Pelabuhan Tanjung Perak sudah Overload


Enam bulan terakhir ini saya sering berurusan dengan beberapa ekspedisi yang berada di Tanjung Perak Surabaya. Ini terkait dengan pekerjaan pengiriman material untuk pembuatan PLTU 10.000 MW di seluruh Indonesia, khususnya di luar jawa yang dikerjakan oleh kantor saya, Rekadaya Elektrika.

PLTU tersebut ada empat lokasi, Ende Nusa Tenggara Timur, Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau, Kendari Sulawesi Tenggara, dan Tidore Maluku Utara. Fabrikasi ke-empat PLTU tersebut mayoritas berada di seputaran Surabaya, yaitu Gresik, Surabaya Utara, dan juga Sidoarjo dan Pasuruan. Sehingga dengan banyaknya barang yang diproduksi di Surabaya, dipilihlah lokasi Pelabuhan Tanjung Perak untuk menjadi transit pengiriman barang2 PLTU tersebut, termasuk beberapa barang impor dari konsorsium yang diproduksi di China dan juga barang2 produksi Jakarta.

Dalam rangka transit dan pengiriman tersebut, barang2 itu ditangani oleh ekspedisi yang berbeda2. Baik barang impor, maupun barang2 yang akan dikirim ke masing2 PLTU dibedakan ekspedisinya. Kendala ketika menggunakan pelabuhan khususnya dermaga Jamrud Selatan, yang sering dialami adalah adanya keterlambatan kapal sandar. Ini dikarenakan padatnya penggunaan dermaga oleh kapal2 yang ada. Seringkali ketika kapal harus antri sandar, sampai memakan waktu empat hari. Ini tentunya memakan biaya operasional yang tidak sedikit.

Total muatan yang dilakukan bongkar muat di Tanjung Perak, khususnya Jamrud Selatan sudah tidak mencukupi dengan daya dukung dermaga yang sudah ada. Ini wajar karena selama beberapa tahun terakhir tidak ada penambahan unit dermaga baru di Tanjung Perak dengan kelas kapal yang sama dengan Jamrud Selatan. Ditambah lagi membaiknya perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun terakhir yang ditandai dengan eskalasi proyek dan pengiriman barang yang semakin intensif.

Maka, tantangan ke depannya, pihak pengelola Pelabuhan, khususnya yang berada di sekitar Surabaya (Gresik, Sidoarjo, dan Lamongan) yang difasilitasi oleh Departemen Perhubungan, PemProv Jatim, DPRD Jatim, dan juga Pemerintah pusat harus segera mewujudkan pelabuhan berstandar Internasional untuk mengelola bongkar muat yang tidak tertampung lagi di Pelabuhan Tanjung Perak, khususnya dermaga Jamrud.

Dan yang perlu dipikirkan dan dilaksanakan segera, pembangunan infrastruktur pendukung untuk pelabuhan yang akan dibangun, seperti sarana jalan raya dan jalan bebas hambatan untuk menuju pelabuhan baru, sarana air bersih, listrik, dan juga ketersediaan alat2 berat dan kendaraan yang digunakan untuk sarana transportasi dari dan ke kapal. Ini mengingat pentingnya peran pelabuhan di sekitar Surabaya untuk mengakomodasi pengiriman barang2 yang sangat tinggi frekuensinya khususnya ke Indonesia Timur (KTI). Kita ingat perindustrian di KTI belum seperti di KBI (Ini jadi PR kita berikutnya).

Mungkin nantinya di awal2 keberadaan dermaga baru tersebut belum terlalu menarik minat pengguna untuk mengalihkan bongkar-muatnya dari Tanjung Perak. Namun seiring berjalannya waktu, dan semakin baiknya infrastruktur yang ada, Insya Allah pengguna juga berbondong2 menggunakan dermaga tersebut. Daripada antri yang sekian hari, lebih cepat bongkar muat dan sandar lebih baik. (SON).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: