Analisa Kegagalan Tim-Nas


Namanya juga analisa ngawur, tentu dilakukan bukan orang yang ahlinya, hanya sebuah obrolan, yang belum tentu menarik untuk dibaca. Berikut selengkapnya :
1. Sorotan media terlalu dan keterlaluan.
Layaknya reality show, bahkan hingga ke kamar mandi saja kalo bisa dikuntit. Pemain tidak bisa tenang, dan harus selalu jaga image di depan kamera. Media selayaknya melakukan evaluasi terkait hal ini. Apakah tidak ada materi liputan lain yang lebih menarik selain aktivitas real time pemain timnas ? Bukankah sisi keluarga pemain yang tidak terkait langsung dengan pemain bisa dijadikan fokus sorotan, juga bagaimana track recordnya selama ini, dll ?

2. Terlalu banyak acara tidak perlu yang harus diikuti.
Dari makan malam, temu politisi, hingga istighosah. Mengikuti acara ini memang tidak salah, tetapi, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk istirahat atau bahkan sekedar mengolah kebugaran tubuh, menjadi berkurang drastis. Belum lagi di jakarta yang sangat mungkin terjebak kemacetan di jalanan. Pemilihan skala prioritas yang tidak pada tempatnya inilah yang juga merembet pada hal-hal teknis dan non teknis terkait sepak bola.

3. Kebanyakan orang yang nebeng popularitas.
Dari presiden, menteri, politisi, dll. Tengoklah situasi di bukit Jalil, poster sang presiden, ketua PSSI dan ketua Golkar nebeng nampang di sana.

4. Refleksi budaya instan :
Kita pingin menang, sementara hal-hal yang esensial tidak diperbaiki. Lihatlah bagaimana pelayanan terkait sepakbola, khususnya dalam penjualan tiket. Begitu banyaknya animo masyarakat, tetapi tidak dibarengi dengan perbaikan sistem penjualan tiket yang memadai.
Selain itu, tiket yang beredar untuk kalangan atas justru lebih mudah didapatkan dengan sejumlah koneksi. Terus terang, saya pribadi malu karena justru dari lingkaran orang2 yang saya kenal, hal ini malah muncul. Sementara, saudara2 yang sangat antusias, dengan kemampuan membeli tiket berkisar Rp. 100 – 200 ribu, ternyata malah kesulitan.

Ini semakin diperparah dengan khususnya keinginan keluarga Presiden dan pejabat yang latah ingin ikut-ikutan menonton. Kalau rombongan presiden ke GBK, dalam membeli tiket menggunakan anggaran siapa ? apakah mendapatkan gratis yang berarti gratifikasi ? Harus ada klarifikasi resmi dari lembaga rumah tangga kepresidenan.

Rombongan presiden bukan jumlah yang sedikit. Bila setidaknya berjumlah 250 orang, berapa banyak masyarakat yang bisa disenangkan dengan tiket sejumlah ini ? Belum lagi jumlah pengamanan yang berlebih yang tentunya bisa mengurangi jatah jumlah penonton yang bisa masuk stadion.

Memang, kita tidak bisa pungkiri adanya kelas borjuis dan proletar, di mana borjuis adalah mewakili kesuksesan perekonomian masyarakat. Saya tidak anti kaum borjuis. Namun, alangkah terpuji dan terhormatnya bila jatah tersebut diberikan kepada kaum proletar yang dalah hidup sehari-hari saja untuk mendapatkan hiburan sudah teramat sulit. Selain itu, saya yakin, dari dukungan sorak-sorai dan semangat yang diberikan oleh supporter, penonton dari kaum proletar akan lebih bersemangat dibandingkan borjuis yang hanya loyo, dan diam saja.

Menyitir istilah salah satu kawan, semua pengaruh buruk dari luar tersebut sudah coba dinetralisir oleh peranan seorang Alfred Riedl, pelatih yang sangat bertangan dingin dan berkarakter itu. Namun, apa daya, semua sudah lewat.

Aspek teknis permainan :
Dari sisi permainan di laga final Malaysia-Indonesia, yang menjadi sorotan adalah lemahnya barisan pertahanan, kurang disiplin menjaga, dan terlalu sering membuat blunder dengan memainkan bola di daerah gawang. Sepengetahuan awam saya yang pernah menjadi barisan belakang, untuk mengambil pertahanan yang aman dari serangan, adalah dengan secepat-cepatnya mengeluarkan bola dari daerah belakang ke arah depan. Ini untuk meminimalisir resiko terburuk yang terkadang berawal dari hal-hal bodoh, seperti terjadi di Leg 1 Malaysia – Indonesia tempo hari. Parahnya, kelemahan yang sudah jelas di depan mata ini ternyata tidak dievaluasi oleh tim belakang, sehingga di babak awal Leg 2 kemarin juga sempat terjadi blunder demikian.

Markus, si penjaga juga beberapa kali terlibat blunder. Rata2 tiga kali blunder tiap pertandingan. Yang cukup parah adalah ketika melawan Thailand dan Filipina di leg 1 dan 2, yang sok pede meninggalkan sarangnya. Masih untung ada penyelamat yang menahan bola sehingga tidak masuk ke gawang.

Selanjutnya, di babak ke-dua saya sudah tidak tertarik untuk menonton, karena seperti yang digembor-gemborkan, kalaulah berkaca pada final liga champion di Turki antara AC Milan vs Liverpool yang bisa membalik kedudukan di menit-menit terakhir, selisih agregat yang harus dicapai Indonesia terlalu besar, sehingga kans-nya kecil. Ini hanya sebuah upaya menghibur dan menghapus dosa yang dilakukan oleh media terkait liputan keterlaluannya selama ini.

Tetapi, saya tetap salut dengan kawan2 tim nasional, yang dengan segala upayanya, segala macam plus minusnya, sudah mencoba menunjukkan yang bisa mereka lakukan. Sambil tentunya berharap, lembaga yang mewadahi olah raga di Indonesia, bisa lebih profesional dan tanpa intrik jahat politik dan orang-orang yang nebeng popularitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: