BUAYA MELAWAN CICAK


Koruptor diidentikkan dengan nyamuk, penghisap darah dari masyarakat dan uang kita. Dalam dunia binatang, kita semua tau, siapa itu nyamuk, siapa itu cicak, dan siapa pula buaya. Makanan sehari-harinya juga kita sudah sama-sama tahu. Cicak salah satu makanan favoritnya adalah nyamuk. Meskipun nyamuk bisa terbang tinggi dan cicak tidak, kata Aa Gym, cicak tidak iri dan mengadu pada gusti Allah untuk meminta kemampuan bisa terbang sebagaimana nyamuk. Dia tetap legowo menerima kodratnya sebagai cicak. Tapi cicak punya strategi handal. Dia selalu mengendap2 di dinding dan plafon untuk mengintai nyamuk yang beterbangan ke sana kemari.

Ketika lengah nyamuk lengah dengan mendekati dinding, hap. Cicak membuka mulut dan menjulurkan lidah, menelan bulat2 si nyamuk dengan lahap. Alhamdulillah, masih dapat makan hari ini, kata si cicak. Efeknya, populasi nyamuk lumayan berkurang dengan adanya cicak tersebut.

Akan halnya buaya, mangsa utama buaya adalah hewan2 besar yang lengah, yang tidak hati2 ketika menyeberang sungai dengan tidak waspada, mulut buaya ganas sudah menganga. Salah melangkah sedikit, dijepitnya kaki atau bahu mangsa, dan ditarik, di-edhel-edhel hingga bundhas, diajak berguling-guling, serta ditenggelamkan. Selain itu masih juga dirobek-robek dengan gigi buaya yang tajam dan jepitan mulutnya yang mematikan.

Nah, mangsa buaya kan hewan2 besar yang notabene penduduk asli kawasan sekitar sungai tersebut, baik hewan darat maupun hewan air seperti ikan. Terhadap nyamuk ? Tentu saja buaya tidak mau memakan nyamuk, toh Cuma kecil, dan dagingnya tidak ada isinya. Begitu juga jika mau menyantap cicak, kayaknya kok masih ndak mau juga.

Tetapi jika buaya sudah merasa disaingi oleh cicak, itu hal lain. Buaya bisa melakukan apa saja, baik yang masih wajar, sesuai akal sehat, maupun sudah menjadi tidak wajar lagi menurut hewan2 di sekitar sungai. Hewan2 yang merasa terganggu dengan merebaknya populasi nyamuk pun menunggu apa tindakan buaya dalam menghadapi si cicak ini. Beberapa hewan bahkan sudah mengadakan protes kecil-kecilan terhadap tindakan buaya ini.

Perlu diketahui bersama, cicak semakin mengganas menyantap nyamuk karena wabah penyakit turunan yang dibawa oleh nyamuk sangat berbahaya. Banyak kematian langsung maupun tidak langsung terjadi. Akibatnya penduduk banyak kekurangan makanan, yang seharusnya sangat melimpah di sekitar sungai tersebut. Belum lagi dari banyaknya nyamuk2 yang berwarna pirang dari kawasan jauh dari sekitar sungai tersebut. Bekerja sama dengan nyamuk2 kepala hitam alias nyamuk local, menggasak apa saja yang bisa digasak dari kawasan sungai. Kelaparan dan kesenjangan bagi hewan2 semakin merajalela.

Nah, sekarang wabah nyamuk belum terberantas habis, bahkan sepersepuluh pun belum, sudah ada pertikaian antara buaya dan cicak. Kita tunggu saja, sebagai hewan2 penghuni kawasam sekitar sungai, tentu kita berharap cicak dapat lagi Berjaya, dan bahkan punya lidah api yang membakar habis nyamuk2 itu.

Akan halnya dengan buaya, apakah nantinya buaya dapat terbang dan mengalami metamorfosa menjadi nyamuk ? Meskipun ini menyalahi prinsip2 evolusi, mungkin saja ini terjadi. Namun akan lebih mirip jika buaya mengalami metamorphose menjadi cicak karena dari sisi bentuk sudah sangat mirip. Hanya saja berbeda ukurannya. Ini wajar karena fungsi jangkauan cicak hanya untuk melahap nyamuk2 saja. Bukan untuk fungsi yang lain.

Jadi, akan menjadi apa buayanya, apakah tetap menjadi buaya, apakah akan menjadi nyamuk, atau menjadi cicak. (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: