Apakah Kurikulum Kita Sudah Tepat ?


SEBULAN terakhir saya memiliki agenda rutin yang benar-benar baru. Kakak sepupu yang kebetulan anggota DPRD Propinsi dalam rangka mengeratkan hubungan dengan para tetangganya (karena baru pindah rumah) mengadakan beberapa kegiatan rutin untuk warga sekitar. Di antaranya pengajian rutin mingguan, bimbingan kerajinan tangan untuk ibu-ibu, serta les mata pelajaran untuk anak-anak sekitar.
Waktu ditawari, saya mengajukan diri sebagai pengisi pelajaran matematika. Pesertanya berjumlah dua puluhan anak, dengan tingkatan dari kelas satu SD sampai kelas tiga SMA. Tiap tingkatan ada pesertanya. Jadi tantangan juga, karena masing-masing anak materinya berbeda. Solusinya, kelas dibagi tiga, kelas kecil beranggotakan kelas 1 s/d 4, kelas besar dengan kelas 5 s/d 3 SMP, dan sisanya untuk tingkat SMU.

Dari materi-materi yang anak-anak terima, saya cukup terpana. Betapa tidak, materi yang dulunya baru saya terima di SMU, sekarang sudah diajarkan di SD dan SMP. contohnya adalah statistika dan peluang. Lainnya adalah deret hitung. Saya juga melihat, baik anak-anak yang bersekolah di sekolah full day ataupun sekolah negeri, terlihat mereka belum dapat menguasai materi-materi yang cukup berat tersebut. Itu baru dari materi matematika.

Di pelajaran lain cukup bayak. Dari contoh pelajaran komputer yang diberikan di SD full day, saya lihat materinya adalah materi-materi kursus yang kalaupun diajarkan di sekolah level smu. Di mata pelajaran pendidikan agama islam, di kelas satu SD bahkan sudah diajari materi fiqih kelas satu tsanawiyah tentang toharoh atau bersuci dengan klasifikasi air yang digunakan untuk bersuci. Saya belum lihat mata pelajaran lain, namun saya berkeyakinan pelajaran lain juga demikian nasibnya.

Pertanyaan di benak saya, tepatkah bila anak-anak kita yang masih level pendidikan dasar SD sudah meerima materi pelajaran seberat ini ? Bila kita kembalikan ke tujuan awal pendidikan level SD, setahu saya adalah pendidkan yang seharusnya bernuansa bermain, agar anak-anak menyenangi dunianya, sambil disisipkan materi ilmiah yang tentunya tidak memberatkan dan mudah dicerna oleh mereka.

Lalu, apakah kurikulum ini bukan merupakan pemaksaan, bahwa anak-anak dijejali dengan muatan yang sedemikian berat dan padat, tanpa harus mengetahui esensinya ? Ini mengingat tidak semua kualitas pendidik kita untuk level SD sudah seragam mutunya yang baik. Beban materi ini bertambah berat dengan bayaknya PR yang harus dikerjakan berupa LKS yang jumlah soalnya juga tidak tanggung-tanggung, ada di kisaran 20 soal.

Tak heran bila di antara anak bimbingan saya yang menunjukkan gejala-gejala stress, tertekan, serta tidak enjoy dan agak lama mencerna materi. Belum lagi jika mendekati masa ujian. Beban semakin memuncak bagi kelas 6 dan kelas 3 yang menghadapi ujian nasional. Dengan materi soal yang sama di seluruh indonesia, baik itu sekolah unggulan maupun seolah biasa yang kualitas dan intensitas pendidikannya berbeda, maupun standar penilaian kelulusan yang semakin ke sini semakin naik. Padahal nilai unas ini dijadikan kriteria penting untuk memasuki level pendidikan di atasnya. Maka tidak aneh bila di berbagai tempat terdapat kasus kasus ketidaklulusan yang bahkan hingga menimpa satu sekolah.

Beban kurikulum yang berat ini juga memicu terjadinya tindakan curang baik dari siswa maupun para guru dan kepala sekolah yang tidak ingin anak didiknya tidak lulus ujian. Akibatnya fatal, siswa sudah tidak lagi mengandalkan kemampuan dirinya sendiri karena menggantungkan kepada bantuan pihak lain. Padahal dalam beberapa kasus besar, kunci contekan yang diberikan bukan untuk soal yang seharusnya.

Psikologis peserta ujian yang berada di ruangan mudah terganggu konsentrasinya oleh gangguan sekecil apapun. Demikian pula bila terdapat guru yang membantu menjawab, meskipun siswa tersebut tidak mau menggunakan jawaban contekan, bisa dipastikan jawaban yang dipunyai siswa pasti terganggu dan banyak salahnya. Maka bisa dipastikan sekelas tidak lulus ujian.

Langkah Perbaikan
Memang persaingan hidup ke depannya semakin berat, itu juga harus menjadi perhatian untuk muatan pendidikan kita. Namun, alangkah baiknya bila muatan-muatan materi yang belum sesuai tingkatannya ini diperiksa, dikaji ulang tentang kemampuan peserta didik menyerapnya, serta dibandingkan dengan materi pada level yang sama di luar negeri. Saya khawatir, trend perubahan kurikulum yang selama ini terjadi adalah karena berganti menteri, kurikulum ikut diganti, dan materinya pun asal berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Padahal, pada saat saya sekolah dulu, buku-buku pelajaran yang digunakan oleh kakak saya masih bisa saya pakai karena materinya sama. Dan kesamaan materi ini tentunya menghemat budget / anggaran para orang tua dan wali murid untuk tidak membelikan buku baru untuk anaknya karena bisa meminjam dari kakak kelas. Penghematan ini tentunya besar sekali dan sangat berarti, mengingat belum meratanya tingkat kesejahteraan rumah tangga di seluruh Indonesia.

Hendaknya pemerintah, menteri pendidikan, dinas terkait, penyusun kurikulum, penulis buku, serta pihak yang mengevaluasi memiliki kearifan serta wawasan yang lebih dalam dan luas agar anak didik tidak menjadi korban perubahan kurikulum yang asal berbeda. Hendaknya asas kemanfaatan materi pelajaran terkait dalam kehidupan sehari-hari juga dipertimbangkan dalam penyusunan ini. (SON)

One thought on “Apakah Kurikulum Kita Sudah Tepat ?

  1. fitriani or dos says:

    peningkatan kualitas adalah harus son….. berat ato tidaknya materi tergantung sang penyampainya. Membuat anak stress atau menarik tergantung cara penyampaiannya.
    tar tak bahas panjang lebar, kapan2.. hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: