Sekadar Pendapat atas Kasus Handaya Aji yang Mulai Masuk Tahap Persidangan (3)


Sekadar Pendapat atas Kasus Handaya Aji yang Mulai Masuk Tahap Persidangan (3)
Eksepsi Ditolak, Peluang Kembali Fifty-Fifty

Setelah menjalani serangkaian persidangan melelahkan, sidang ketiga pekan kemarin, eksepsi atau sanggahan Handaya Aji melalui kuasa hukumnya atas dakwaan JPU, ditolak majelis hakim. Meski materi eksepsi cukup menyentuh esensi perkaranya, ternyata majelis hakim memilih menjalankan formalitas persidangan. Ketimbang menjatuhkan putusan sela di awal. Peluang pun kembali fifty-fifty. Berikut, lanjutan kupasan M Ari Mukhlason, sarjana teknik ITB Bandung dan Guntur S Prabandaru, aktivis di Pacitan.

SUDAH diputuskan, tidak ada putusan sela. Artinya, agenda persidangan dugaan penggelapan dana hibah kelompok tani atas terdakwa Handaya Aji tetap dilanjutkan. Bahkan, majelis hakim sudah memerintahkan untuk mendatangkan 12 saksi. Setidaknya, ada empat saksi yang dihadirkan tiap kali sidang. Ada apa sebenarnya? Mengapa setelah diberikannya penangguhan penahanan yang seharusnya menjadi awalan yang baik, justru eksepsi ditolak? Memang, dari sudut pandang yuridis, permintaan putusan sela itu tidak bisa serta merta diputuskan. Pasalnya, untuk pembuktian sebuah perkara, tidak bisa hanya bermain dakwaan-eksepsi, layaknya bermain pedang-pedangan. Dengan dua kali sruing-sruing.

Masuk akal memang, apabila persidangan tetap dilanjutkan. Pasalnya, dalam proses persidangan tersebut, Handaya Aji sebenarnya bisa cukup diuntungkan. Itu apabila ke-12 saksi tersebut mayoritas pendapatnya dapat disimpulkan bahwa sang terdakwa tidak bersalah. Atau setidak-tidaknya, tidak melakukan pokok dari materi dakwaan. Apalagi, jika nantinya sang terdakwa mendatangkan saksi ad-charge atau saksi meringankan. Tentu peluang untuk lepas ataupun bebas dari permasalahan ini akan kembali terbuka.

Meski begitu, saat ini peluang tersebut tampaknya masih fifty-fifty. Pasalnya, apabila merujuk dari pengalaman kami menjadi ”tamu” di beberapa persidangan (dalam perkara lain) ada pula kemungkinan terburuk. Yakni pendapat saksi ngelantur dari fakta. Tentu hal ini harus diwaspadai Handaya Aji dan para kuasa hukumnya. Pasalnya, bukan tidak mungkin, sumpah di bawah kitab suci hanya dibuat main-main.

Artinya, bisa dikatakan saat ini peluang yang dimiliki politisi PKS yang akrab disapa Yoyok ini masih setengah-setengah alias fifty-fifty. Lantas, seberapa besar peluang yang masih tersisa? Dari sudut pandang yuridis kami, jawabannya, masih besar. Mengapa?

Dari sisi legal positivistik, peluang Yoyok terbuka dari penuturan beberapa saksi yang menjelaskan gambaran sebenarnya atas permasalahan ini. Yang tentu akan sangat meringankan. Ditambah lagi saksi meringankan yang (jika mau) akan dihadirkan pihak terdakwa. Tentunya, dalam hitung-hitungan matematika, apabila saksi meringankan berjumlah tiga orang, ditambah mayoritas saksi utama yang bisa dikatakan meringankan ada sepuluh orang, artinya Yoyok sudah didukung 13 saksi yang cukup membuatnya lega.

Selain itu, dari faktor yuridis sosiologis, masyarakat yang merasa berutang budi kepada Yoyok atas advokasi yang dilakukan selama ini juga masih setia mengawal. Menjaga agenda persidangan dengan kemampuan sebisanya. Maklum, sebagai solidaritas sesama masyarakat Pacitan yang awam masalah hukum, dan selama ini merasa bermasalah karena bergesekan dengan program Pemkab yang tidak merakyat, perasaan senasib sepenanggungan masih sangat kuat. Sebagaimana kuatnya ikatan gotong royong di Pacitan.

Apalagi, tingginya gelombang dukungan dari kalangan masyarakat ini karena sebagian besar mereka mengetahui bahwa kasus ini hanya sebuah pesanan alias rekayasa. Selain itu, pergolakan politik di internal Pemkab, tampaknya juga bisa menjadi pengaruh. Pasalnya, kasus ini awalnya juga disinyalir berasal dari lingkup pendapa. Entah seberapa besar kebenarannya.

Tetapi, kalaupun itu benar, tentu pergolakan di internal Pemkab akan menjadi pengaruh besar. Terutama dengan kabar sakitnya Bupati Sujono. Dengan alasan melakukan ganti hati atau transplantasi liver di China. Apalagi, bupati yang sudah tidak mendapat kepercayaan dari partai pengusungnya ini, Partai Demokrat, belum lama ini diisukan meninggal. Tentu hal ini akan menjadi pengaruh tersendiri (tanpa kami bersuudzon ada intervensi di persidangan). Akhirnya, kita tunggu saja babak baru persidangan sang pejuang yang sarat kontroversi ini. Apakah dari keterangan saksi ini akan lebih memuluskannya untuk bebas, atau para kuasa hukumnya harus memutar otak menemukan pembelaan hingga novum atau bukti baru. Mudah-mudahan saja bisa happy ending. *** (bersambung)

Ditayangkan di Media Mataraman, Mingguan Lokal wilayah Mataraman Jawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: