SABAR, berpahala besar, tetapi ada batasnya


Kita, masyarakat yang diwadahi oleh negara kesatuan republik Indonesia, katanya adalah negara yang sangat-sangat kaya akan sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Banyak negara2 penjajah memperebutkan wilayah kita sejak kita belum dipikirkan untuk muncul ke dunia ini. Yang tercatat dalam sejarah di era 1500-an, mulai dari Portugis, Inggris, Belanda, hingga Jepang yang mengaku-aku sebagai saudara tua yang akan membebaskan saudara mudanya dari penderitaan.

Lepas dari penjajahan resmi oleh negara asing, yang ditandai dengan kemerdekaan 1945, kita bebas berdikari, mendirikan dan mengorganisasikan diri menjadi negara kesatuan dengan berbagai macam tahapan yang tidak sebentar dan tidak sedikit mencurahkan keringat, air mata maupun darah dan nyawa dalam pembentukan dan penegakannya.

Kini, tahun 2009, tercatat sudah 64 tahun lebih kita merdeka. Negara kita sudah banyak berubah, begitu pula negara2 tetangga yang dulunya belajar kepada kita, yang notabene merdeka kalah duluan dibanding kita, saat ini sudah maju, bahkan lebih jauh. Saat ini, kita lebih banyak dijajah oleh egoisme dan nafsu serakah bangsa sendiri, baik yang itu mengatasnamakan pemegang kekuasaan maupun pemegang otorita dan kendali penggunaan sumber daya alam yang ada.

Korupsi yang dulunya terbatas ada di ring Jakarta, saat ini sudah menyeruak, merambah ke seluruh sendi2 kehidupan, dari tingkat pusat hingga ke daerah, bahkan sampai ke tingkatan pemerintahan yang paling bawah, yaitu RT. Korupsi semakin menggurita, semakin merajalela, dilakukan oleh orang2 yang berkesempatan. Bahkan sampai kepada penegak hukum yang masyarakat kecilpun sangat mengharapkan keadilannya. Korps penegak hukum, apapun kesatuannya tetap saja tidak bisa bersih diri, dan memberikan contoh untuk menyapu kejahatan korupsi dan turunannya itu.

Harapan masyarakat sempat melambung tinggi ketika dibentuk KPK, yang merupakan aspirasi masyarakat bawah karena sudah muak dengan kemunafikan2 koruptor yang mengumbar syahwatnya di depan kita semua tanpa merasa bersalah. Bahkan koruptor2 ini memutarbalikkan fakta dan logika bahwasanya mereka tidak bersalah dan bisa bebas dari hukuman. Dan yang paling menyedihkan, adalah adanya tingkat hukuman yang sangat ringan, sangat tidak setimpal dengan akibat yang ditimbulkan dari kejahatan mereka.

Lucunya lagi, koruptor sudah dihukum ringan, malah kebanyakan mendapatkan remisi alias pengurangan hukuman, yang besarnya bervariasi antara 1 bulan hingga beberapa bulan. Remisi ini diberikan biasanya pada hari2 besar seperti peringatan kemerdekaan, perayaan hari besar keagamaan narapidana yang bersangkutan, dan sikap manis muka yang dilakukan selama di penjara. Sangat tidak adil bukan ?

Kini, KPK sudah diobok2 oleh penegak hukum yang mengatasnamakan Godzilla yang sangat2 bernafsu untuk meruntuhkan benteng2 kokoh KPK. KPK boleh dihancurkan, tetapi, rakyat yang sudah selama ini sabar, tidak mendapatkan pendapatan selayaknya dari hasil bumi dan sumber daya alam yang ada di negeri ini, tentunya tidak akan tinggal diam. Rakyat akan membalas, bahkan lebih kejam terhadap pelaku tindak pidana korupsi.

Dan kalaupun kesabaran rakyat masih dapat diperpanjang dengan tidak melakukan tindakan apapun, yakinlah bahwa akan ada pembalasan dari Yang Maha Perkasa, Allah SWT. Jadi, barangsiapa yang hari ini masih berlaku korup terhadap amanah rakyat, siap2 saja, atau segera bertaubat dan mengembalikan yang sudah diambil. (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: