Sekolah Kejujuran


Saya dibesarkan di sekolah menengah umum yang mengutamakan kejujuran dalam segala aspek. Sekolah kami adalah rintisan pertama di negeri ini yang membina potensi umat Islam yang luar biasa besar dengan cara menggabungkan dua aspek besar pendidikan. Dua hal tersebut adalah materi pendidikan umum dan materi pendidikan yang diadopsi dari ribuan pesantren yang sudah ada ratusan tahun sebelumnya.

Pendiri sekolah kami memiliki visi yang jauh ke depan, yakni dengan latar belakang jumlah ummat islam yang sangat banyak, tetapi kualitasnya masih dianggap minor. Beliau melihat, perlunya dilakukan pembenahan dari kualitas pendidikan yang sudah ada selama ini.

Dus, akhirnya sekolah sudah digulirkan. Dengan bermodal koneksi jaringan ke seluruh pesantren yang ada di neger ini, proses penerimaan murid baru, murid pioneer dilakukan. yang diawali dengan menyebarkan informasi ke pesantren-pesantren, sekitar setengah tahun sebelum rencana tahun ajaran baru. Kami, yang menjadi salah satu santri pesantren di jawa tengah sangat tertarik dengan program ini da berlomba-lomba mendaftar. Setelah melalui serangkaian tes, Alhamdulillah diterima. Dan tahun ajaran baru 1996 kami sudah mulai dididik.

Aspek kejujuran yang ditanamkan di sini betul-betul mencakup segala hal. Di bulan-bulan awal, sebagai remaja yang kurang menerima jatah buah-buahan, dengan nekat mengambil lebih, karena berasumsi pasti ada lebihan dari katering. Ternyata, setelah di akhir jam makan ada beberapa teman yang belum mendapatkan semangka tersebut. Usut punya usut, ada di antara kami termasuk saya, megambil jatah semangka lebih dari satu. Padahal jatah katering sudah pas sesuai siswa. Vonis hukuman pertama ahirnya jatuh. Di kesempatan berikutnya khususnya saya, tidak lagi mengulangi hal-hal tercela tersebut.

Setelah kompleks sekolah jadi, kami para siswa dimigrasi ke lokasi seharusnya. Semakin kompleks permasalahan yang terkait dengan kejujuran ini terjadi. Intinya adalah berani mengakui dan menerima konsekuensi terhadap tindakan-tindakan tercela. Contohnya, jika terlambat sholat berjama’ah di masjid, masing-masing dari kami sudah tahu dan sadar akan hukumannya, di antaranya keliling kompleks sekolah beberapa putaran sesuai dengan banyaknya rakaat yang tertinggal. Alhamdulillah kami semua berkomitmen sepenuh hati menjalaninya. Jujur, bagi saya, model hukuman ini tidak seberapa dibandingkan pada waktu di pesantren sebelumnya (Madrasah Tsanawiyah) yang banyak hukuman fisik terjadi.

Untuk kehidupan akademik di sekolah yang nyaris 24 jam karena tinggal di asrama juga demikian. Sedari awal sudah ditekankan bahwa perbuatan curang seperti mencontek adalah terlarang dan konsekuensinya adalah nilai nol atau bahkan dikeluarkan dari sekolah. Para guru cukup ringan dan tidak stres dalam mengawasi keberlangsungan akademik di sekolah. Bahkan setiap kali diadakan ulangan atau ujian, guru hanya hadir saat memberikan soal di awal dan ketika ujian sudah selesai. Ini dilakukan tanpa adanya kekhawatiran adanya kecurangan akademik yang kami lakukan. Begitu pula guru-guru pengawas dari sekolah lain yang mengawasi dalam beberapa kesempatan ujian.Proses daftar ulang murid baru di Insan Cendekia

Nilai minusnya adalah, raport kami selalu di bawah rata-rata raport dari sekolah lain. Harap maklum, standar soal agak berat dan tidak mencontek, serta tidak ada bantuan mengangkat nilai. Maka bisa dikatakan generasi awal kami tidak ada satupun yang masuk kuliah dengan jalur PSB / PMDK.

Di koperasi yang menyediakan kebutuhan jajanan para siswa juga demikian, tidak ada seorangpun penjaga. Daftar barang beserta harganya sudah tertera dengan jelas. Uang pembelian diletakkan di laci kotak uang, dan para pembeli dipersilahkan membayar, menaruh uang, dan mengambil uang kembalian sendiri dari tempatnya yang tidak pernah dikunci. Untuk memonitor stok barang pembeli wajib menuliskan pembelian serta harga barang tersebut. Kisruh yang terjadi malahan bukan kekurangan uang karena pembeli tidak membayar, tetapi karena uang berlebih akibat tidak adanya kembalian. Hal itu berlangsung hingga saat ini, yang notabene sudah sekitar 13 tahun sejak sekolah kami beroperasi.

Bagaimana dengan nasib kami, apakah kejujuran membuat tidak mampu bersaing di tataran Indonesia dan kami menjadi terpinggirkan ? Alhamdulillah justru sebaliknya. Pada pemeringkatan hasil Ebtanas 98, di tingkat jabar dan dki sudah bisa menempati urutan 5 besar IPA. Selanjutnya, 99 juga demikian, malah dengan adanya kelas IPS peringkatnya semakin memuncak menjadi tiga besar. Dan yang patut disyukuri, tahun-tahun berikutnya tradisi lima besar itu sudah biasa, meski sulit untuk mempertahankannya. Bahkan beberapa adik kelas kami cukup piawai di Olimpiade Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, dan Komputer yang dibuktikan dengan medali (emas, perak dan perunggu) dalam event intenasional.

Setelah lulus dari sana, teman-teman kami mayoritas melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri yang menjadi impian banyak teman-teman di negeri ini. Hingga saat ini statistik mencatat di ITB berada di kisaran 25 % dari total alumni, peringkat berikutnya di UI sekitar 20 %, UGM, UNAIR, STAN, UNS, UNDIP, dan beberapa perguran tinggi lain termasuk yang di manca negara.

Alhamduillah, setelah luluspun, prestasi teman-teman cukup berwarna-warni, termasuk bidang kerja dan usaha yang dijalani. Dua generasi pertama mayoritas (30-an persen) bekerja di bidang yang berkaitan dengan keuangan. Ada BPK, BI, Depkeu dan Pajak. Yang di bidang lain juga banyak, perusahaan yang bonafid bidang engineering, maintenance, IT, dosen, guru, PNS di beberapa departemen, dokter, serta beberapa sudah menjalankan usaha.

Kini, format sekolah kami sudah banyak diadopsi sekolah-sekolah lain di seantero negeri. Hampir tiap propinsi sudah memiliki sekolah semacam ini. Kami berharap contoh kecil dalam hal kejujuran yang diterapkan bisa tersebar luas ke seluruh penjuru negeri, menjernihkan suasana bangsa kita yang sudah sangat keruh tercemar limbah keserakahan, mental maling, dan mental menang sendiri, paling tidak hasilnya bisa kita harapkan dalam beberapa tahun ke depan, setelah generasi penyubur korupsi sirna.

Nama sekolah kami adalah Insan Cendekia. (SON)

8 thoughts on “Sekolah Kejujuran

  1. ibun says:

    Saya setuju…

    Saya bangga sekali pernah sekolah di IC. Setiap saya ditanya oleh seseorang, “Dulu SMA-nya dimana?”. Saya dengan bangga menjawab, “Saya sekolah di madrasah”. Saya bangga dengan kata madrasah yang saat ini masih disepelekan.

    Alhamdulillah kebiasaan tidak mencontek masih saya terapkan ketika di bangku kuliah. Memang banyak godaan untuk tidak mencontek ketika ujian di perkuliahan menimbang banyaknya teman-teman saya yang dengan santainya mencontek.

    Namun hal itu masih bisa saya atasi dengan mengajak teman-teman almamater IC yang sejurusan dan seangkatan untuk tetap melestarikan budaya tidak mencontek.

    Oia, masih ada lagi kebiasaan di IC yang belum Mas sebutkan, yaitu kebiasaan memberikan salam ketika berpapasan dengan kalimat, “Assalamualaikum”. Saya rindu sekali dengan hal itu, mengingat sekarang setelah lulus, tradisi memberikan salam telah pudar dari kami.

    • mukhlason says:

      Tentang afsyus salaam Insya Allah saya segera tuliskan. Sebagai salah satu kebiasaan baik dari IC sangat layak kita teruskan dan sebarkan. Terima kasih atas responnya. Saya berharap teman2 dapat membuat tulisan2 singkat tentang kesannya di IC, minimal seperti tulisan saya yang ndak bagus2 amat. Ini sebagai syiar juga loh.🙂

  2. irfan says:

    Woghh.. Salut bwt budaya kejujuran di ic.

    Masalah budaya memang paling penting, dulu di sma gw ga bisa ujian klo ga contek-contekan..🙂. Begitu kuliah masuk itb dan berada di jurusan yang relatif jujur, nyontekpun berhenti.

    Jadi gw rasa sebagian besar koruptor sebenarnya ikut korupsi karena terpengaruh kolega2nya lainnya yg membuat budaya korupsi menjadi wajar.

  3. bunga says:

    Membaca lagi tulisan ini jadi menyadari bahwa kita dulu biasa jujur dan insya Allah masih seperti itu sampai sekarang.Institudi pendidikan sekarang miskin budaya jujur.Bahkan adik-adik binaan yg masih SMP-SMU, merasa tidak nyaman ketika menjadi jujur (tidak mau mencontek) seorang diri dan takut menolak temannya yang butuh contekan.Ayo kita rumuskan lagi kurikulum kejujuran yang dulu diterapkan di IC dan kita sebarkan.

  4. Fathimah says:

    Insan Cendekia memang sekolah yg patut dibanggakan..saya berharap kualitas Insan Cendekia tidak akan pernah pudar dan bisa dicontoh oleh sekolah lainnya.. Alhamdulillah, tahun ini saya diterima di Insan Cendekia..dan begitu bangganya saya, karena bisa bersekolah di tempat yg saya impikan sejak 5 tahun yg lalu.. sekolah kejujuran yg sangat saya nanti2..mengingat saya berasal dr madrasah yg bahkan sulit untuk membiarkan “tidak adanya contekan”.. alhasil, teman2 saya yg lain tidak diterima,,karena masih dengan kebiasaan “tidak jujur” mereka, jadi sangat sulit ketika mengikuti tes kemarin..
    Akhirnya saya menemukan sekolah saya,,dimana saya bisa bersaing dengan jujur tanpa perlu merasa curiga… saya sangat berharap kejujuran bisa merambat ke seluruh pelosok negri Indonesia ini,, karena kebanyakan sikap “tidak jujur” di sekolah pun, adalah karena minimnya kualitas pendidikan yang diberikan…
    Mohon do’anya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: