Pekerjaan Besar : Merombak Rumah


Menjelang berakhirnya tahun 2009 hingga pergantian tahun 2010, tiga pekerjaan besar dan beberapa pekerjaan kecil saya Alhamdulillah sudah usai saya tangani. Betapa tidak, masing-masing menuntut perhatian dan kehadiran saya, tanpa terkecuali. Yang pertama, di awal Desember, rencana renovasi rumah cicilan, saya mulai. Hal ini sudah kami rencanakan jauh-jauh hari, dengan menabung, sedikit demi sedikit untuk mewujudkannya. Kenapa waktunya dipilih ini ? Tidak lain karena juga hampir bersamaan dengan rencana cuti melahirkan anak pertama yang akan dijalani istri.
Merombak Rumah
Renovasi rumah, berupa merombak bagian belakang, dari yang semula berupa dapur saja, dimodifikasi dengan penambahan ruangan dan fungsi. Menambah dua kamar, menambah satu kamar mandi, ruang sholat, serta tetap mempertahankan fungsi dapur yang sudah ada. Satu-satunya cara dengan keterbatasan lahan (hanya kurang dari 7 m X 4 m, adalah dengan membuat dua lantai. Lantai dasar difungsikan sebagai dapur, mushola, dan kamar mandi. Sedangkan lantai dua untuk kamar 3 dan 4, serta ruang tengah lantai 2 masih bisa dipergunakan untuk menaruh mesin cuci, jemuran, meja setrika.

Dan ternyata, renovasi itu memiliki kerumitan yang lebih dibandingkan membangun dari nol. Kita harus mempertimbangkan interfacing, penyesuaian-penyesuaian dengan struktur dan fungsi bangunan yang sudah ada, seperti letak saluran air, peletakan kolom-kolom beton yang sudah ada, rangka atap, maupun tinggi bangunan yang sudah ada sebelumnya. Belum lagi keterbatasan dengan lahan yang kanan kiri dan belakang dimiliki oleh tetangga. Maklum, letak rumah yang berada di tengah-tengah, membuat kanan, kiri, dan belakang adalah lahan otorita tetangga. Maka, sebelum pekerjaan meluruhkan sebagian tembok untuk dipasangi kolom yang baru, harus terlebih dahulu meminta izin ke tetangga. Dengan mendatangkan ahli bangunan (tukang) 4 orang dari Magetan, pekerjaan dimulai. Tembok yang akan dipasang kolom dibobol. Tetapi ini tidak mudah karena ternyata campuran adonan semen dan pasir di tembok yang lama cukup liat dan keras. Ini membuktikan kami tidak salah memilih kualitas perumahan🙂. Membobol tembok ini memakan waktu seminggu sendiri. Padahal jumlah kolomnya ada tambahan 10 buah.

Memasuki minggu ke-dua, belanja bahan bangunan dimulai.
* Untuk steger / tiang penyangga dak beton yang akan dipasang, ada beberapa pilihan, yaitu bambu, kayu kaso / usuk uk 4 x 6 cm, atau steger jadi dari besi. Akhirnya setelah menggunakan pertimbangan kemudahan mendapatkan, kami pilih bambu batangan. Peletakannya berkisar antara 40 x 40 cm s/d 50 x 50 cm.

*Untuk alas bagian bawah cor, kami pilih tripleks dengan ketebalan 4 – 6 mm, dengan pertimbangan cukup kuat, tidak terlalu mudah lentur, menyesuaikan dengan kerapatan tiang steger bambu, serta kehalusan permukaan bawah dak yang tidak lagi dipasangi plafon atau diaci, serta harga yang masih terjangkau.

* Besi tulangan dak. Untuk kolom kami pergunakan uk 12 mm, tetapi di sini saya baru tahu, ternyata ada beberapa tingkatan kualitas dan diameter besi tersebut. Dari yang eksak hingga banci. Karena pas membuat kolom sudah kadung membeli yang agak banci, untuk dak saya tidak mau yang banci. Balok saya pergunakan ukuran 12 mm yang kelas A, sementara untuk dak saya gunakan ukuran 10 mm dan 8 mm. Adapun untuk ring pengikat (entah apa istilah yang bener), saya gunakan 6 mm. Jumlah totalnya sudah lupa.

* Semen, saya gunakan semen gresik, biarlah katanya lebih mahal, dan saya dapat di kisaran Rp. 43.500 s/d 45.000, dan selama membangun dalam durasi 3 bulan, mengalami kenaikan bertahap lima ratus perak.

* Pasir, ternyata yang cukup bagus berasal dari brantas dan sidoarjo. Namun, karena bertepatan dengan musim obrak-obrak penambang pasir di sungai brantas, sempat agak kesulitan juga mendapatkannya. Harga 1 rit truk ukuran 6 m3 ada di kisaran 550 – 700 ribu.

* Koral cor, menggunakan ukuran 20 – 30 mm.

Tidak lupa pula disiapkan jalur2 plumbing / perpipaan untuk drainase jalur talang air hujan, pipa air kamar mandi, maupun pipa kabel listrik yang akan ditanam di dalam dak beton. Untuk kabel, saya gunakan uk 2×2.5 mm bila merupakan jalur utama dan digabung dengan 1×2.5 mm kabel kuning untuk ground. Sedangkan untuk percabangan menggunakan uk 2×1.5 mm dan 1×1.5 mm. Ini berdasarkan hitungan beban yang akan dilayani oleh kabel tersebut.

Lama persiapan dak kira-kira 4 – 7 hari, bergantung tenaga kerja yang terlibat. Dalam pekerjaan cor, pertimbangkan untuk menyewa molen / mesin pengaduk adonan untuk mempercepat pengerjaan serta penambahan tenaga kerja khusus untuk mengangkat timba berisi adonan cor. Ini mengingat adonan tidak boleh kering selama dalam pengerjaan. Sewa mesin molen kecil (skala rumahan), ada di kisaran 250 rb per hari. Itu sudah mencakup mobilisasi dan bahan bakar. Setelah proses pengecoran selesai, para pekerja libur terlebih dahulu selama seminggu. Namun jangan lupa untuk selalu menyirami permukaan dak beton yang dalam proses pengeringan agar tidak pecah-pecah karena mengalami pengeringan lokal yang tidak seragam.

Pasca pengecoran, kegiatan selanjutnya adalah membangun dinding di lantai dua yang berbatasan langsung dengan dapur tetangga. Jangan sampai adonan kececer di rumah tetangga, bila tidak mau dikomplain. Persiapkan juga antisipasinya. Untungnya, pas ngecor, nembok, bahkan sampai selesainya mbangun, tetangga belakang rumah yang mayoritas dapurnya beririsan, tidak sekalipun menampakkan batang hidungnya. Entah ke mana, tetapi sepertinya sekarang sudah kembali ada.🙂

Tembok berangsur selesai, giliran talang air. Untuk model atap berbentuk V, dipilih talang cor untuk meminimalkan resiko bocor. Setelah itu pekerjaan atap dimulai. Pilihan rangka menggunakan kayu, galvalum, ataupun rangka baja ringan. Karena pertimbangan kebisaan, kepraktisan, dan biaya, saya pilih rangka kayu. Adapun untuk genteng, menggunakan genteng cor seperti genteng dasar paket dari perumahan. Jangan lupa genteng dicat supaya air tidak tembus.

Gantian ke urusan tangga. Karena luasan rumah yang hampir habis, tangga harus diminimalkan sedemikian rupa. Caranya dengan membentuk huruf U yang saling berimpit. Selain itu, kamar mandi 2, dipaksa bisa di bawah tangga. Padahal di situ ada bak mandi dan WC jongkok. Belum lagi sudut elevasi tangga yang harus ergonomis, imbang antara injakan dan undakannya, serta ketika melintasi tangga, kepala tidak terbentur balok lantai 2. Cukup rumit memang. Tapi dasar Pak Karmin hebat, Alhamdulillah semuanya bisa diakali. two thumbs up deh !! I recommend this guy for your building dech..

Finishing Touch
Ternyata, dari seluruh rangkaian pembuatan properti, yang paling memakan waktu adalah pekerjaan finishing. Contohnya pemasangan keramik maupun penambahan sana-sini yang semula belum terperhitungkan dalam agenda kegiatan.

Keramik, memiliki ribuan pilihan, baik dari ukuran, kualitas, warna, motif, tekstur, pabrikan, maupun bentuknya. Kita harus benar2 bisa memilih dan mampu menutup mata dan telinga manakala sudah menjatuhkan pilihan terhadap keramik jenis tertentu. Untuk keramik putih polos, ukuran 30 x 30 cm, paling murah di kisaran Rp. 25 ribu. Berangsur menaik berdasarkan ukuran, warna, dan motifnya. Rata-rata belanja keramik, per m2 ada di kisaran 35 ribu hingga 52 ribu.

Pemasangan keramik juga memiliki trik tersendiri, yang tentunya para tukang sudah mengetahui, antara lain direndam dulu agar bisa lebih rekat, serta diberi leletan semen. Untuk keramik yang di atasnya akan dilalui air semisal keramik kamar mandi, harus diperhitungkan seberapa cepat laju air akan mengalir, jangan sampai menggenang. Misalnya beda ketinggian 2 cm / meter atau yang lain. (tepatnya saya belum tahu). Kekasaran keramik juga menjadi pertimbangan agar ketika diinjak tidak licin atau membuat tergelincir. Terutama untuk lantai kamar mandi serta injakan tangga. Selain keramik, fasilitas sanitasi seperti toilet (jongkok maupun duduk), keran, bak mandi, maupun shower menjadi pernik-pernik yang tidak boleh dilupakan sama sekali. Banyak pilihan, yang tentunya dapat disesuaikan dengan budget yang dimiliki.

Fasa finishing ini merupakan tahapan yang tidak boleh kita lewatkan sama sekali karena ini bergantung pada fungsi, style maupun gaya yang kita inginkan. Pada tahapan ini, saya melakukannya dengan bolak-balik Surabaya – Magetan – Pacitan, bersamaan dengan beberapa agenda yang tidak dapat ditinggalkan. Apalagi perjalanan antar kota yang tidak bisa dibilang sebentar itu (lebih dari 4 jam), menggunakan kendaraan umum, seminggu sekali. Alhamdulillah meskipun sempat kurang fit, semuanya akhirnya tertangani, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Total, waktu yang saya perlukan untuk pekerjaan ini, dengan dibantu 4 tenaga kerja inti, adalah 3 bulan kurang beberapa hari. Adapun budget yang saya habiskan, dengan item di atas plus menambah tandon air di atas, serta memasang keramik di carport, ada di kisaran lima puluh lebih, tetapi tidak sampai enam puluh.

Yaa Allah, berkahilah rumah kami.. (SON)

.

Tagged , , , , , , , ,

12 thoughts on “Pekerjaan Besar : Merombak Rumah

  1. suhari says:

    seperti yg akan saya alami, aminnn smg rumahnya berkah, membawa kedamaian sukses n penghuninya sehat2 sll.

  2. dwi says:

    biaya jasa tenaga kerja berapa mas selama 3 bulan?

    wss

  3. mukhlason says:

    detilnya saya lupa Mas.

    Saya mbawa tukang dari sodara2 di kampung.
    Kalo tukang rate-nya sekitar 40 – 50rb/hr, Helper di kisaran 30 – 35 rb/hari; makan dari kita (3x), plus nginepnya.

    Kalau dirata2 jumlah kebutuhan tenaga kerja 3 – 3.5 orang/hari X 3 bulan.
    Nggak banyak, karena memang porsi kerjanya cuma menambah di bagian belakang.

    Paling banyak tenaga ketika proses pengecoran, mengerahkan 12 orang dan hanya setengah hari saja.

    Kalo untuk perkiraan awal, total biaya (material + tenaga kerja) utk renovasi ada di kisaran Rp. 1 – 1.5jt/m2. Dan bisa kita tekan bila kita awasi sendiri atau bahkan kalo sempat dikerjakan sendiri.

    Semoga memberi gambaran.

    • dwi says:

      suwun…nuhun…thanks

    • ambar says:

      untuk kayu penyangga cor beli atau sewa mas….tks

      • mukhlason says:

        Sebenarnya agak ambigu juga. Dibilangnya sewa sih, tapi karena ukurannya lebih pendek dari ukuran biasa (pake yg panjang 2.75 meter, bukan 3.10 meter), si pemilik bambu steger ogah2an ngambilnya. Lagian harganya sudah sperti harga jual bukan sewa. Terakhir kukasih ke tetangga2 yg mau pake aja.
        trims dah mampir

  4. merr says:

    makasih atas pengalamannya… saya di sby jg sedang ingin meningkat rmh ukuran 8 x 5 m tp masih bingung mengenai tukangnya… antara tukang kota dgn tukang kampung… klo borongan mereka minta 110 jt… apa itu wajar apa kemahalan ya? mks

    • mukhlason says:

      Itu sudah termasuk harga material ? kalo harga satuan jatuhnya 2,75 jt/m2.
      termasuk kelas menengah ke atas. tp biasanya klo borongan, khawatirnya kualitas asal2an n ngejar cepetnya aja.

      Tp klo nggak borongan, hrs ada yg tukang dipercaya betul, bs diarahkan, dan tidak memperlama pekerjaan. ribetnya harus belanja sendiri..

  5. merr says:

    iyaa itu sudah materialnya… kok seperti trrlalu mahal ya?🙂 saya sedang ingin mencoba balok beton instan sejenis citicon atau lantai panel AAC… apakah ada saran atau pengalaman ? tks

  6. Setyo says:

    Mas bisa dibantu kontak Pak Karmin, saya posisi di madiun… juga lagi ada rencana sama persis sampeyan, merombak rumah lama jadi 2 lantai… Mohon dibantu ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: