Ujian Kejujuran


AKHIR-akhir ini ujian kejujuran yang saya alami semakin sering saja. Kejadian ini anehnya semakin sering terjadi setelah saya menulis tentang sekolah kejujuran beberapa minggu silam. Memang nilai nominalnya tidak seberapa besar, terutama untuk para koruptor2 kakap. Tapi meskipun kecil tetap bukan hak saya. Seingat saya, kesemuanya terjadi pada waktu proses pembelian bahan bangunan untuk proyek penambahan ruangan kamar di rumah. Modusnya rata-rata sama, yaitu kekeliruan menjumlah nilai transaksi pembelian material. Ini terjadi tidak hanya pada satu toko / satu tempat saja.
[]

Pertama kali saya berbelanja material, terdapat selisih sekitar Rp. 200 rb. Bagi saya ini bukan uang yang sedikit, apalagi di saat2 yang membutuhkan pendanaan untuk pekerjaaan ini. Setelah saya cek ulang, ternyata pihak toko material memiliki jumlahan yang lebih sedikit dibandingkan jumlahan saya. Sayapun mengoreksi jumlahan toko tersebut, dan mereka mengakui kekeliruannya. Di kesempatan berikutnya, di toko yang lain juga demikian. Kali ini selisihnya tidak sebanyak yang tadi, namun ada di kisaran seratusan ribu. Kekeliruan tetap saja berupa penjumlahan yang terlalu sedikit. Itu saya ketahui setelah cek ulang. Lagi2 mereka mengakui kekhilafannya.

Yang ke-tiga, di pangkalan bambu. Saya menggunakan bambu untuk steger penyangga dak cor. Skemanya bisa sewa bisa juga membeli. Setelah timbang sana-sini, bahwa bambu tidak akan terpakai lagi setelah pengecoran, saya memilih opsi sewa. Harganya pun sebenarnya hanya terpaut seribu rupiah per batang. Namun jika dikalikan dengan 160 batang, selisih ini cukup lumayan. Anehnya lagi, si tukang bambunya yang menghitung sendiri, berapa biaya yang harus saya keluarkan, eh, malah ybs menjumlah terlalus sedikit. Selisihnya 80rb perak. Malah malamnya dia balik lagi ke rumah. Saya janjikan untuk memberikan kekurangannya di lain hari. Alhamdulillah sekarang sudah saya berikan kekurangannya. Padahal ini kekeliruan dia dan sudah tertulis di kuitansi.

Terakhir sore ini. Di toko material yang pertama, masih mengalami hal ini. Kali ini selisihnya tidak banyak, ada di kisaran lima ribuan. Dan langsung saya koreksi dan saya bayar kekeliruan mereka. Nah, yang menjadi pertanyaan, memang masalah jumlah menjumlah ini sangat rawan keliru, namun, seharusnya semua pihak turut mengoreksi dan cek ulang. Bukan apa-apa, kekeliruan itu memang manusiawi, namun bila kita tidak memberikan koreksinya, meski kekeliruan itu menguntungkan kita kok sepertinya itu bukan hak dan tidak halal untuk kita nikmati. Dan saya, tidak mau apa-apa yang ada di dalam penguasaan saya adalah barang-barang yang tidak halal adanya. Mari kita tegakkan kejujuran, demi masa depan yang lebih baik, halal, thoyib, bermartabat, adil makmur, sejahtera lahir dan batin. (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: