Orang-Orang yang Berperan di Sekitar Kita


Baru saja menyaksikan acara bagus yang semakin menyadarkan pada saya akan arti orang lain. Arti penting kehadiran orang lain di kehidupan kita.

Betapa tidak, jikalau kita hitung satu-persatu, sepertinya tidak akan cukup buku untuk mencatat. Dari kedua orang tua kita, kakak, adik, pakdhe, budhe, paklik, bulik, simbah kakung, mbah putri, mbah buyut. Tidak lupa pula saudara-saudara kita yang mengambil pera dengan tulus ikhlas melayani, berperan sebagai khadimah yang menyediakan dan mempersiapkan kehidupan kita sehari-hari.

Tidak lupa pula peran guru dan teman-teman baik yang dengan suka rela maupun terpaksa senantiasa membantu terlaksananya hajat hidup kita. Tidak terhitung banyaknya, dari kita masih dalam kandungan, lalu lahir ke dunia, tumbuh, lalu menjadi remaja dan dewasa.

Betapa kita dulu merepotkan kedua orang tua dengan berbagai hal, dari pipis di kasur, buang air, hingga rewel di tengah malam. Belum lagi menangis tanpa henti minta untuk dininabobokan. Ini semua saya sadari setelah dua bulan menjadi orang tua.

Belum lagi kerepotan orang tua da keluarga untuk memenuhi hajat hidup serta memberikan pendidikan sebagai bekal hidup kelak.

Sebagai contoh, saya menceritakan kebaikan teman-teman di kala kuliah, yang merupakan salah satu fragmen kecil dalam rangkaian gerbong kehidupan yang tengah saya jalani.

Dengan bermodal semangat, masa kuliah saya jalani dengan penuh uluran tangan kebaikan dari orang lain. Ada teman-teman semasa SMU, keluarga mindoan alias satu kakek buyut, induk semang rumah kos / kontrakan, dosen, staf departemen, hingga teman-teman baru di perkuliahan, dengan latar belakang yang beraneka warna.

Dengan modal finansial yang pas-pasan, tentunya fasilitas wah yang menjadi fasilitas dasar seperti komputer dan perangkatnya, alat transportasi, hingga tempat tinggal yang layak menjadi sesuatu yang perlu perjuangan untuk memperolehnya.

Tetapi, Allah Maha Kuasa. Orang baik ada di mana-mana. Lima bulan masuk kuliah, setelah tinggal bersama teman satu SMU, ditawari oleh paklik dan bulik untuk tinggal di rumah mereka. Cukup melegakan meski jarak dengan kampus menjadi sedikit lebih jauh, sekitar 5 km. Tetapi, meski jauh bisa tambah sehat karena ada sepeda gunung yang bisa saya genjot Cikondang – Sadang Serang – Tubagus Ismail – Dago – Dayang Sumbi – Kampus. Jalur yang cukup membuat ngos-ngosan.

Hikmah sehatnya, di awal semester 1 tes lari 6 putaran sabuga saya tempuh 13 menit lebih. Di akhir semester sudah menjadi lebih cepat di kisaran 11 menit. Kecepatan dan daya tahan meningkat dua menit. Hasil yang signifikan. Kebaikan yang lain, betapa sering teman2 meminjamkan fasilitas untuk saya pakai.

Sekarang, setelah menikah, bertambah lagi kebaikan yang saya terima, dari istri dan keluarga besar, apalagi setelah hadirnya sang buah hati di sekitar kami. Semuanya siaga 24 jam untuk berbuat kebaikan.

Maka, sesuai perintah Allah dan Nabi-nabinya, sebagai umat manusia kita diperintahkan untuk senantiasa berbuat baik terhadap segala sesuatu, bahkan hingga ke makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Disebutkan di salah satu hadits, bahwa Allah mewajibkan berbuat kebaikan atas segala sesuatu. Termasuk ketika menyembelih binatang, adalah dengan mempertajam pisaunya.

Di hadits yang lain, kita dilarang untuk membakar hewan yang masih hidup dikarenakan yang berhak menghukum dengan api hanyalah Allah taala. Kejadian ini diangkat untuk menegur salah seorang nabi yang membakar sarang semut setlah diggit semut tersebut.

Simpulan saya, kebaikan itu menular, dan harus ditularkan. Kalaulah kita tidak menerima balasan langsung dari orang yang kita berbaik hati padanya, pasti kita akan menerima kebaikan melalui orang yang lainnya.

Saya teringat cerita, ada seorang yang hendak pindah dari suatu wilayah karena merasa dijahati oleh tetangga-tetangganya. Dia lalu bertanya pada orang yang baru datang dari daerah yang akan dituju dan menanyakan bagaimana sikap penduduknya di sana. Dengan bijaksana, orang yang ditanya menjawab, sikap orang-orang di daerah tujuan sama dengan sikap penduduk daerah asal.

Demikianlah, bahwa segala sikap baik akan dibalas dengan kebaikan yang bahkan jauh berlipat, begitu pula kejahatan, dia akan dibalas pula.

Jadi, tunggu apalagi, mari kita berbuat baik pada sesama mulai sekarang. (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: