Selamat Jalan Mas Jusman, Selamat Bekerja Laksamana Freddy


Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1 (KIB-1) sudah lewat. Gerbong kereta jilid 2 juga sudah berangkat. Dari nama2 rangkaian tersebut, Jusman Syafii Djamal (JSD) tidak lagi tercantum dalam manifest KIB-2. penggantinya adalah Laksamana Freddy Numberi (FN) yang malang melintang di perairan.

Meskipun demikian, kita tentu tidak bisa lupa akan peran positif yang berhasil dilakukan pada periode kementrian Mas Jusman dan jajarannya di Departemen Perhubungan. Carut-marut dunia perhubungan satu-persatu diperbaiki. Yang menurut saya menjadi prestasi tersendiri adalah perannya dalam mengurangi angka insiden dan kecelakaan khususnya pada mode transportasi udara.
Sektor perhubungan udara sudah lama carut-marut. Puncaknya ketika Indonesia termasuk dalam daftar negara yang maskapainya dilarang terbang di Eropa karena tingkat keamanan penerbangannya yang rendah dan juga kejadian hilangnya Adam Air di perairan Mamuju, Sulawesi.

Tercatat dua menteri sebelumnya belum mampu mengatasi hal ini. Agum Gumelar dan Hatta Rajasa. Dalam reshuffle terbatas KIB-1, nama Jusman diajukan yang kemudian digaransi oleh Pak Habibie kepada SBY bahwa selama JSD menjadi anak buah beliau di IPTN menunjukkan kinerja dan prestasi yang meyakinkan.

Dengan dibantu segenap jajaran di Dephub (dirjen perhubungan udara khususnya, dikoordinir Ir. Budhi Mulyawan Suyitno dan rekan), langkah babat alas segera dilakukan. Ramp check, inspeksi mendadak ke pesawat-pesawat yang ada di bandara rutin dan sering dilakukan bahkan sering tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Akibatnya banyak maskapai yang kebakaran jenggot, ketahuan kalau dalam manjemen perawatan pesawatnya masih belum sempurna bahkan sekelas maskapai besar milik negarapun masih mengalami hal ini. Inspeksinya bahkan terbuka untuk wartawan sehingga publik tahu betul kondisi yang ada di lapangan.

Langkah berani segera diambil. Dibuatlah rangking peringkat maskapai agar semakin berlomba-lomba memperbaiki diri. Puncaknya adalah dibekukannya izin operasi Adam Air yang menempati peringkat bawah. Berangsur-angsur kondisi moda transportasi udara semakin baik. Tingkat kecelakaanpun berkurang drastis. Insiden-insiden yang fatal khususnya pesawat jet transport semakin minor. Tanda awan mulai tersibak dan langit semakin cerah. Membaiknya kondisi ini ditandai dengan dicabutnya larangan terbang ke Eropa. Alhamdulillah, sebuah berita yang cukup menggembirakan, dan pertanda keberhasilan memperbaiki keadaan yang sudah berlarut-larut selama ini. Garuda, yang pernah memiliki rute ke Eropa pun merespon positif dan segera mempersiapkan armadanya untuk segera terbang ke Eropa.

Kini, masa bakti KIB-1 sudah usai. JSD pun sebagai komandan di dephub termasuk pihak yang tidak diperpanjang lagi masa pengabdiannya. Penggantinya adalah orang yang malang melintang dalam dunia perairan, seorang laksamana angkatan laut yang merupakan representasi kawasan Indonesia Timur (Intim). Presiden SBY berharap FN dapat memperbaiki kuantitas dan kualitas perhubungan dan transportasi laut khususnya ke kawasan Intim. Tentunya tanpa mengurangi kualitas modus transportasi lain yang sudah dilakukan oleh para pendahulunya.

Masalah perhubungan laut sangat banyak. Dari jumlah kapal penumpang yang tidak memadai (jumlah penumpang melebihi kapasitas yang ada), kelaikan operasi kapal penumpang yang ada sering diabaikan, kurangnya jumlah dermaga bongkar muat armada kapal barang yang berimbas pada lamanya waktu antrian, serta minimnya sarana transportasi ke pulau-pulau terpencil di penjuru Indonesia.

Selain modus transportasi laut dan udara, transportasi darat juga tidak kalah penting untuk dibenahi. Banyaknya izin trayek yang diterbitkan tanpa melakukan evaluasi berapa jumlah angkutan yang ideal, menjadikan persaingan angkutan umum di berbagai kota menjadi semakin tidak sehat. Akibatnya angkutan sering ngetem dan memperparah kemacetan yang ada. Selain itu waktu tempuh menjadi lebih lama sehingga penumpang banyak beralih ke kendaraan beroda dua. Akhirnya profit yang dimiliki awak kendaraan dan pengelola armada angkutan menjadi semakin tidak layak, bahkan hanya untuk sekedar mencukupi biaya operasional, perawatan kendaraan dan biaya hidup sehari-hari yang layak bersama keluarga. Perawatan kendaraan semakin minim dan ujungnya mengurangi tingkat keamanan dan keselamatan yang ada. Ini dibuktikan dari hasil penyelidikan penyebab sejumlah kecelakaan yang ternyata dari minimnya perawatan.

Dan yang sepertinya tidak terlalu berubah signifikan adalah sarana transportasi kereta api. Tingkat penggunaan (utilisasi) jaringan rel kereta api, khususnya di luar Jabodetabek masih sangat rendah. Padahal lalu lintas orang dan barang yang juga melintasi daerah yang berada di sepanjang jalur rel kereta api ini jumlahnya luar biasa banyak. Berapa banyak mobilisasi penumpang di pulau Jawa : Banyuwangi – Malang – Surabaya – Solo – Semarang – Yogyakarta – Bandung – Cirebon – Jakarta – Merak, serta di pulau Sumatera dari Lampung sampai Medan dan Aceh. Juga arus lalu lintas barang yang diangkut kontainer, truk, trailer, serta truk-truk gandeng yang berat-berat dengan sumbu lebih dari dua. Semuanya menjadi potensi pasar yang sangat bagus bagi kereta api jika mau menggarapnya dengan serius.

Yang mutlak untuk dilakukan sekarang ini adalah memisahkan pengelolaan armada kereta api dengan pengelolaan jalur rel menjadi perusahaan yang berbeda dan terpisah. Sebagaimana pengelolaan dermaga pelabuhan oleh Pelindo dan armada pelayaran oleh Pelni dan pihak swasta yang lain. Juga Angkasa Pura 1 dan 2 yang mengelola bandara di seluruh Indonesia tanpa kepingin ikut-ikutan mengoperasikan maskapai penerbangan.

Promosi perjalanan menggunakan kereta api juga harus lebih digalakkan, terutama untuk menuju daerah-daerah tujuan niaga dan wisata yang tersebar di sepanjang jalur kereta api. Kualitas gerbong kereta juga harus istimewa, tidak seperti saat ini banyak toilet yang airnya menggenang dan sering krannya tidak mengalirkan air. Juga pelayanan selama berada di kereta, menjadi pelayanan yang lebih manusiawi, wajar, serta tulus melayani, tidak seperti sekarang ini. Kereta api komuter dan KRL juga harus menjadi perhatian yang serius dalam pelayanannya, baik dari segi ketepatan waktunya, jumlah armadanya, maupun kualitas pelayanannya. Faktor kenyamanan dan keamanan penumpang harus menjadi fokus perhatian.

Upaya menggandeng dunia industri yang rutin dan sering melakukan pengiriman bahan baku maupun barang jadi juga tidak boleh ketinggalan. Ketersediaan kereta barang dan kereta pengangkut kontainer juga harus lebih disosialisasikan kepada dunia industri karena pada kenyataannya jauh lebih menghemat bahan bakar dan biaya pengiriman. Memang saat ini sudah terdapat armada kereta kontainer, namun keberadaannya belum signifikan dalam mengalihkan lalu-lintas kontainer dan barang dari jalan raya.
Selain itu stasiun-stasiun yang berada di sepanjang jalur kereta api, terutama yang tidak dijadikan perhentian naik dan turun penumpang dapat diubah menjadi stasiun bongkar muat kereta barang dengan menambah lajur rel dan fasilitas pengangkat barang berupa crane dan forklift yang pengoperasiannya bisa bekerja sama dengan pihak swasta. Jumlah stasiun yang ada pasti lebih dari cukup.

Kemudian langkah berikutnya menjadikan jalur Banyuwangi – Merak dan Lampung – Aceh menjadi jalur ganda (double track) untuk mengakomodasi pertumbuhan lalu lintas kereta api ke depannya. Bila langkah perbaikan modus transportasi kereta api ini berhasil, Insya Allah banyak anggaran negara yang dapat dihemat, terutama dari sisi perbaikan ruas jalan raya dan jembatan yang besarnya pasti di atas puluhan trilyun per tahun sehingga dapat dialokasikan ke pos yang lain untuk memakmurkan dan mensejahterakan rakyat. (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: