Nasionalisme Proyek Ambisius


Saya di sini sengaja menulis tentang proyek ambisius yang sebenarnya memang sudah diperlukan masyarakat Indonesia di seluruh gugusan kepulauannya yang tersebar dan berjumlah mencapai 17ribuan. Meski terkesan sudah terlambat dengan kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi, namun baru bisa dirumuskan dan mulai dijalankan beberapa tahun terakhir.

Kenyataan ini menjadi semakin ironis manakala daerah dengan potensi terbesar, tetapi pada kenyataannya sampai hari ini masih menjadi daerah yang minus, tanpa pasokan kebutuhan ini yang memadai.

Dus, proyek dibuka di seluruh penjuru negeri, banyak pelamar2 dari kontraktor2 lokal maupun asing mendaftarkan diri untuk mengikuti tender terbuka. Dan setelah melalui beberapa tahap evaluasi proposal dan kelayakan teknis, keluarlah pemenang yang nantinya akan membangun proyek tersebut.

Setelah tanda tangan, uang muka dari si pemilik proyek dicairkan ke para pemenang. Kualifikasi pemenang juga bermacam2, dari yang sangat bagus, sedang, kurang bagus, hingga yang kurang begitu berkomitmen untuk mengerjakan dan menyelesaikan proyek sesuai anggaran, kualitas, dan alokasi waktu yang ada.

Akhirnya proses rancang bangun dimulai, dengan dasar dari hasil proposal yang sudah disetujui pemilik proyek. Rancang bangun ini bertujuan untuk memberikan detil2 pelaksanaan proyek termasuk pernik2nya yang diperlukan demi dapat terwujudnya proyek tersebut.

Setelah melalui tahapan diskusi demi diskusi dengan pemilik proyek dan konsultannya dan disetujui, dimulailah proses pengadaan barang2 kebutuhan proyek yang dilakukan oleh kontraktor pemenang tersebut. Satu per satu calon vendor berdatangan mengajukan diri dengan menunjukkan berbagai macam kualifikasi yang sudah diraih calon vendor tersebut. Calon vendor juga menjanjikan kualitas barang proyek buatannya memenuhi standar A, B, C, dan macam2nya. Dan tidak lupa, calon vendor juga membawa cindera mata, souvenir khas yang bisa mengingatkan si kontraktor dan pemilik proyek agar menyetujui penggunaan calon vendor tersebut, atau minimal dimasukkan ke dalam daftar nominasi vendor yang dimiliki pemilik proyek.

Tak lupa juga kalo sempat, kontraktor dan pemilik diundang dan berkunjung untuk melihat fasilitas2 yang dimiliki calon vendor tersebut, agar menjadi lebih yakin terhadap kualifikasi yang dimiliki. Juga melihat beberapa hasil karya yang sudah terpasang dan beroperasi bagus di klien2 sebelumnya. Di sini minimal kontraktor dan pemilik mendapatkan gambaran sesuai harapan vendor. Dan tidak lupa bila ada anggaran, ada yang namanya hiburan, atau minimal jamuan dari yang kecil-kecilan sampai yang sangat besar kepada dua pihak tadi. So, jadi tambah tidak berkutik.

Akhirnya vendor ditunjuk, dan uang muka juga mulai dicairkan agar bisa segera melakukan pembelian material dan barang2 proyek segera diproses produksi. Tim kendali mutu segera diterjunkan untuk mengawasi pekerjaan produksi ini. Baik dari kontraktor maupun pemilik. Semuanya memelototi kerja vendor, yang bila ada kurang benarnya langsung semprot, baik semprot halus, maupun semprot kasar yang bertendensi semprit.

Nah, masalah mulai timbul setelah ini, ternyata oh ternyata, si pemilik proyek tanpa diduga kesulitan pembiayaan. Entah kenapa sampai terjadi hal ini. Padahal optimisme untuk menyelesaikan proyek dan berprestasi dari kontraktor sangat tinggi. Dan tidak tanggung-tanggung, lebih dari satu lokasi proyek yang ditangani, dengan nominal nilai kontrak yang bukan jumlah kecil.

Akibatnya, alokasi anggaran untuk pembayaran ke vendor2 mulai seret. Nego sana-sini untuk mencari term pembiayaan juga sudah tidak sekali dua kali dilakukan. Sampai2 mengorbankan muka sendiri tidak perduli lagi. Ini dilakukan pemilik maupun kontraktor. Bagi kontraktor yang kurang memiliki sumber dana yang bagus, akhirnya terpaksa menghentikan aktivitas pengadaan proyek alias stop, entah untuk sementara waktu maupun sampai waktu yang tidak ditentukan. Adapun bagi vendor2 yang sudah kadung membeli bahan2 semuanya, mau tidak mau dia harus mengerjakan sampai tuntas proses produksinya, karena kepalang tanggung. Ini dilakukan oleh vendor yang masih punya cadangan proyek maupun cadangan dana dari sumber lain.

Bagi vendor yang tidak punya hal di atas, tutup alias gulung tikar maupun tutup sementara menjadi sebuah pilihan yang wajar, apalagi tidak ada jaminan kepastian dari pemilik proyek maupun kontraktor tentang pembayaran pekerjaan yang sudah dilakoni. Beberapa bahkan sudah sampai menyelesaikan kewajiban produksinya di kisaran angka 100 %.

Langkah2 penghematan serius juga dijalani oleh vendor2 yang masih mempertahankan laju produksinya untuk tetap berjalan. Dari mengurangi biaya2 operasional kurang penting, hingga yang penting tapi tidak mendesak.

Kabar yang kurang enak buat vendor2 lokal punya bangsa sendiri, ternyata sudah ada pencairan pendanaan untuk porsi vendor asing, yang bukan merupakan bangsa sendiri. Entah dari mana sumber dana yang digunakan, tetapi sudah ada realisasinya.

Bagaimana dengan vendor kepala hitam yang merupakan saudara sendiri, apakah sudah ada alokasi anggaran untuk pembayaran ? Ternyata sampai hari ini belum. Mungkin bagi pemilik proyek, lebih baik bangsa sendiri ditekan habis2an dn mati kelaparan sedangkan bangsa lain dijadikan raja, dimanja2, baik dengan kualitas yang cukup longgar maupun dengan jaminan2 lain yang melegakan si asing. Toh sejarah sudah membuktikan hal yang sama kan.

Akibatnya vendor juga berbuat hal2 yang rasional, yaitu menahan barang2 proyek yang dia sudah kerjakan tetapi sudah dibutuhkan untuk dipasang di lokasi. Kita bisa bilang, Sampeyan bayar dulu barang2 ini, baru sampeyan bisa bawa ke manapun. Langkah yang sangat logis, mengingat rata2 tagihan2 beberapa bulan sebelumnya belum juga dibayarkan baik oleh pemilik apalagi oleh kontraktor.

Hal ini juga berlaku bagi vendor pengirim alias forwarder. Bagi proyek2 yang berlokasi di luar pulau tempat produksi dilakukan, transportasi lewat kapal menjadi satu2nya pilihan untuk mengangkut barang2 proyek. Namun, untuk dapat berjalan kan juga diperlukan biaya yang tidak sedikit. Vendor kapal sudah mulai melakukan penghematan dan strategi agar tidak tekor banyak dalam menangani proyek ini. Banyak langkah yang sudah dilakukan, antara lain tidak memfokuskan diri hanya pada proyek dengan pemilik yang sama.

Namun, yang membuat lebih kecut lagi, terutama dari team dalam ruangan, adalah kurang tajamnya sense yang ada, terutama untuk lebih memperhatikan situasi yang berlangsung di sekitar vendor2 tersebut. Hal2 yang sudah disebutkan di atas, bahwa vendor mengalami krisis sepertinya kurang terasa di ruang kantor kontraktor. Ini dapat dilihat dari kebijakan2 yang dilakukan dengan terus melakukan speed up, akselerasi proyek2 yang sedang dikerjakan, tanpa mengenal lelah. Demi mengejar progress, meski untuk progress bulan2 sebelumnya belum terdapat realisasi yang nyata.

Yang tertekan dan menjadi tidak punya muka lagi adalah tim lapangan yang sudah terpisah jarak dengan tim ruangan sekian lama. Oleh tim ruangan diminta untuk mempercepat, tetapi di vendor kita memang belum membayar tagihan2 sebelumnya. Benar2 pekerjaan yang memakan hati nurani. Selain itu, tim lapangan harus siap mengajukan koceknya sendiri untuk dijadikan tumbal pertama bila terdapat hal2 mendadak yang harus merogoh kocek, karena alokasi kocek darurat ternyata belum tersedia sepenuhnya. Itupun klaim penggunaannya ribet, dan tidak menjamin dalam waktu dekat segera cair.

Maka, langkah ke depannya bagi si kontraktor, hindarilah mengambil proyek banyak2 dari pemilik proyek yang sama, di manapun dan siapapun pemiliknya. Karena itu sama saja dengan menaruh telur perusahaan dalam satu keranjang, dan beresiko jatuh dan ambyar sewaktu2. Dan tugas berat bagi tim pemasaran untuk menomboki tekor2 yang sudah, sedang, maupun akan berlangsung selama mengerjakan proyek dari pemilik proyek ini. Carilah pemilik2 proyek yang cukup kredibel, mengutamakan bangsa sendiri, dan punya nurani dan uang yang bisa diandalkan.

Kita jalani sambil menunggu keajaiban2 yang bakal terjadi. (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: