Ketika Menikah juga Harus Sesuai Urutan Kelahiran


Dalam adat istiadat, atau kepercayaan yang dianut sebagian masyarakat, ada keharusan yang bisa jadi sampai berlevel mutlak dan harus dijalankan saklek. Contohnya adalah kepercayaan untuk mengharuskan urutan pernikahan sesuai dengan urutan kelahiran anak. Artinya, si anak sulung harus menikah terlebih dahulu, baru anak ke-dua, ke-tiga dan seterusnya. Logis memang, tetapi bila hal tersebut dipegang teguh tanpa kompromi, tentunya menjadi kebiasaan yang tidak wajar.

Rasulullah Muhammad SAW berkata : “Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah, maka menikahlah, karena hal itu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.”

Hukum menikah juga sudah jelas, menjadi sunnah bagi yang masih bisa menahan diri, tetapi hukum tersebut berubah menjadi wajib bilamana kemungkinan untuk menjaga syahwat tidak lagi dapat dilakukan. Rasul juga mewanti-wanti bahwa ada tiga perkara yang harus disegerakan, salah satunya adalah menikahkan anak bila telah mencapai saatnya.

Orang tua dan keluarga, memiliki kewajiban mencarikan jodoh untuk anak-anaknya dengan kriteria yang sudah ditentukan, yaitu dari kebaikan pelaksanaan agamanya, kecantikan / rupa, harta kekayaannya, dan juga dari garis keturunannya. Adapun dari ke-empat kriteria ini yang paling utama adalah dari sisi pelaksanaan agamanya.

Ketika sang anak sudah memiliki calon yang jika ditimbang2 dengan kriteria2 di atas sudah memenuhi, orang tua dan keluarga seharusnya mendukung penuh keputusan sang anak untuk segera menikah, bukan malah menghalangi terjadinya pernikahan. Adalah sangat bijaksana untuk menyegerakan kebaikan, bukan malah menundanya.

Adapun jika terdapat hambatan, yang misalnya ada saudara yang lebih tua tetapi belum menikah juga, secara hukum agama hal itu tidak menjadi masalah. Islam tidak memiliki syarat bahwa menikah harus urut kacang, sesuai urutan kelahiran. Sejatinya, menikah adalah salah satu peristiwa taqdir yang sudah ditetapkan Allah SWT ketika setiap anak Adam masih berada di dalam kandungan. Jadi kedatangan jodoh termasuk salah satu misteri taqdir yang harus kita imani keberadaannya. Sebagaimana halnya masalah kelahiran, sebagai orang tua, kita tidak bisa menentukan si A harus lahir terlebih dahulu dari si B, si C, dan seterusnya.

Jadi, selama anak-anak kita sudah memiliki syarat-syarat yang memadai untuk menikah, segeralah nikahkan. Ini akan menghindarkan diri dari fitnah yang lebih besar. Apalagi jika hubungan kedua calon sudah teramat dekat dan sudah menjalin komunikasi dan pertemuan yang sangat intensif dan lama.

Maka, segeralah amal-amal kebaikan, terutama menikah. (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: