Sekilas Perkembangan Wahana Terbang Efek Permukaan


Dulu waktu tugas akhir kebetulan menghitung take off performance untuk 2 penumpang. Nama umumnya waktu itu wing in Surface effect Craft (WiSE 2 Seater). Komandannya waktu itu alm. Prof Said Djenie, ketua BPPT sekaligus guru besar teknik penerbangan ITB.

Setelah konsep dasar dan tools perhitungan WiSE 2 Seater jadi, tepatnya sudah dimulai sejak thn 2000-an karena ada senior angk 97 yg ber TA semisal itu (fokus di kontrol n aerodnamikanya), dilanjutkan generasi ke duanya oleh kami (mahasiswa tugas akhir S1 waktu itu : saya sendiri, Javensius Sembirin Depari, Poltak Sihombing, dan Kristian Prananta Ginting) dengan menambah kajian di bidang performance waktu take off di air. Dosen Pembimbing adalah Dr. Ir. Hari Muhammad, Dr. Ir. Toto Indriyanto, dan personal research waktu itu Mas Uuh Muchdi Zaeny, ST, MT. Team yang lain adalah dari BPPT dan dari PT Dirgantara Indonesia.

Setelah tahapan untuk 2 seater selesai, dimulai juga tahap untuk 8 penumpang, dan aku di sekitar okt 2004 semasa masih di Lapan juga dilibatkan sama dosen pembimbing meski sudah lulus dalam perhitungan performa tinggal landas 8 oenumpang.

Sebenarnya WiSE / GEV / WiGE ini bukan barang baru. tetapi sudah lama sekali sekitar akhir 50an / awal 60 an. yang cukup terkenal namanya adalah orlyonok dan beberapa nama lain yang dirintis oleh rusia.

Istimewanya WiGE ini adalah dia hanya terbang memanfaatkan efek permukaan baik tanah maupun air, sehingga meningkatkan gaya angkat yang dimiliki. Karena mendapatkan efek tambahan gaya angkat ini, kecepatan terbang yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi sehingga menghemat energy alias tenaga mesin pendorongnya tidak perlu sebesar pesawat konvensional sekelas.

Hal lain yang menjadi ketakutan negara lain adalah karena terbang di permukaan seperti rudal jelajah / cruise missile, kemampuan menghindari tangkapan radar permukaan sangat tinggi seperti yg dijelaskan saudara Zarul, ST. Saya pernah baca jawa pos mei thn 2005, di sana iran mengembangkan juga WiSE ini. cuma kalo di Indonesia kayaknya belum terperhatikan secara penuh oleh pihak2 terkait.

Saat2 yang paling krusial bagi WISE adalah tinggal landas, apalagi di air, karena kita harus bisa menentukan dengan tepat berapa tenaga minimal mesin yang kita butuhkan untuk melawan gaya hambat air yang 1000 kali lebih besar dibanding gaya hambat udara. Jika menggunakan roda, besarnya gaya hambat ada di kisaran antara hambatan air dan udara.

Tapi Allah Maha Adil,

di air selain ada gaya hambat air, juga diberi gaya angkat hidrodinamika shg permukaan yang tergesek air secara bertahap berkurang karena lambung Wise naik perlahan dan lama-kelamaan seiring bertambahnya kecepatan akan naik terus dan lepaslah dari sentuhan air.

Setelah tinggal landas, yang perlu diperhatikan lagi adalah mekanisme kontrol / kendalinya. Karena terbang rendah (WiSE 2 penumpang didesain tebang ekonomis di 4-15 meter) maka ketika terbang lurus pilot bisa lelah memegang kendalinya. oleh karena itu dibuatlah sistem kendali untuk menahan ketinggian tetap/altitude hold.

Berikutnya, jika kita melakukan manuver, karena bentangan sayap cukup lebar sedangkan tinggi terbang hanya di kisaran bberapa meter, perlu dilakukan mekanisme agar ujung sayap tidak menyentuh air ketika membelok. Caranya adalah dengan menambahkan kendali otomatis di mana jika WiSE membelok, akan didahului dengan menaikkan ketinggian beberapa meter sesuai hasil perhitungan radius belok, kecepatan terbang, dan beban yang dibawa disesuaikan dengan respon waktu dan pengendaliannya. Ini akan menghindari ujung sayap menyentuh air. (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: