Kenapa Pesawat Take-Off & Landing Menantang Angin ?


Karena domisili sehari-hari di daerah approach Bandara Juanda, ada fenomena unik yang bisa menjadi pegangan, dan cukup valid. Fenomena tersebut adalah pertanda cuaca sedang tidak cerah, yang bisa berarti menjelang hujan, akan ada angin besar, atau apapun yang mengindikasikan cuaca sedang tidak ramah.

Pertanda tersebut adalah arah take-off dan landing pesawat yang berubah dari biasanya. Pada kondisi cerah, pesawat di Bandara SUB (kode internasional untuk bandara Juanda), pesawat landing dan take-off ke arah 09 atau ke arah timur. Jika kondisi normal ini, berarti rumah saya yang berada di sebelah barat bandara akan dilewati pesawat ketika akan turun. Badan pesawatpun terlihat jelas, termasuk logo operator airlines yang menerbangkan pesawat tersebut. Tentu, suaranya tidak terlalu kencang, kecuali pada pesawat-pesawat tua jenis tertentu, seperti B732 atau bahkan Hornetnya AU Australia.

Ketika pesawat take off ke arah rumah saya, berarti arah angin sedang berubah. Dari yang semula dominasi dari laut, maka sekarang menjadi dari barat. Akibatnya, arah pesawat take-off dan landing ke arah 27 atau 270 derajat dari arah utara.

Pertanyaannya, mengapa pesawat take-off dan landing menantang arah angin ? Bukankah bila searah dengan angin justru akan terbang lebih cepat ? Pesawat, untuk terbang membutuhkan sebuah gaya, yang dinamakan Gaya Angkat. Gaya ini timbul akibat interaksi permukaan penghasil gaya angkat dengan udara di sekitarnya. Permukaan yang dominan menghasilkan gaya angkat adalah sayap, ekor horizontal, dan elevator.

Interaksi yang paling berimbas nyata, adalah kecepatan aliran udara di sekitar permukaan / pesawat tersebut. Adanya kecepatan tersebut, karena profil atas dan bawah sayap dan kawannya tadi berbeda antara permukaan atas dan bawahnya, maka akan timbul beda tekanan antara permukaan atas dan bawah. Pada permukaan atas, karena jarak tempuh udara lebih jauh, tekanan lebih rendah. Akibatnya resultan tekanan mengarah ke atas.

Pada kasus pesawat menantang arah angin, resultan kecepatan angin di sekitar pesawat adalah jumlahan kecepatan aktual / nyata pesawat ditambah dengan kecepatan angin di luar pesawat. Hasilnya tentu besar, dibandingkan bila pesawat terbang searah dengan angin. Karena resultan kecepatan yang diperoleh adalah Kecepatan aktual pesawat dikurangi kecepatan angin. Bila kecepatan anginnya lebih besar dari kecepatan pesawat, dapat dipastikan pesawat seperti terdorong ke depan sehingga seolah-olah kehilangan gaya angkat.
Dalam rumus aerodinamika dasar, gaya angkat (L, Lift), dirumuskan sebagai fungsi dari kuadrat kecepatan pesawat, massa jenis udara, koefisien gaya angkat dan luas permukaan penghasil gaya angkat. Persamaannya adalah : L=0.5 x rho_udara x V_pesawat^2 x S x Cl

Mengenai apa itu koefisien gaya angkat, silahkan dicari referensi di literatur aerodinamika terkait.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: