Berapa Temankah yang Sudah Kita Kunjungi ?


KETIKA liburan panjang tahun 1998, bertepatan dengan kenaikan kelas dari klas 2 ke kelas 3 SMU, perjalanan panjang liburan menuju rumah dimulai. Dengan bermodalkan banyaknya teman2 sepanjang jalur dari Jakarta – Pacitan, bersama teman2 yang akan berlibur ke kampung halaman kami sepakat mengadakan tour de Java, sepanjang rute bus angkutan antar kota antar propinsi.

Perjalanan pertama dimulai dari terminal lebak bulus, Jaksel, yang merupakan terminal antar kota terdekat dengan sekolah IC. Tujuan pertama adalah desa Cangkring, Weru, Cirebon []yang merupakan kediaman orang tua Imron ROsyadi. Peserta kali ini adalah Saya, Dedi Tarmizi, Nanang Abdul Rozaq, dan M Iqbal. Start dari Lebak Bulus jam 14, menggunakan bus Sinar Jaya jurusan tegal, sampai di Cirebon jam 20 wib. Sudah malam memang, ditambah rombongan baru pertama kali menginjakkan kaki di Cirebon. Ini diperparah dengan bus yang langsung masuk tol dan tidak masuk ke kota cirebon. Untung baru sampai gerbang tol. Kamipun buru-buru turun. Lalu naik angkot yang memiliki sound system sangat dahsyat dengan dangdut cirebonnya. Sampai di pertigaan plered kami naik becak sejauh sekitar 4 km, dengan kondisi gelap gulita di tengah sawah, menyeberangi rel. Ongkosnya kalo tidak salah Rp. 4000,- per becak.

Di cirebon siangnya kami jalan-jalan ke pusat kota, ke Grage, dan beberapa tujuan yang lain. Kami menginap di sini selama dua malam. Setelah itu, di pagi harinya perjalanan dilanjutkan dengan naik bus dari terminal Cirebon. Di sini harus ekstra hati2. Pasalnya terminal ini terkenal sekali dengan calonya yang suka memaksa. Benar juga, begitu baru mau naik, kami sudah didatangi calo2 tersebut, yang langsung meminta ongkos perjalanan sebesar 12ribu per orang. Padahal normalnya hanya 9 ribu saja dengan bus ekonomi ke Semarang. Setelah tawar-menawar dengan calo, disepakati harga 11rb per orang. Ya wis, gak apa2. Akhirnya bus pun berangkat. Seperti biasa, saya menjadi ketua rombongan karena dianggap cukup familier dengan rute2 ini. Tujuannya adalah Kendal Jawa Tengah.

Sampai di Kendal sekitar jam 15. Tujuan kami adalah rumah M Agus Kariem, yang berada di Patebon, Kendal. Begitu turun dari bus, saya masih ingat waktu itu turun di pom bensin Jambe Arum. Kebetulan di sana ada fasilitas Telepon Umum Kartu. Di sana saya telpon Kariem dan minta dijemput. Bersama Bapaknya kami dijemput dan langsung menuju rumah Kariem. Situasi di rumah kariem unik. Pamannya merupakan pembuat rebana yang berbahan kayu nangka dan kulit kambing. Rumahnya berada di dekat aliran sungai kendal yang hanya berjarak beberapa kilometer ke muara sungai di pantai utara. Perahu nelayan berlalu lalang di sungai tersebut. Yang menjadikan rumah kariem berbeda, yaitu toiletnya yang berbentuk kapal berwarna biru. Unik memang. Malamnya kami menginap di sana, di balai2 atau amben yang biasa orang jawa sebut. Pagi harinya, satu anggota rombongan menyusul. Salman tiba dari Bandung menggunakan bus Kramat Djati dan turun di masjid agung kendal. Sekitar jam 5 pagi sudah kami jemput dan bergabung bersama teman2. Saya agak lupa, apakah kami menginap semalem atau dua malam di sini.

Berikutnya, kami menuju Semarang dengan diantar oleh ortu Kariem. Rombongan menjadi bertambah banyak karena sudah ada Salman dan Kariem yang ikut. Tujuan pertama adalah rumah Fitriani Khanifatun yang ada di Palebon Semarang. Di sana disambut oleh keluarganya dengan hangat. Tidak berapa lama di sana, kami berangkat menuju perhentian bus untuk menuju Solo. Naik bus ke Solo, transit di terminal Solo. Kota selanjutnya adalah Sukoharjo dengan rumah Yusuf Ahmadi sebagai persinggahan awal. Tiba di sana sudah jam 20-an malam. Kami langsung mandi dan segera makan malam.

Paginya Zaini ROsyid yang rumahnya tidak seberapa jauh dari rumah Yusuf bergabung. Agak siangan kami (sudah ditambah Yusuf dan Zaini) berangkat menuju Klaten ke rumah Muiz Syaikurohman. Sebelumnya kami transit di Assalaam, tempat saya bersekolah MTs dulu. Setiba di rumah Muiz, kami bersepakat untuk menuju Jogja dengan modal seadanya alias mbambung. Namun karena kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan (agak demam dan kecapekan), saya memutuskan tidak ikut dan kembali ke rumah Yusuf sambil memulihkan kondisi dan menunggu teman2 dari Jogja. Hari berikutnya teman2 sudah kembali dari Jogja dan membawa cerita yang sangat berkesan. Mereka tidur di emperan2 toko sambil menikmati suasana Jogja di malam hari. Luar biasa. Bahkan Muiz ketika pulang tidak bisa bareng dengan teman2 karena menderita diare yang terpaksa harus berpisah di bantaran sungai🙂

Total bermalam di Sukoharjo selama 3 hari. Paginya kami berangkat ke Solo dengan tujuan berbeda-beda. Iqbal ke Surabaya transit di rumah Mas Tommy (pegawai katering IC), Nanang kembali ke Tulungagung, dan rombongan besar (Yusuf, Zaini, Salman, Dedi, Kariem, dan Saya) ke rumah saya di Pacitan. Kami naik bus Aneka Jaya yang transit di terminal Batu, Wonogiri. Di sana pula kami bertemu pengamen yang memiliki slogan JI RO LU .. HIII.. (Satu dua tiga.. hiii). Sampai di rumah saya, desa Losari, Tulakan, Pacitan sekitar jam 11 siang. Karena masakan di rumah belum matang (salah saya juga kenapa tidak menelp rumah ketika masih berada di perjalanan), teman2 menjadi kelaparan. Maklum, perjalanan jauh. Kariem mengambil inisiatif dengan memanjat kelapa gading di depan rumah. Blug.. satu dua kelapa berhasil dijatuhkan dari pohon setinggi sepuluhan meter. Menurut Kariem, sepanjang kariernya sebagai pemanjat kelapa itu adalah pohon tertinggi yang pernah dipanjat.

Hari berikutnya, agenda dilanjutkan dengan berjalan2 ke Pantai Teleng. Untuk menuju sana kami naik dokar. Di sana kami puas bermain air selama beberapa jam hingga basah, Pulangnya Salman menjemur celana di atas dokar dan bahkan sempat`terjatuh. Setiba di rumah, Yusuf buru2 pulang ke Sukoharjo. Esoknya, karena saya semakin sakit, jalan2 ke Goa Gong dipandu oleh dik Paput, saudara saya. Zaini juga segera pulang ke Sukoharjo menyusul Yusuf. Tinggallah kami rombongan bertiga. Keesokannya, kami berangkat lagi menuju Tulungagung melalui jalur pantai Selatan dan Trenggalek. Tujuannya adalah rumah Nanang. Malamnya kami jalan2 ke tengah kota Tulungagung dan ke rumah Aisyah, adik kelas. Saya menginap semalam di rumah nanang dan pulang keesokan harinya. Sedangkan Dedi dan Salman melanjutkan hingga hari berikutnya. Tujuan Salman dan Dedi berikutnya adalah Surabaya. Mereka sudah janjian untuk ketemu dengan mas Tommy. Dan selanjutnya Salman kembali ke Bandung, dan Dedi menuju Jakarta.

Kesimpulannya, dalam perjalanan tersebut rumah beberapa teman sudah kami kunjungi. Yaitu Imron, Kariem, Fitriani, Yusuf, Zaini, Muiz, Nanang dan Aisyah (delapan rumah dalam sepuluh hari). (SON)
.

3 thoughts on “Berapa Temankah yang Sudah Kita Kunjungi ?

  1. rida says:

    keren boi…., memperbanyak sillaturrahim seperti itu..
    semoga saia bisa mengikuti jejak anda.., humm.., cari waktu luangnya itu yang sekarang susah.. -.-
    tapi tetep semangat..!!

  2. Kariem says:

    Wah… son, memang perjalanan itu sangat berkesan. Kapan ya bisa jalan2 lagi. Kangen Gua Gong-nya aku…. Paput apa kabar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: