Ketika Koruptor Dihukum Mati oleh Gusti Allah SWT


Sebuah Refleksi atas Meninggalnya Bupati Pacitan, Sujono

“Pacitan Iku Malati”. Itulah komentar salah seorang tokoh lokal Tulakan, Pacitan, Muhammad Badawi, BA, yang juga merupakan ketua MUI Kecamatan Tulakan manakala mendengar berita kematian Bupati Pacitan, Sujono (8/12/2010). Dalam bahasa Indonesia, “Malati” berarti bertuah, serta mendatangkan petaka bila diperlakukan sewenang-wenang dan ngawur.

Apa pasal ? Tokoh yang juga pernah mendirikan beberapa sekolah menengah pertama dan atas di Tulakan ini menyebutkan bahwa dulu, karakter orang Pacitan adalah gemar menjalankan tirakat, hidup sederhana, yang selain karena terpaksa oleh kondisi, juga sebagai bagian dari olah batin untuk semakin mendekatkan diri ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karakter ini pulalah yang membuat masyarakat Pacitan tahan banting, mampu bertahan di tengah kesulitan dan tantangan alam, dari minimnya air terlebih di musim kemarau, tanah yang gersang dan tandus, ditambah dengan letak yang berbukit, bergunung-gunung. Sementara akses dari daerah sekitarnya cukup menyulitkan dan jauh.

Tak heran pula bila secara umum tingkat perekonomian masyarakat Pacitan berada di bawah garis kemiskinan, dikategorikan sebagai daerah miskin dan tertinggal, terlebih bila dibandingkan daerah di sekitarnya, termasuk dalam regional Jawa Timur maupun di pulau Jawa. Salah satu indikatornya adalah Upah Minimum Kabupaten (UMK) tahun 2010 ini yang menempati urutan buncit terendah di Jawa Timur, yang berada di kisaran Rp.700an ribu bawah. Padahal saat ini, bila menilik potensi yang sudah ada di genggaman tangan Pacitan, di atas tanahnya kini sudah tumbuh subur berbagai tumbuhan dan tanaman komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Juga kekayaan lautnya, yang tentunya semua tahu bahwa kualitas ikan di pantai selatan Jawa termasuk terbaik di kelasnya. Begitu pula dengan kekayaan tambang alamnya, yang meski mendatangkan pro dan kontra terhadap keberadaannya, mampu membelalakkan mata, bahwa Pacitan bukanlah daerah dengan kelas ecek-ecek pada kekayaan alamnya.

Sosok Bupati Sujono
Bupati berkuasa, Sujono, merupakan figur yang cukup fenomenal dan beruntung dengan keadaan yang ada di tahun 2005, manakala Sujono mencalonkan diri sebagai kandidat Bupati yang diplot untuk menggantikan bupati berkuasa saat itu – Soetrisno. Sujono berangkat menggunakan kendaraan Partai Demokrat, sebuah partai politik yang tiba-tiba melejit laksana meteor di tengah malam buta. Melejit karena tokoh pendirinya, Soesilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden pilihan langsung oleh rakyat untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Indonesia. SBY yang terpilih menjadi presiden tahun 2004, mendapatkan suara kemenangan nyaris mutlak di Pacitan yang merupakan daerah asalnya.

Keberuntungan ini ternyata masih melingkupi Partai Demokrat yang mengajukan Sujono sebagai kandidat untuk bertarung menyingkirkan kandidat-kandidat lain yang juga mendaftar lewat partai ini untuk melawan Bupati incumbent. Ketua Paguyuban Warga Pacitan (PWP) di Jakarta ini juga memperoleh suara kemenangan mayoritas terlebih karena pada waktu itu disebut-sebut memiliki dukungan dari sang presiden, SBY.

Apalagi begitu menggebu-gebunya janji-janji manis Sujono sebelum menjadi bupati. Betapa banyak masyarakat tersihir. Bahkan, di Tulakan, salah seorang simpatisan yang akan menghadiri kampanye Sujono, saking kelewat semangatnya menjadi terburu-buru ketika mencari pakan ternaknya. Akibatnya fatal, yang bersangkutan tangannya tertebas sabit setelah jatuh dari pohon. Dan tidak lama kemudian meninggal dunia, meninggalkan seorang istri dan seorang anak yatim. Tim sukses yang mendampingipun sudah memberitahukan pada Sujono, bahwa ternyata sang calon bupati menjanjikan komitmen untuk membiayai anak yatim ini. Tetapi, pada kenyataannya buyar alias nihil.

Setelah menjadi bupati, Sujono juga kerap menyebut kedekatan hubungannya dengan Presiden SBY dengan mengaku sebagai kakak kelas Pak Presiden. Hal ini diceritakan oleh beberapa pihak yang datang ke Pacitan dalam kaitan dengan pekerjaan PLTU Sudimoro 2×315 MW.

Sepak Terjang Sang Bupati
Sebagaimana akan diurai buku ini, peran Sujono dalam upayanya “memajukan” Pacitan melalui program gerbang emasnya, banyak hal yang seharusnya berimbas positif, tetapi ternyata malah mendatangkan penderitaan lahir maupun batin untuk masyarakat.

Sebutlah pemberian izin operasional pertambangan di Kluwih dan Kasihan yang masih mencemari lingkungan hingga saat ini yang bahkan masyarakat berkali-kali mengadukan ini kepada pihak terkait, malah dijawab dengan pengerahan aparat Polres Pacitan sejumlah 300-an personel bersenjata lengkap; beroperasinya pabrik pengolahan konsentrat tambang di Arjosari yang terancam mencemari sumber air baku PDAM Pacitan; pemberian hak istimewa pengelolaan lahan wisata Pantai Teleng Ria kepada El-John Tirta; dan ide pembangunan bendungan di Kedungbendo.

Pemotongan APBD 2010 pada pos anggaran belanja modal. Bila besaran semula yang disepakati adalah di kisaran Rp.80 miliar lebih, pada akhirnya dipotong hingga separuhnya, sehingga realisasi anggaran tersebut hanya di kisaran Rp.40-an miliar. Akibatnya, kualitas infrastruktur yang secara kuantitas sudah minim, menjadi semakin memprihatinkan dan amburadul.

Bahkan dalam permasalahan APBD ini, dua tahun terakhir yakni 2009 dan 2010, APBD Pacitan mengalami defisit hingga Rp.20-an miliar lebih per-tahunnya. Akibatnya tahun 2010 ini Pemerintah Kabupaten Pacitan tidak mengadakan rekrutmen CPNSD yang seharusnya menggantikan pos-pos yang ditinggal pensiun oleh PNS sebelumnya. Ini semakin menambah catatan buruk pengelolaan APBD mengingat selama di masa kepemimpinan Bupati Sujono, kas daerah yang diduga raib tidak jelas peruntukannya mencapai kisaran Rp.30 miliar lebih.

Selain itu, proyek pembebasan lahan nampaknya tidak lepas dari sentuhan tangan-tangan jahat Bupati dan anteknya seperti kasus pembebasan lahan PLTU Sudimoro, Jalur Lintas Selatan, dan rencana pembangunan waduk bendungan Kedungbendo yang ditolak mentah-mentah oleh elemen masyarakat dan terpaksa dibatalkan.

Kasus penyalahgunaan dana Pengentasan Kemiskinan (Taskin) yang dipergunakan untuk membuat lahan usaha tambak udang yang melibatkan kerabat dekat Bupati dan sejatinya sudah masuk meja hukum, juga lenyap ditelan bumi. Begitu pula kasus pengadaan buku ajar yang bila di daerah lain pihak-pihak yang terlibat bahkan hingga tingkat Bupati sudah menjadi pesakitan dan divonis hukum, di Pacitan justru masih adem ayem saja.
Belum lagi pungutan liar pada penerbitan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) yang dilakukan secara sistematis terorganisir rapi dan terstruktur oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan, dan juga perizinan pendirian menara telekomunikasi Base Transciever Station (BTS) yang diduga melibatkan kerabat pendopo.

Ketiadaan kontrol masyarakat yang konsisten, minimnya pemberitaan media yang berimbang, menjadikan penguasa semakin jumawa. Ini didukung oleh sikap masyarakat yang sabar dan nrimo sehingga hanya sedikit pihak yang berani terang-terangan menyuarakan ketidakbenaran sang Bupati. Bahkan segelintir pihak yang selama ini aktif mengoreksi dan menyoroti penyelewengan yang dilakukan jajaran pemkab terhadap masyarakat ini, dicoba untuk dibungkam, diberangus supaya tidak lagi bersuara. Salah satunya adalah wakil ketua DPRD Pacitan, Handaya Aji alias Yoyok. Upaya pembungkaman ini dilakukan jajaran pemkab Pacitan secara sistematis dengan menggunakan kasus pemberian dana hibah Lembaga Ekonomi Pemberdayaan Masyarakat Mandiri – LEPMM. Dana hibah yang masih menjadi polemik ini dikucurkan pada tahun 1998/1999 melalui Departemen Koperasi. Yoyok menerima dana ini semasa masih menjadi ketua kelompok tani Damai.

Kini, kasus kriminalisasi ini sudah masuk di ranah persidangan selama hampir dua bulan. Dan uniknya, di tengah perjalanan persidangan, didapati fakta yang semakin melemahkan dakwaan penyidik polisi dan kejaksaan akan kasus ini. Bagaimana kasus ini berakhir, hanya waktu dan persidangan yang dapat membuktikan.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik
Umur, jodoh, rezeki, semua di tangan Allah. Adalah kewajiban bagi kita memanfaatkan hal-hal tersebut untuk kebaikan bagi sesama, tanpa adanya intrik curang, culas, dan perilaku aniaya terhadap sesama. Terlebih bagi pihak-pihak yang sedang diberi amanah kepercayaan untuk memimpin, mengelola wilayah, khususnya Pacitan. Tanggung jawab kepemimpinan ini seharusnya dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi yang ada tanpa merusak, tanpa mendholimi, mencuri, maupun menyakiti hati masyarakat. Sebagaimana pepatah melayu, Raja Alim Disembah, Raja Lalim Disanggah. Adalah sebuah penggambaran yang sangat bagus terlebih di masa keterbukaan dan peran aktif masyarakat untuk mengembangkan diri dan lingkungannya.

Maka apabila penguasa bersifat mengayomi, melindungi, mengembangkan potensi tanpa merusak maupun menyakiti rakyat, tentu rakyat akan bersuka-rela mendo’akan yang baik untuknya, mendukung program-programnya, serta taat di belakangnya. Namun bila ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, tentu laknat masyarakat, doa orang-orang yang teraniaya, para pencari keadilan yang sudah terpinggirkan secara sistematis, akan tidak ada halangan lagi dengan Gusti Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Hakim Yang Adil Mutlak. Yang tidak pernah tidur, dan senantiasa mengawasi perilaku hamba-hambaNya.

Kini, kalam sudah diangkat untuk catatan Sang Bupati Sujono, yang menurut segelintir masyarakat meninggal karena dihukum mati oleh Allah SWT, dan dikubur tepat pada hari antikorupsi sedunia, 9 Desember 2010 yang tentunya bukan sebuah kebetulan semata. Menjadi sebuah perlambang yang luar biasa, bahwa koruptor tidak layak hidup di bumi Pacitan dan harus dikubur, dipendam.

Bupat Sujono meninggalkan torehan positif dan negatif di masyarakat. Tugas kita untuk meneruskan yang positif, dan mengoreksi yang negatif. Untuk urusan amal, tentunya hanya Allah Yang Maha Tahu. Namun, untuk urusan dunia, terlebih yang berkaitan dengan hal ihwal terkait utang-piutang, masyarakat masih bisa mengusutnya hingga tuntas, melalui berbagai sistem mekanisme hukum dunia yang diharapkan masih bisa adil dan transparan.

Salah satu instrumen hukum yang sebenarnya masih diharapkan adalah lembaga Kejaksaan Negeri Pacitan. Namun, hingga tulisan ini dibuat, ternyata harapan hanyalah tinggal harapan. Bahkan sebagaimana tertulis di pemberitaan running text salah satu TV Swasta (12/12/2010), Kepala Kejaksaan Negeri Pacitan terancam dicopot oleh Kajati Jawa Timur karena gagal memenuhi batas minimal tiga kasus untuk pengusutan kasus korupsi. Padahal, dari sekian banyak indikasi yang sudah sedikit diuraikan di atas, banyak sekali kejahatan korupsi dan turunannya yang tentunya layak diproses hukum hingga tuntas. Namun manakala sudah tidak bisa diharapkan lagi, sekali lagi, Allah tidak tidur, akan memproses dengan adil dan teliti kelakuan setiap makhluknya, termasuk pejabat di Pacitan yang mempermainkan masyarakat.

Mungkin hanya inilah harapan yang bisa disemayamkan dalam benak masyarakat korban ketidakadilan di negeri Pacitan, Bumi sang Presiden saat ini.

Pemimpin Baru, Harapan Baru
Kini, harapan baru sepertinya akan segera terbit, menjelang tengah malam tanggal 21 Desember 2010, Bupati baru Pacitan akan dapat segera diketahui hasilnya, setelah menjalani prosesi seleksi langsung melalui Pemilihan Kepala Daerah – Pilkada pada hari Senin 20 Desember 2010. Tentunya masyarakat berharap, rakyat tidak lagi menjadi komoditas politik, sing diapiki wektu butuh lan dilalekne wektu lungguh, Baik pada waktu dibutuhkan, dan dilupakan manakala sudah duduk di kursi kekuasaan, sebagaimana slogan dari Mas Dibyo, calon bupati yang gagal maju.

Wakil Bupati, pada sambutan upacara meninggalnya Sujono mengatakan bahwa segala macam janji Sujono batal dengan meninggalnya beliau. Akan tetapi, segala urusan utang piutang, uang yang menjadi hak rakyat Pacitan, akan senantiasa menjadi tuntutan dan menghalangi perjalanan ke alam baka selama tidak diselesaikan. Begitu pula dengan tindakan aniayanya terhadap rakyat, hingga dimaafkan, akan menjadi sebuah catatan yang dipertimbangkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga masyarakat Pacitan yang teraniaya oleh sepak terjang Bupati bisa memaafkan.

Semua kasus yang ditinggalkan Bupati Sujono ini merupakan pelajaran berharga dan pekerjaan rumah yang besar dan harus diselesaikan oleh Bupati Pacitan mendatang, semuanya tanpa terkecuali. Kecuali bila Bupati mendatang ingin bernasib sama dengan Sujono. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: