pihak tahu, juga beton penyangga rel, kerikil, dll. Semua terserak dan terhampar di atas sehingga lebih terlihat mata dan sulit untuk dikelabui, berbeda dengan jalan raya.

Maka, selayaknya pihak-pihak terkait sebagai pengelola prasarana jalan raya mulai berpikir ke depan, tidak lagi aji mumpung sesaat demi keuntungan pada saat menjabat dan menangani proyek tersebut. Dan sebaiknya anggaran perbaikan jalan raya yang tidak perlu, bisa dialokasikan untuk memperluas jaringan jalan raya khususnya di Luar Jawa yang masih amburadul, compang-camping. Supaya saudara-saudara kita se-tanah air bisa merasakan Indahnya ber-Indonesia, menikmati prasarana jalan raya yang mulus. (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: