Marzuki Ali : Pemimpin Parlemen Pembela Pemerintah


Menarik menyimak sepak terjang pimpinan DPR yang satu ini. Keterpilihannya sendiri sudah menjadi kontroversi mengingat pengalamannya di parlemen yang kurang meyakinkan. Begitu pula dengan kiprahnya di awal masa tugasnya. Kita masih ingat betul bagaimana ybs menggagalkan pertemuan dengar pendapat dengan Men Kesehatan yang baru terkait program-program kerjanya. Langkah Naif. Ybs merasa bahwa lembaga DPR ada di bawah kekuasaannya sehingga bisa disetir sedemikian rupa untuk mengamankan pemerintah dari serangan dari segala penjuru. Padahal, lembaga DPR itu tidak hanya diwakili oleh pimpinannya, yang bisa sewenang-wenang menyetop agenda. Dan anggota DPR adalah representasi rakyat yang ingin mengetahui program, apa dan siapa menteri ataupun pihak2 yang dijadikan partner diskusi.

Bila demikian adanya, apa bedanya dengan kekuasaan otoriter, yang hampir2 absolut mutlak, dengan meniadakan saran2 kritis, kritik2 pedas yang diharapkan bisa menjadi jamu, serta membawa perubahan ke Indonesia yang lebih baik ? Masyarakat bisa semakin menilai, bahwasanya Demokrat tidak ubahnya dengan Golkar di masa orde baru, yang 100000 persen membela kepentingan penguasa, bagaimanapun dan apapun caranya.

Diharapkan di sini, masyarakat bisa semakin melek politik, terbuka terhadap kenyataan yang ada bahwa partai yang menjadi pemenang mutlak dalam pemilu 2009 ini serta pemenang pilpres 2009 ini demikian kenyataannya, masih menjadi pembela yang selalu membenarkan langkah pemerintah, apapun itu langkah kerjanya. Padahal diharapkan parlemen memegang posisi sebagai pengendali, kontroller yang memberikan umpan balik sehingga arah dan kebijakan pemerintah dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat, pro rakyat, dan menyejahterakan anak-anak bangsa.

Pembuntungan hak2 untuk kritis parlemen melalui ketua DPR itu semakin mengecilkan harapan rakyat agar kekuasaan tidak absolut dan ada penyeimbangnya. Wajar, karena dalam negara ini tidak ada yang berfungsi nyata2 sebagai oposisi sehingga pemerintah menjadi tidak ada yang mengontrol. Kita tunggu saja (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: