Pekerjaan Besar : Menikahkan Sister


Salah satu hajat besar yang cukup membuat was-was, cemas alias khawatir, adalah pernikahan saudariku satu-satunya. Betapa tidak, dengan kedua orang tua kami yang sudah sepuh, kondisi kesehatan Ibu yang kurang fit beberapa tahun terakhir ini, serta usia Bapak yang sudah di kepala 70-an tahun, terlebih kami hanya dua bersaudara, menjadi sebuah kerumitan tersendiri. Apalagi jauh-jauh hari selalu ada saja kendala yang terasa agak menghambat. Padahal hajat pernikahan ini kebetulan agak bersamaan dengan dua hajat besar yang juga saya laksanakan.

Alhamdulillah, dengan disokong penuh oleh kakak-kakak sepupu dan dukungan dari adik-adik sepupu, satu-persatu masalah coba kami uraikan dan selesaikan. Mulai dari penentuan hari yang tentunya di kebanyakan masyarakat Jawa masih menjadikan hari-hari tertentu sebagai hari pantangan, bentrok dengan jadwal pekerjaan yang sedang genting, serta beberapa adat-adat yang cukup membelenggu upaya penyegeraan pernikahan ini.

Selesai masalah hari, tenggat waktu yang tidak seberapa lama (kurang dari dua bulan), tentunya upaya untuk merealisasikan pernikahan tersebut semakin penting dan kritis. Dari masalah acara, finansial, daftar undangan, persiapan tempat, peralatan hingga ke hidangan dapur menjadi poin penting untuk dikritisi. Karena pelaksanaan pernikahan (akad nikah dan walimah) dilakukan masjid dan di rumah sendiri dan berada di pedesaan, otomatis tidak menyewa katering dan semuanya dikerjakan secara gotong-royong bersama para tetangga.

Setelah dari keluarga memiliki konsep acara pernikahan, para tetangga diundang untuk hadir membahas kepanitiaan beserta hal-hal detail yang bersifat teknis untuk hari H kelak. Di forum ini ditunjuk masing-masing penanggung jawab, dari ketua panitia, sie konsumsi, peralatan dapur, bagian dapur, bagian acara, dekorasi, dokumentasi, tata rias pengantin, tempat singgah, penjemputan, penerima tamu, undangan, dan beberapa macam lagi yang cukup detail.

Sebagai koordinator bayangan, karena mewakili keluarga, ternyata saya tidak bisa diam begitu saja. Selain menggawangi pembuatan undangan, saya juga menelpon famili yang seharusnya mendapatkan kabar rencana pernikahan ini. Sehingga, pulsa telepon bukan lagi ukuran yang harus diperhatikan. Sumber daya printer dan laptop serta pengetahuan dasar tentang mail merge saya kerahkan untuk mencetak undangan satu-persatu. Ini kami kerjakan berdua, bersama calon pengantin perempuan. Di sini, 80 % daftar undangan yang tercetak sudah benar dan siap diedarkan. Padahal undangan ini saya cetak di Surabaya, dan kemudian saya bawa estafet ke Magetan, lalu ke Pacitan. Perjalanan Surabaya – Magetan menggunakan bus, sedangkan Magetan – Pacitan menggunakan Jupiter MX. Belum lagi di tengah jalan harus mendrop undangan di rumah beberapa famili. Pokoknya merangkap sebagai kurir plus-plus.

Acara pinjam-meminjam peralatan juga tidak kalah seru. Dari piring, sendok, gelas, mangkok, nampan, kursi, sound system, tenda terob, meja, hingga ke dekorasi pengantin menjadi pernik-pernik yang tidak boleh dilupakan. Belum lagi belanja-belanja yang saya juga dilibatkan. Benar-benar tidak bisa bernafas…. Malam menjelang hari H, sudah beberapa hari tidur tak nyenyak, punggung dan pinggang terasa pegal, belum lagi pikiran yang cukup khawatir membayangkan acara esok hari. Padahal saya harus tampil pula mendampingi keluarga dari pihak laki-laki.

Ketika tiba hari H, yang bertepatan dengan hari Jumat, acara tidak dapat dipanjang-panjangkan. Harus singkat dan padat. Belum lagi keinginan pihak keluarga yang mencoba berimprovisasi terhadap acara yang ada, cukup membuat gregetan. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Acara sudah selesai menjelang sholat Jum’at. Dari prosesi akad nikah hingga walimah sudah beres. Tinggal tersisa barang-barang pinjaman yang harus dibereskan. Padahal masih ada juga keluarga yang baru datang dari luar kota maupun akan menginap. Tentu menjadi perhatian tersendiri, untuk bisa bertegur sapa, serta membahas isu-isu keluarga maupun ngobrol ngalor-ngidul sesuai tema. Simpulan saya, memanage tamu sebanyak itu (perkiraan hadir 400 orang lebih) memerlukan trik tersendiri, apalagi bila di desa, kita harus cukup berinteraksi tidak hanya sambil lalu.

Sore hari, bakda ashar, ternyata tenaga telah terforsir habis. Giliran mayoritas tamu sudah pulang, saatnya untuk merebahkan punggung yang luar biasa penat. Sambil memikirkan, apa lagi yang harus dikerjakan setelah ini, sebelum akhirnya semuanya selesai. Sudah gitu, malam harinya, Bapak masih mengundang bolo sholawatan untuk mengumandangkan sholawatan khotaman nabi di masjid. Maklum, semenjak tiga tahun terakhir, bila ada acara2 tertentu, paling tepat ya mengundang teman2 sholawat. Dimulai jam 21.00 dan baru berakhir jam 04.00 WIB. Lumayan lah, untuk “mengganggu” pengantin baru dengan segala aktivitasnya🙂.

Hari ke-dua, saatnya mengembalikan segala pinjaman. Dari kursi, gelas, piring, sendok, terob dkk. Alhamdulillah team masih solid, termasuk divisi angkutan truk yang mengerahkan armada dari tetangga baik – Mas Prayit. Total pengeluaran untuk masing-masing item bila boleh dirinci sbb : – Sewa terob plus mobilisasi : 4 x 6m x 4m = Rp. 350.000 / hari – Sewa Kursi @ Rp. 300 x 320 kursi = 96.000
– Sewa Gelas @ Rp. 70 x 400 pcs = 28.000
– Sewa Piring + Sendok @ Rp. 70 x 800 pcs = 56.000
– Sewa Mangkok + Sendok @ Rp. 70 x 400 pcs = 28.000
– Dekorasi + Rias + Dokumentasi = Rp. 3.500.000,-
– Sewa Sound System = Rp. 450.000,-
– Sewa Mobil APV jarak 300 km pp = Rp. 700.000,-
– Sewa Bus 3/4 jarak 300 km pp = Rp. 1.100.000,-
– Biaya KUA = Rp. 300.000,-
– MC = Rp. 100.000,-
– Taushiyah = Rp. 200.000,-
– Qari’ = Rp 100.000,-

Selain ongkos sewa-menyewa di atas, masih ada pengeluaran lain. Porsi terbesar adalah untuk konsumsi selama acara berlangsung. Lainnya adalah untuk cetak undangan, bensin, dan beberapa pernik-pernik kecil yang bila dijumlahkan ada di kisaran ratusan ribu rupiah. Adapun untuk konsumsi perkiraan ada di kisaran 9 – 10 jt. Tidak lupa juga sekedar uang lelah untuk tetangga-tetangga yang sudah berbaik hati membantu terselenggaranya acara tersebut.

Selesai acara ulih-ulih, sore hari ke-dua saya harus cabut ke Surabaya. Maklum, anak istri belum pernah ke sana semenjak melahirkan. Padahal jadwal tersebut tertunda terus berkaitan dengan acara pernikahan ini. Jam 16.30 start dari rumah, mengendari Jupiter MX, naik gunung di ketinggian puncak 910 m dpl, lalu turun berkelok tajam, menuju tegalombo – slahung – balong – ponorogo. Karena terpaku harus menaruh motor di Maospati, jalur selanjutnya adalah Lembeyan – Gorang-gareng – Bendo – Lanud Iswahyudi – Maospati. Sampai di maospati sudah jam 19.00. Selesai makan lele, motor dititipkan, dan kemudian mencegat bus Mira menuju Surabaya. Sampai rumah sudah menunjukkan jam 23.30 WIB. Perjalanan memotong pulau Jawa, dari pantai selatan ke pantai utara. Paginya, sekitar jam 10.00 perjalanan dimulai lagi. kali ini menuju Perak – Jombang. Tapi beban sudah tidak seberat hari sebelumnya. Jam 1145 sudah tiba di Perak. Acaranya adalah kirab manten alias mengantar manten baru menuju rumah manten laki-laki. Benar-benar acara yang sangat panjang rangkaiannya.

Kini, semua sudah berlalu. pekerjaan-pekerjaan besar ini Alhamdulillah sudah terlampaui dan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya pribadi. Insya Allah sangat bermanfaat di masa depan. Allahummanf’naa bimaa ‘allamtanaa wa ‘allimnaa maa yanfa’unaa. Aamiin (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: