Sekilas Pembangkit Listrik Batu bara


Bismillahirrahmaanirrahiim

pltu batubara s

Oleh : Muhammad Ari Mukhlason *)

Proyek pemerintah pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap pertama sudah beberapa tahun berjalan. Pada tahap pertama ini fokus pembangunannya adalah pembangkit bertenaga batu bara, dengan spesifikasi batu bara Kalimantan. Kalor jenis batu bara Kalimantan berada pada kisaran 4.000 s/d 7.000 kCal/kg, sedikit lebih rendah dibandingkan batubara asal Sumatera. Ketersediaan batu bara Kalimantan diprediksi masih bisa menyangga kebutuhan konsumsi untuk industri pembangkitan selama 100 tahun ke depan.

Gambar PLTU Suralaya Merak Cilegon unit 1 s/d 7 berkapasitas total 3400 MW. Untuk cerobong yang lebih pendek terlihat memiliki dua cerobong kecil yang digabung, merupakan unit 4-5 dan unit 6-7. Saat ini juga sedang dibangun Suralaya unit 8 yang letaknya tidak jauh dari unit lama, berkapasitas 600 MW.

1. BATU BARA Sebagai Bahan Bakar dan Proses Mobilisasinya

Pada pembangkit ini batu bara selanjutnya disingkat BB, digunakan sebagai material bahan bakar. Dari tambang, ukuran BB yang dikirimkan dapat berupa bongkahan-bongkahan besar atau sedang. Bila bongkahan besar, kerugiannya yaitu terlalu banyak ruang kosong yang berisi udara. Bahkan dalam kondisi ini BB bisa terbakar sendiri karena mengalami pemanasan. Oleh karena itu, kebanyakan BB yang dikirimkan sudah dikecilkan lagi ukurannya menjadi berada di kisaran diameter 50 mm.

Gambar batu bara

PLTU Batu bara. Tampak cerobong asap, serta, konveyor pengangkut batu bara (bangunan miring dari bawah ke atas), boiler (bangunan beratap biru tinggi).

Dari tambang, batu bara diangkut menggunakan truk atau konveyor menuju dermaga atau pelabuhan batu bara. Di pelabuhan ini bila permintaan batu bara dengan ukuran tertentu, pihak penjual akan memproses BB agar sesuai ukuran yang diinginkan. Peralatan yang umum digunakan adalah sistem ban berjalan (konveyor) dengan mesin penghancur (crusher) sebagai komponen utamanya. Keluaran crusher dapat diatur diameter butiran BB yang dihancurkan. Setelah mencapai ukuran yang diinginkan, BB siap untuk dimuat ke dalam kapal atau tongkang menggunakan alat-alat bantu seperti grabber, excavator, ship loader, dan sejenisnya. Dari sini BB dibawa menuju dermaga tujuan.

Aktivitas penambangan batubara menggunakan excavator dan dump truck

Gambar tongkang (barge) bermuatan batubara sedang diangkut menuju tujuan. Diperkirakan tongkang bermuatan sekitar 5000 ton.

Selanjutnya, dari kapal BB dibongkar di dermaga tujuan menggunakan beberapa alat, antara lain, ship unloader, grabber, maupun excavator biasa. Selanjutnya BB dipindahkan menggunakan konveyor / ban berjalan ataupun menggunakan dump truk menuju lapangan penumpukan batu bara yang biasa disebut coal yard. Di sini BB harus diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi pembakaran sendiri dengan cara penumpukan dipadatkan dan secara berkala disiram air. Manajemen keluar masuk BB juga harus mengikuti prinsip FIFO (First In First Out – Pertama Masuk Pertama Keluar).

Gambar tumpukan batu bara di salah satu pembangkit listrik

Dari sini BB dipindahkan kembali untuk dibakar dan melewati beberapa tahap, yaitu deteksi logam dan pemisahan dari partikel logam menggunakan magnet pemisah (magnetic separator). Tujuannya agar konveyor tidak rusak terkena logam, crusher – penghancur batu bara tidak terkikis oleh logam, serta partikel logam tidak masuk ke tungku pembakaran. Pada aliran BB ini juga tersedia timbangan (belt scale / belt weigher) untuk mengetahui berapa banyak jumlah BB yang melewati konveyor. BB dipisahkan satu dengan lainnya, bila masih lebih besar ukuran butirannya dari kebutuhan akan masuk ke crusher, tetapi bila sudah lebih kecil langsung masuk ke lajur konveyor berikutnya. BB ukuran besar digerus oleh crusher, dikecilkan ukurannya sesuai kebutuhan tungku. Ukurannya dibuat sesuai spesifikasi pembangkitnya. Bila pembangkit bertipe stoker, ukuran butiran batu bara dibuat pada kisaran 20 – 30 mm. Sedangkan bila bertipe CFB (Fluidized Bed Combustion), butiran batu bara harus lebih halus seperti serbuk agar bisa melayang pada waktu pembakaran. Batu bara yang tidak hancur sesuai ukuran akan dikeluarkan dari aliran, yang tentunya jumlahnya sangat sedikit. Proses penggerusan ini terjadi di dalam crusher house.

Contoh diagram alir PLTU Batubara

Diagram yang lebih lengkap tipikal PLTU di Indonesia

Diagram pembangkit yang terletak di tengah daratan (inland)

Sisa Pembakaran : Fly Ash dan Bottom Ash

Selesai dibakar, sisa pembakaran BB berupa dua hal, yaitu debu terbang (fly ash) dan abu yang berada di bawah (bottom ash). Pada boiler bertipe CFB sisa pembakaran terbanyak adalah fly ash. Sedangkan pada boiler tipe stoker memiliki sisa terbanyak berupa bottom ash. Untuk memenuhi standar lingkungan, tingkat polusi sisa pembakaran harus diatur sedemikian rupa. Untuk mengurangi abu terbang digunakan multicyclone, sejenis alat yang menggunakan prinsip gaya sentrifugal untuk menjebak partikel abu terbang. Kelemahannya, bila boiler berjalan pada kondisi bawah, alat ini tidak terlalu optimal menyaring partikel abu. Tetapi keunggulannya harganya lebih murah. Alat lain yang digunakan adalah Electro Static Precipitator, semacam elektroda beraliran listrik yang dipasang di tengah cerobong asap yang akan memisahkan partikel fly ash dengan udara panas.

Adapun Bottom Ash pada CFB dikeluarkan dari ruang pembakaran menggunakan pipa-pipa yang berisi air untuk memindahkan partikel bottom ash berukuran hingga 10 mm. Bottom ash ini kemudian dikeluarkan dan dikumpulkan di suatu daerah tertentu. Untuk tipe stoker produksi bottom ash lebih banyak, dan ukurannya juga lebih besar. Materialnya dikumpulkan dalam kotak logam yang bila sudah penuh dipindah ke area pembuangan.

2. AIR, Sebagai Kebutuhan Utama Dalam Sistem Pembangkitan

Air, dalam sebuah pembangkit batu bara berperan sangat vital. Bila BB sebagai makanan, Air adalah minuman untuk pembangkit. Bagaimana hal ini terjadi ? Kebutuhan air dalam pembangkit bila dirinci sebagai berikut, Kebutuhan Primer : Air Murni yang berada dalam siklus utama, Air pendingin. Kebutuhan sekunder : Air untuk kebutuhan operator seperti toilet dan air minum, penyemprot debu.

Sarana pengolahan air

Kualitas air yang dibutuhkan juga berbeda-beda, sesuai dengan peran masing-masing. Untuk pendinginan, bila pembangkit berada di pinggir pantai, menggunakan air laut. Air laut disedot dan dialirkan ke dalam kolam-kolam pendingin dan kondenser untuk mengambil panas. Setelah itu langsung dialirkan ke laut. Jenis pendinginan ini dinamakan Once Through Cooling atau Pendinginan Sekali Lewat. Air pendingin ini diberi larutan hipoklorit yang merupakan hasil dari proses klorinasi. Ini bertujuan untuk membuat pingsan organisme laut yang tersedot masuk bersama air laut. Biota laut dengan dosis tertentu hanya pingsan dan tidak mati sehingga ketika sudah keluar dari aliran air dapat aktif dan sehat kembali.

Proses klorinasi ini menggunakan prinsip elektrolisis air laut dengan arus listrik searah (DC) yang dialirkan pada elektroda dengan air laut berada di dalam elektroda tersebut. Hasil sampingan dari klorinasi ini adalah gas hidrogen dan oksigen yang berbahaya jika terkena percikan api karena sangat-sangat mudah terbakar.

Setelah diberi larutan hipoklorit, aliran air dipisahkan menjadi dua, yang pertama digunakan untuk pendingin langsung, dan yang lainnya dimurnikan melalui beberapa proses sesuai peruntukannya. Proses pemurnian tahap pertama adalah penghilangan garam. Digunakan proses desalination yang hasil akhirnya adalah air tawar.

Sebagian air hasil penghilangan garam diproses lagi menuju penyaringan tahap berikutnya yaitu demineralization. Proses ini dimaksudkan untuk menghilangkan garam-garam mineral yang masih tersisa di dalam larutan air. Hasilnya adalah air murni yang memiliki bilangan konduktivitas uS (mikro Siemens) sangat kecil / mendekati nol.

Air hasil demineralization ini (biasa disebut air demin), penggunaan utamanya pada siklus boiler. Air demin dimasukkan ke dalam siklus sistem melalui kondenser. Di kondenser air didinginkan. Kemudian dipompa oleh pompa kondenser menuju deaerator. Di sini air dipisahkan dari partikel-partikel udara yang mungkin terlarut bersama dengan air. Partikel udara dikeluarkan melalui deaerator bagian atas, sedangkan air murni dikeluarkan lewat bagian bawah.

Diagram Kondenser

Gambar kondenser

Kondenser bila dibuka, isinya seperti gambar di atas, berupa pipa-pipa kecil (tube sheet) yang akan memindahkan panas dari uap air keluaran turbin ke air pendingin.

Gambar deaerator

Diagram kerja deaerator

Kemudian air ini dipompa oleh Boiler Feed Pump (BFP) yang merupakan pompa utama dan terbesar dalam sebuah pembangkit batu bara. Dari sini air sudah memiliki tekanan yang tinggi, tetapi temperatur yang dimiliki masih rendah. Setelah itu, masuk ke dalam Boiler. Boiler terdiri dari beberapa tingkatan sesuai suhu dan tekanan air yang berada di dalamnya. Pertama adalah Economizer. Di sini berfungsi untuk menaikkan air yang bertekanan tinggi tersebut beberapa derajat sebelum memasuki pipa utama pembakaran.

Gambar layout boiler

Gambar boiler

Gambar 3 Dimensi Boiler

Setelah melalui pipa economizer, air menuju pipa pemanasan utama. Di sini air yang sudah bertekanan tinggi dipanaskan sehingga temperatur naik drastis dan berubah fasa menjadi uap air. Selanjutnya uap air akan dialirkan menuju pipa superheater untuk ditambah lagi temperaturnya. Dari sini Uap air dialirkan lagi menuju steam drum yang berfungsi untuk menampung uap superpanas dan memisahkan bila masih terdapat fasa cair dalam uap air tersebut. Di bagian bawah berwujud cair akan dialirkan kembali ke dalam ruang pemanasan utama, sedangkan di bagian atas sudah berupa uap air panas murni. Uap murni ini dialirkan melalui pipa uap utama (main steam pipe) menuju turbin untuk memutar sudu-sudu turbin. Turbin dikopel dengan governor yang terhubung ke poros rotor generator.

Potongan melintang steam drum

Proses mengangkat steam drum, biasanya merupakan titik tonggak yang dirayakan bersama. Steam drum berwarna merah. Komponen ini merupakan komponen yang bekerja pada suhu dan tekanan tertinggi pada sistem pembangkit listrik sehingga terbuat dari bahan khusus.

Gambar turbin uap yang berada pada posisinya. Perhatikan ukuran orang dengan turbin. Dapat dipastikan turbin seukuran ini membangkitkan listrik lebih dari 200 MW.

Air yang sudah digunakan untuk memutar turbin, pada bagian tengah sudu akan diambil sebagian untuk memanaskan deaerator. Sedangkan bagian besar uap air akan tetap memutar seluruh sudu turbin hingga bagian belakang. Di turbin bagian belakang, uap air keluar. Tekanan dan suhunya sudah jauh berkurang. Ini berarti energi yang dimiliki juga sudah loyo, tersedot habis untuk memutar turbin. Tekanan dan suhu keluaran dari turbin ini dirancang dan diatur sedemikian rupa agar ketika keluar turbin masih berupa fasa uap, tetapi hampir jenuh. Harus berupa fasa uap agar tidak merusak sudu turbin dengan partikel airnya. Sedangkan hampir jenuh (hampir cair) dimaksudkan agar pendinginan yang akan dilakukan di dalam kondenser tidak terlampau berat. Setelah melalui kondenser, uap air berubah fasa menjadi cair, dan selanjutnya mengikuti siklus yang sudah disebutkan sebelumnya.

Gambar Turbin Uap

Meskipun siklus utama ini merupakan siklus tertutup, namun volume air / uap air yang terlibat di dalamnya perlu ditambah. Salah satu penyebab berkurangnya adalah bertambahnya nilai konduktivitas air sistem karena sudah melewati satu siklus pemanasan sehingga diperlukan adanya mekanisme blow down atau pengurasan volume air (tidak banyak) untuk mengurangi nilai konduktivitas air. Bila air siklus dibuang sedikit, lalu ditambahkan air demin yang memiliki konduktivitas lebih kecil akan terjadi pengenceran sehingga konduktivitas kembali kecil.

Kebutuhan air pendingin, selain digunakan di dalam pendinginan kondenser, juga digunakan untuk mendinginkan pompa-pompa sistem. Selain itu juga untuk mendinginkan oli / minyak pelumas yang digunakan untuk melumasi dan mendinginkan bearing generator, turbin, dan pompa-pompa.

Keluaran Listrik

Dari putaran turbin yang dikopel dengan rotor melalui gearbox, akan dihasilkan keluaran listrik dengan daya tertentu sesuai kapasitas pembangkitan. Nilai tegangan yang biasa ada adalah 6.000 Volt atau 11.000 Volt, tergantung rancangan keluaran sistem pembangkit.

Gambar generator yang terdiri dari stator (bagian yang tidak bergerak), dan rotor (komponen berputar). Kipas berfungsi sebagai pendingin koil / gulungan kawat tembaga agar tidak terbakar.

Gambar rotor

Gambar rotor

Kebutuhan listrik sendiri

Dari tegangan keluaran generator, sekitar 10 % daya yang dibangkitkan akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan listrik sistem pembangkit itu sendiri. Contohnya adalah untuk menggerakkan motor-motor pompa, motor konveyor, menyalakan sistem kendali, dan banyak lagi. Biasanya listrik untuk kebutuhan sendiri ini dibagi menjadi dua tegangan. Untuk motor-motor berdaya besar menggunakan tegangan 6.000 Volt, dan untuk motor-motor kecil menggunakan 380 VAC. Tegangan 6.000 VAC dan 380 VAC ini diperoleh dengan menggunakan transformator step down (penurun tegangan).

Pertanyaan bagus, bila belum tersedia listrik untuk memenuhi kebutuhan sendiri tersebut, dari mana asal daya listrik pada saat awal pembangkit dinyalakan ? Jawabannya adalah dengan menggunakan mesin diesel yang disebut BlackStart Diesel. Dinamakan demikian karena sistem dinyalakan dari kondisi belum ada listrik / gelap gulita. Daya keluaran blackstart diesel ini lebih besar sedikit dibanding kebutuhan sistem bila di sekitar pembangkit bersangkutan belum terdapat jaringan yang sudah menyala. Namun bila sudah terdapat jaringan yang aktif, kapasitasnya dapat dikecilkan, dengan skema untuk menggunakan listrik jaringan tersebut membeli kepada pihak penyedia listrik.

Keluaran Utama

Listrik keluaran sistem, biasanya ada di kisaran hingga 90 % daya terbangkitkan, akan dialirkan menuju jaringan pengguna listrik. Dari tegangan 6 kV atau 11 kV, akan menuju trafo step up (penaik tegangan) sesuai tegangan jaringan transmisi yang tersedia. Ada yang 70 kV, 150 kV, 500 kV, atau bahkan tegangan distribusi 20 kV. Tegangan listrik ini dinaikkan sedemikian tinggi untuk mengurangi rugi daya karena transmisi. Rugi daya semakin besar bila arus yang mengalir dalam kawat konduktor semakin besar. Dengan menaikkan tegangan, arus menjadi jauh lebih kecil, sehingga rugi daya yang dirumuskan dengan Pdis = i2/R juga mengecil.

Gambar transformator step up, keluaran dari generator dinaikkan tegangannya sebelum keluar menuju switchyard.

Minyak (Oil) pendingin diletakkan di dalam trafo yang akan mendinginkan kawat-kawat tembaga lilitan primer dan sekunder yang memanas karena dialiri listrik. Minyak ini kemudian didinginkan dengan udara (Air). Sedangkan aliran fluida pendingin dapat secara alami (Natural) maupun didorong dengan pompa (Forced). Kombinasi istilah ini ada beberapa macam, yaitu : ONAN (Oil Natural Air Natural), ONAF (Oil Natural Air Forced), OFAF (Oil Forced Air Forced), OFAN (Oil Forced Air Natural).

Minyak pendingin trafo harus terjaga rentangan konduktivitasnya. Agar tetap terjaga tidak melampaui batas maksimal, secara berkala minyak disaring sehingga konduktivitas listriknya turun lagi. Dan secara periodis minyak trafo juga harus diganti. Uji konduktivitas minyak selain dengan mengukur bilangan konduktivitasnya, juga dengan melakukan uji tegangan tembus / break down voltage. Uji ini dilakukan dengan memberikan tegangan pada dua elektroda yang terpisah dalam cairan minyak yang diuji dengan jarak 2.5 mm dan diberikan tegangan yang dinaikkan secara bertahap. Bila nilai tegangan tembus di bawah angka standar, maka minyak harus disaring dan ditambah atau diganti baru.

Selain itu, ada juga uji gas terlarut dalam minyak trafo yang dikenal dengan Dissolved Gas Analysis Test (DGA-Test). Tujuannya menganalisa kandungan gas terlarut dalam trafo, yang bila gas terlarut terdapat gas yang berbahaya ataupun berpotensi menurunkan kualitas isolasi trafo dapat segera ditindaklanjuti semisal dengan mengganti minyak, menyaring, ataupun bila sudah parah, mengganti trafo.

Gambar pengambilan sampel minyak untuk tes DGA

Bila terdapat minyak yang kualitasnya sudah jauh menurun, akibat langsungnya adalah trafo meledak karena adanya arus yang mengalir antar lilitan kawat email tembaga sehingga terjadi hubung singkat / kortsluitting (konslet). Akibatnya gulungan trafo terbakar dan harus diganti (dililit ulang) ataupun diganti trafo baru. Dan pada kondisi ini listrik tidak dapat dialirkan melalui trafo yang bersangkutan. Ini memerlukan waktu yang tidak sebentar.

Gambar proses penggantian oli trafo. Terlihat selang minyak disambungkan dengan valve di bagian bawah trafo.

Gambar trafo yang terbakar

Transmisi Listrik

Setelah melalui trafo step up, listrik dialirkan melewati switchyard dan menara-menara transmisi. Prinsip jalur transmisi adalah mencari jarak terpendek antara switchyard pembangkit dengan gardu induk tujuan transmisi. Karena merupakan jarak terpendek, tidak heran bila menara transmisi berada di tengah kebun, sawah, bukit, bahkan hingga ke atas gunung.

Gambar Switchyard. Kawat konduktor tiga pasang mewakili masing-masing fasa. Dari gambar terlihat ada beberapa keluaran arus listrik (diwakili blok konduktor yang terpisah), biasanya dialirkan menuju daerah tujuan yang berbeda.

Untuk pengetahuan praktis, cara membedakan berapa tegangan transmisi yang digunakan dalam sistem adalah dengan menghitung jumlah isolator keramik yang terdapat di atas tower untuk menggantung kawat. Setiap isolator mampu menahan listrik hingga 20 kV. Jadi bila menggunakan transmisi 500 kV, jumlah isolator berwarna coklat akan ditumpuk sebanyak 25 buah. Begitu pula dengan transmisi 150 kV, jumlah isolator sebanyak 8 buah. Dapat pula menggunakan isolator yang berkapasitas 15 kV. Lihat gambar berikut ini :

Gambar isolator piring untuk transmisi

Transmisi 150 kV disebut juga SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi), sedangkan 500 kV disebut SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi).

Gambar menara transmisi yang melewati bukit dan gunung

Setelah melewati perjalanan panjang yang dapat mencapai ratusan kilometer, listrik dialirkan menuju gardu induk untuk didistribusikan. Sebelum didistribusi, tegangan akan diturunkan dengan trafo step down menjadi tegangan distribusi. Biasanya adalah 20 kV. Dari sini listrik siap dialirkan ke pelanggan, yang untuk tegangan ini biasanya menggunakan tiang beton / besi yang jumlah kawat di bagian paling atas adalah 3 buah. Ini mewakili masing-masing fasa (R, S, dan T). Sedangkan di jalur distribusi terakhir, dipasang trafo step down yang kebanyakan terletak di atas tiang, dengan keluaran daya 380 Volt (3 fasa). Untuk rumah tangga biasa, dengan tegangan 220 VAC diperoleh dengan menghubungkan salah satu fasa kawat (sebagai kawat berarus), dan satu kawat lainnya sebagai massa. Angka 220 VAC ini diperoleh dari pengambilan satu fasa, dengan membagi 380 VAC dengan akar 3.

Perlu kita ketahui, arus listrik bolak-balik / DC memiliki bentuk tegangan berupa sinusoidal, ada gunung dan ada lembah. Bila 380 VAC, nilai puncak tegangan berada pada tegangan. Untuk tiga fasa, beda fasa antar ketiganya adalah 120 derajat, sehingga beda tegangan antar fasanya 380 Volt. Bentuk gelombang listrik ini dapat kita amati dengan menggunakan alat bernama osiloskop. Tampilannya seperti ini :

Grafik sinusoidal yang terlihat di osiloskop

Gambar osiloskop.

Jika digambarkan sekilas, perjalanan listrik dari pembangkit menuju konsumen kira-kira begini :

Gambar menara 500 kV

Gambar gardu induk, sekilas mirip dengan switchyard yang berada di kompleks pembangkit, tetapi berfungsi kebalikan, yaitu menurunkan tegangan, dari tegangan transmisi menjadi distribusi.

Tiang distribusi 20 kV

Dari tiang distribusi 20 kV, listrik diturunkan lagi dengan trafo step down yang biasanya berada di atas tiang distribusi menjadi tegangan 380 Volt. Lalu menuju meteran konsumen yang ada di di masing-masing pelanggan.

Gambar meteran listrik. Yang diindera oleh piringan berputar adalah arus induksi yang mengalir melalui kawat. Di bawahnya adalah sekering pembatas arus sesuai daya terpasang.

Untuk pelanggan dengan fasa tunggal seperti rumah tangga biasa, kapasitas daya terpasang ditunjukkan oleh besaran kapasitas sekering. Bila 450 Watt, maka sekering berkemampuan 2 Ampere, 900 Watt 4 Ampere, 1300 W 6 Ampere dan seterusnya. Sekering, bila dilalui oleh panas berlebih akan memutuskan aliran listrik.

Dari meteran, listrik dialirkan menuju main circuit breaker / sekering dalam rumah. Di sini listrik dibagi berdasarkan area dan penggunaannya. Misalkan dengan kapasitas 1300 Watt, dibagi menjadi tiga area. Sekering 1 (4 Ampere) melayani ruang tamu, kamar 1, kamar 2 dan kamar mandi, dengan beban berupa komputer, TV, dan AC. Sedangkan sekering 2 (4 Ampere) melayani dapur, dengan beban kulkas, rice cooker, dispenser, dan lampu-lampu dapur. Adapun sekering 3 (4 ampere) dibebani pompa air, mesin cuci, dan setrika. Pengaturan beban ini perlu supaya sekering maupun kabel sebagai konduktornya tidak mengalami panas karena kelebihan beban / arus listrik yang mengalir. Bila terjadi kelebihan beban dan panas, akibatnya bisa fatal, berupa konslet hingga terbakar.

Gambar MCB

Contoh kabel, diameter kawat 4 mm

Dari MCB listrik dialirkan melalui kabel hingga ke ujung terminal. Di ujung terminal, di mana kita bisa menggunakan listrik untuk kehidupan sehari-hari dapat dipasang saklar lampu maupun stop kontak.

Gambar stop kontak, masing-masing negara memiliki tipe tersendiri.

Gambar saklar lampu

8 thoughts on “Sekilas Pembangkit Listrik Batu bara

  1. […] Sekilas Pembangkit Listrik Batu bara « Muhammad Ari Mukhlason […]

  2. made says:

    mw nany gan,, bsa tw gk kita suhu keluaran dri cerobong asap PLTU, lebih dari 27 C gk kira2…

    • mukhlason says:

      lebih Pak. Kalo suhunya terlalu rendah malah blocking. Menurut info dari teman yang pure engineer PLTU, temperatur di kisaran 110 degC. Masih cukup panas kalo sekedar digunakan untuk memanaskan heater.

      Di tempat lain, utk memanfaatkan energi yang tersisa, digunakan untuk memanaskan heater utk proses pabrik (coklat, pengasapan ikan, dll).

      • made says:

        pemanfaatan energi sisa dari gas it gmana caranya pak??
        dari cerobong asap it di tambahkan dengan HE atau bagaimana pak??
        maaf y pak bnyk bertanya,
        saya mahasiswa yg mw melakukan penelitian pereduksian CO2 dari gas cerobong asap PLTU menggunakan mikroalga,

  3. ari budhono says:

    tipe boilernya CFB ato PC, katanya kalo tipe CFB ash batubara , kandungan karbonnya tinggi 3 – 8 % sehingga tidak bisa diserap industri semen yang mensyaratkan kandungan karbon pada ash batubara sebesar 1%

  4. rinaldirusli says:

    terima kasih infonya Pak sangat berguna bagi tugas yang diberikan pada saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: