cara cepat amerika mendapatkan uang


Saat ini negara Amerika Serikat sudah di ambang kehancuran. Kehancuran karena sistem ribawi mereka, sistem penindasan mereka terhadap negara-negara lain, dan banyak lagi sistem yang mereka paksakan ke negara lain. Tak kurang dari tragedi keuangan yang dialami Goldman Sachs yang merembet ke lembaga2 keuangan lain, terkait transaksi derivatif.

Hal-hal lain yang menyedot anggaran adalah perang yang dipaksakan dilakukan di luar negeri. Lihatlah perang Irak yang dimulai sejak 2001, perang Afghanistan yang mengambil dalih memberantas terorisme Al-Qaedah dan Taliban.

Saat ini, budget anggaran terkuras habis untuk membiayai nafsu perang tanpa batas tersebut. Akibatnya, sektor2 dalam negeri yang seharusnya mendapatkan pembiayaan menjadi dinomor-duakan sehingga harus mengalah. Contohnya adalah kasus Negara bagian California yang digubernuri oleh Arnold Schwarzennegger. Saat ini wilayah itu dalam kondisi keuangan yang goyah dan bisa dikatakan hampir bangkrut.

Selain california, banyak wilayah2 lain yang mengajukan diri untuk merger, bergabung dengan daerah di sekitarnya untuk melakukan efisiensi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Contohnya adalah`dengan melakukan penitipan tahanan / narapidana ke penjara negara bagian yang masih mampu untuk menangani. Juga barter kebutuhanyang bisa disediakan oleh negara bagian di sekitarnya.

Nah, ada lagi cara yang benar2 kasat mata dan curang, jauh melebihi cara preman. Yaitu memungut biaya pengajuan visa kepada orang2 yang memerlukan visa amerika serikat. Sebagaimana kita ketahui, jika kita ingin bepergian ke luar negeri, kita harus memiliki paspor dari negara asal kita, dan memiliki visa yang dikeluarkan negara tujuan dalam hal ini biasa dilakukan oleh kedutaan besar atau konsul.

Untuk amerika serikat, besarnya pungutan kepada tiap orang yang mengajukan visa adalah sekitar Rp. 1.200.000,- (Satu Juta Dua Ratus Ribu Rp.), bukan sebuah nilai yang sedikit saya kira. Setiap hari kerja, yang mengajukan visa di Kedubes US di dekat Stasiun Gambir mencapai ratusan orang (di atas seratus orang). Dari jumlah ini, semua dipungut biaya sebesar itu. Dan dari pengajuan yang ada, yang dikabulkan tidak seluruhnya. Dari hasil pencarian via internet, ada yang mengatakan di kisaran 40% saja yang diterima. sisanya, ya ditolak.

Yang tidak fair, adalah bagi pengajuan yang ditolak, tidak berhak mempertanyakan alasan penolakan tersebut. Dan parahnya lagi, uang yang sudah disetorkan tidak bisa diambil lagi. Cobalah berandai-andai. dengan jumlah aplikan sekitar 100 orang / hari kerja, dan yang ditolak 60 orang, dikalikan Rp.1.200.000,- dikalikan 22 hari kerja, didapat sekitar Rp. 72 juta tiap hari pelayanan atau 1.5 Milyar setiap bulan. Jumlah yang cukup lumayan untuk pekerjaan tolak-menolak pengajuan visa. Ini baru yang dilakukan di Indonesia, di Jakarta, dan baru merupakan angka kira2. Tepatnya tidak bisa dipastikan.

jadi, selama kita masih menganggap Amerika Serikat itu sebagai Negara yang kita butuhkan, akan selamanya uang2 kita disedot dengan cara yang tidak fair seperti itu. Ini baru dari sisi pengajuan visa.

Belum lagi dari sektor bisnis amerika yang dipaksakan kepada negara kita, seperti Freeport, Chevron, dan banyak lagi yang saya tidak hafal menyebutnya Jadi, sampai kapan kita menganggap Amerika penting bagi kita, dalam arti kita yang membutuhkan Amerika ? Bukannya Amerika yang membutuhkan kita, tetapi mengapa kita masih mau diperlakukan dengan semena-mena ? (SON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: