Pantang Menyerah


Dalam perjalanan hidup saya setelah kuliah, dalam rangka mencari sesuap nasi dan segenggam harapan (bukan berlian), sudah banyak hal-hal manis, asin, pedas, pahit dan kecut yang saya alami. Betapa tidak, meski berlabelkan jebolan sebuah ptn di negeri ini, namun karena spesialisasi dan kekhususan bidang studi yang saya pilih, menjadikan pencarian itu hampir seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Saya akan menceritakan periode perjuangan saya saat menjadi seorang staf di pabrik sepatu, menangani hardware jaringan, sesuatu yang tidak ada hubungan dengan studi saya, melainkan hanya sebuah hobi ngoprek jaringan yang juga sangat jauh dari kata ahli. Di pabrik yang memiliki karyawan di kisaran 10 ribu orang, artinya satu orang karyawan hanyalah sebuah sekrup kecil di antara mesin yang besar. Namun jangan pernah meremehkan peranan sekrup tersebut.

Bagaimana saya berjibaku, berperan laksana monyet, sebagaimana guyon yang beredar luas di kalangan alumni PTN, manakala krisis ekonomi menerpa, segala macam pekerjaan dilakoni, termasuk menjadi pemeran pengganti monyet dan buaya di kebun binatang. Seperti itulah peran yang pernah saya jalani sekitar 1 tahun 2 bulan. Panjat menara & cable tray di atas ratusan kawan-kawan bagian produksi yang sedang asyik membuat sepatu Nike sambil menarik kabel UTP beberapa utas.

Tetapi, saya justru menikmati peranan tersebut, dengan berbagai plus dan minusnya. Meskipun baju harus kotor berdebu, naik turun ke lantai 3 dengan menggotong tangga, membawa gulungan kabel UTP dan telepon, kotak perkakas yang juga harus terbawa, saya jalani dengan riang gembira. Padahal, nominal penghasilan dari situ masih di bilangan satu koma. Kalau pas banyak lemburan dan reimburse uang transport, Alhamdulillah, bisa dapat satu koma atas.

Faktor lain yang membuat betah, kawan-kawan yang klop, baik hati dan bisa diajak ce-esan membuat hati tambah riang. Manajer yang asyik juga menjadi hal tersendiri yang bisa menyenangkan. Pasalnya, hampir tiap bulan selalu ada acara makan-makan, apakah itu makan nasi padang, sate, hingga makanan khas Cikupa, Sate Bacok. Ini yang belum saya temui di daerah lain.

Beberapa hal yang menjadi benefit sewaktu di pabrik, di antaranya mendapat akses internet unlimited. Langsung colok cpu-ku dapet IP Globalnya Indosat, tanpa pakai firewall-2an segala. Kecepatan ? tentu menjadi prioritas. Apalagi di tengah minimnya fasilitas internet yang bahkan bos-bos petinggi pabrik saja tidak memperolehnya.

Selain itu, sebagaimana kebiasaan di kampus dulu, saya juga sering nginap di pabrik, bahkan yang sekelas sekuriti saja tidak berani ke lantai 3 tempat saya biasa tidur.

Fasilitas lain ? ada telepon unlimited bila malam hari yang tentunya sulit dilacak nomer ekstensi yang melakukan panggilan karena tapping dari nomor dirut🙂. Juga televisi di kala piala dunia 2006 silam, full sebulan penuh, yang kadang saking bingungnya antara nonton TV atau film melalui proyektor di ruangan kantor.

Selain itu, berteman baik dengan kawan-kawan programmer juga menguntungkan. Kita tidak harus selalu disiplin absen karena dengan bantuan kawan programmer bisa menyisipkan absen kita ke dalam server SQL, meskipun absen menggunakan kartu bergelombang radio / elektromagnetik.

Nyaris Ditabrak KRL Pakuan Ekspress

Kemudahan-kemudahan ini ya harus digunakan secara optimal untuk meningkatkan performa dan harapan masa depan. Sesuatu yang tidak boleh terlupa adalah nyambi jualan untuk menambah penghasilan. Tentu resiko dan konsekuensinya banyak. Selain memasarkan lewat email dan sering dianggap nyepam (bom email ke ratusan/ribuan email yang berhasil diekstrak dengan program tertentu), pulang malam, baru bisa delivery setelah lewat jam kerja, hingga nyaris tertabrak kereta ketika sedang mengantarkan pesanan di daerah stasiun Kalibata.

Selain mencari sambilan, lamar sana lamar sini pun rajin saya lakukan. Wis, prinsipnya, kirim dan lupakan. Syukur kalo dipanggil. Alhamdulillah. Dalam masa setahun dua bulan tersebut, kalaulah dihitung aplikasi lamaran saya yang 99 persen melalui email, jumlahnya mungkin di kisaran 300 lamaran, termasuk di bidang aeronautika.

Dari jumlah itu, yang dipanggil hanya belasan, dan yang diterima ? Hanya dua. Yang pertama tidak saya ambil karena tawaran penghasilannya malah lebih rendah dan sepertinya benefit-benefitnya tidak semenarik di pabrik. Sedangkan yang kedua saya ambil karena secara benefit dan penghasilan lebih besar.

Maka, pamitanpun terpaksa saya lakukan ke kawan-kawan baik yang bertebaran di seantero pabrik. Teman-teman yang sudah mengajarkan bagaimana bisa survive dengan segala keterbatasan yang ada, bagaimana hidup di tengah kapitalisasi dunia yang sedemikian mencekik, dan pernah digaji dengan uang cash lima-ribuan. Juga belajar bagaimana mencuci printer dan motherboard yang ngadat sehingga akhirnya bisa berfungsi kembali.

Benat-benar sebuah tahapan hidup yang tidak terlupakan. Jadi, pelajarannya ? Kirim dan lupakan, serta senantiasa Pantang Menyerah !! (SON)

One thought on “Pantang Menyerah

  1. mulyanto says:

    Life is an adventure, Enjoy it🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: