Lulusan Kantor


Saya bergabung dengan perusahaan ini sudah terbilang agak lama, tiga tahun lebih. Merupakan sebuah rekor terlama dalam perjalanan karir yang baru berjalan beberapa tahun setelah lulus kuliah. Uniknya, saya masuk ke perusahaan ini dan mendapatkan posisi sebagai engineer adalah sebuah hal yang tidak terduga.

Betapa tidak, sebagai seorang lulusan teknik penerbangan yang bisa dikatakan tidak terkait langsung dengan pembangkit listrik dan rekayasanya, lamaran yang saya ajukan juga tidak muluk-muluk, melainkan sebagai Engineer Support, alias orang yang mensupport pekerjaan para engineer. Wajar, soalnya selama setelah saya lulus, riwayat pekerjaan yang saya lakukan tidak terkait dengan bidang engineering secara langsung. Jadi harus tahu diri.

Nah, singkat cerita, saya oleh HRD diumpankan kepada bidang engineering, sesuatu yang menurut saya berbeda dengan aplikasi yang saya ajukan sebelumnya. Tetapi saya tetap menerima dengan mulut diam🙂 Sembari bertanya-tanya dalam hati, apakah mungkin jadi di posisi engineer sebenarnya. Eeh, ternyata benar. Setelah serangkaian proses interview dan beberapa tes, ternyata memang ditaruh di bidang engineering, bersama kawan2 engineer lainnya, dari bidang Sipil, mekanikal, elektrikal, instrumen, yang tentunya berkoordinasi dengan bidang-bidang lain di kantor dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari.

Singkat cerita, saya tidak selamanya berada di kantor, melainkan ditempatkan di site Surabaya untuk berperan sebagai quality control engineer yang beredar di seputaran vendor pembuat berbagai komponen pembangkit yang dipesan untuk dipasang di beberapa lokasi di Luar Jawa.

Hingga saat ini, tiga tahun lebih, saya mencatat sudah sekitar lima puluh orang kawan sekantor saya yang lulus. Tentu alasan lulusnya beragam, dan semuanya naik tingkat ke kelas yang lebih tinggi. Ada yang pensiun, ditarik ke kantor pusat, mendapatkan kesempatan di tempat lain, mendirikan usaha, hingga yang merupakan pangkat anumerta adalah yang meninggal dunia dalam tugas.

Bila dihitung rata-rata, dalam sebulan sekitar 1 hingga 2 orang kawan lulus dari pendidikan. Tentunya ini sebuah catatan yang baik sekaligus perlu dicermati. Dianggap baik, artinya kemampuan kawan-kawan yang lulus ini dianggap lebih, memiliki kemampuan, dan diapresiasi oleh perekrut / pengguna yang baru. Apresiasinya bentuknya beragam, dari naik kelas wewenang, fasilitas, hingga tentunya pendapatan.

Memiliki kemampuan, wajar, berarti sistem transfer pengetahuan tentang pembangkit listrik khususnya, sudah cukup bagus. Paling tidak di antara kawan-kawan yang sudah lulus pengetahuan pembangkitnya meningkat drastis. Kemampuan ini semakin terasah dengan terjun langsung mengerjakan proyek-proyek terkait pembangkit, dari sisi konsultansi, rekayasa, procurement, hingga pengerjaan proyek. Disiplin ilmu yang terkait dengan bidang usaha pembangkit ini juga cukup beragam, dari inti engineering terkait teknik, project control, administrasi, hingga pembiayaan. Begitu pula dengan kesempatan terjun langsung di bidang ini, bila diibaratkan orang yang belum bisa berenang atau baru belajar berenang, langsung diterjunkan ke aliran air deras, sehingga akhirnya kemampuan berenang tersebut menjadi terasah.

Di luar hal tersebut, yang perlu menjadi perhatian adalah kesinambungan proyek / pekerjaan yang ditangani oleh orang-orang yang lulus tersebut. Sedikit banyak, sebuah proyek cukup tergantung dengan sumber daya manusia yang menanganinya. Jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, personal yang memonitor perkembangan pekerjaan tersebut adalah orang yang sama, yang tentunya tidak semua orang mengetahui dan mengerti sejarah, proses, trik, dan bahkan detil pernik-pernik pekerjaan tersebut. Bila pelaku pekerjaan proyek tersebut berubah-ubah, dikhawatirkan kesinambungan sedikit terganggu. Juga, belum tentu personal yang menggantikan, dapat mengerti dan menangani pergantian personel tersebut dengan mudah dan cepat.

Maka, sebuah langkah preventif yang menguntungkan kedua belah pihak, yaitu pihak perusahaan yang diwakili oleh manajemen, dan pihak pegawai / karyawan yang berkarya sambil “bersekolah”, haruslah diambil. Pertimbangan kompetensi, apresiasi terhadap pekerjaan, keseimbangan antara beban kerja dan pendapatan, pemberian rewards dan punishment yang adil dan berimbang, haruslah segera diambil. Karena bila tidak, bisa jadi malah salah langkah, membuang potensi sumber daya yang bagus dan malah memelihara yang kurang bagus. Tetapi, ini semua hanyalah sebuah analisa duga-duga, yang boleh tentu sangat jauh dari kebenaran dan fakta sesungguhnya. Hanya sebuah wacana koreksi dan interospeksi agar semua dapat berjalan lancar dan sesuai rencana, yakni tepat waktu, tepat mutu, tepat anggaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: