Download Film yang Cepat


Menonton filem memang bisa menambah wawasan dan menurunkan stres. Tapi kalo menonton di bioskop, ya bisa tekor. Tekor biaya, waktu, dan tenaga juga.

Buat kawan-kawan yang memiliki modal internet, bisa diakali dengan mendownload di dunia maya yang banyak bertebaran. Sayangnya, tidak banyak di antara server2 tempat penyimpanan yang bisa diakses dengan cepat. Rata-rata karena kendala lokasi server yang cukup jauh dari tempat kita mengakses.

Untuk mengetahui jauh-dekatnya server tersebut, dapat digunakan fitur pelacak rute, yang dapat dijalankan dari command prompt.

Bila anda pengguna windows, perintah dapat dijalankan dari command prompt. Caranya tekan tombol jendela dan huruf R bersama-sama, di sana akan muncul jendela Run. Lalu ketik "cmd" dan di-enter. Muncullah jendela command prompt.
Dari situ, ketik server yang akan kita cek jaraknya. Pakailah perintah "tracert" yang merupakan kependekan dari trace route.

Misalnya mau memeriksa rute sockshare.com, maka perintahnya diketik sbb :
"tracert sockshare.com" lalu ditekan enter. Komputer akan menampilkan hasil jalur-2 yang dilalui sebelum kita mencapai server tersebut.

Bila anda menggunakan linux dan sejenisnya, bisa dari shell (mirip command prompt). Perintahnya mirip, yakni "traceroute". Caranya juga sama, ketik saja :
"traceroute sockshare.com" lalu tekan enter.

Semakin pendek jalur menuju server ybs, semakin cepat akses yang bisa diperoleh untuk mendownload file. sehingga waktu mengunduh menjadi lebih cepat dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Rekomendasi saya, carilah server yang di bawah 10 langkah / 10 rute. sehingga diharapkan kecepatan masih lebih tinggi. (SON)

m ari mukhlason
email : son @ mukhlason.com http://mukhlason.wordpress.com

Persiapan Masuk Kuliah, Sejak Kapan ?


Mungkin tulisan ini bisa sedikit menarik bagi adik2 yang ngebet kepingin kuliah di manapun, maupun bahan cerita untuk menggali kisah unik kawan2 yang sudah pernah mengalami masa-masa perkuliahan, tentang bagaimana kiat mempersiapkan dunia kuliah sedari awal, khususnya di tingkat Strata 1 (S-1). Mungkin bahasanya agak berlebihan, namun dari niatan, bukanlah untuk berlebihan apalagi menyombongkan diri. Berikut ini ceritanya :

Latar Belakang Ndeso Pool

Pengalaman pribadi saya, saya bukanlah orang yang memiliki prestasi akademik yang menonjol khususnya di tingkat SMP dan SMU. Apalagi latar belakang saya yang ndeso, dari pelosok pedalaman Pacitan yang bahkan listrik saja baru masuk tahun 96 ketika saya hampir lulus SMP. Otomatis selama masa belajar SD di Pacitan, tiap malam ditemani lampu teplok atau paling mewah dengan petromax. Maklum, saingan datang dari seluruh Indonesia mengingat latar belakang asal daerah kawan2 SMP dan SMU yang cukup merata. Latar belakang yang ada tersebut, menjadikan belajar menjadi sebuah kebutuhan. Saya sendiri merasa, tidak terlalu ngoyo, atau bahasa lainnya mati-matian belajar, seperti teman2 yang lain. Hanya sekedarnya.

Selama SMP, upaya belajar ya hanya begitu-begitu saja. Alhamdulillah selama 3 tahun masuk terus di kelas yang katanya favorit, meskipun itu bukan tujuan saya. Ketika lulus MTs pun, manakala ada bukaan sekolah baru di Serpong, saya bersama banyak teman2 mendaftar, dengan jumlah pesaing yang sangat banyak dan cukup berkualitas. Termasuk teman2 MTs yang prestasinya jauh di atas saya. Alhamdulillah, Allah menuntun saya ke sekolah ini yang di Serpong.

Masuk SMU, jumlah siswa kelas 1 sebanyak 48 orang. Ini dibagi dalam 4 kelas sehingga masing-masing berjumlah 12 orang tiap kelas. Kelas satu ini adalah “very intensive class”. Saking kelewat intensifnya, bahkan hanya untuk sekedar mengantuk saja tidak bisa karena sudah keburu dibangunkan oleh guru. Maklum, jelas terlihat Di cawu 1, dengan usaha belajar yang seikhlasnya, Alhamdulillah masuk urutan pertama dari 12 siswa. Tapi setelah itu turun terus, deep sinking, nggak pernah muncul-muncul lagi ke permukaan. hahaha.

Mencuri Start

Di kelas 1 ini bisa dikatakan saya mencuri start. Mumpung masih semangat untuk belajar, saya habiskan buku kumpulan soal-soal UMPTN, Sipenmaru dan SKALU yang bersampul merah dan setebal bantal untuk menemani kehidupan, minimal selama 2 cawu di kelas satu. Hanya materi-materi yang belum diajarkan yang saya tidak tahu jawabannya. Lainnya kan bisa sambil dilogika. Pada tahapan ini, saya merasa (belum tentu benar perasaan saya ini), bahwa 60 % lebih isi buku sudah saya pahami dan saya pelajari. Jadi sudah PD untuk menghadapi ujian 2 tahun mendatang.

Kelas 2, saya semakin tenggelam dalam lumpur anak2 muda. Belajar jadi males, senangnya kumpul sama teman2, main bola, dan segala kegiatan yang bukan belajar. Urutan rangking, sudah pasti tidak masuk hitungan lagi karena sudah lewat dari sepuluh. Lain halnya dengan teman2, malah mulai menemukan jati dirinya dengan belajar mempeng, serius, dan sungguh-sungguh. Sementara saya semakin jauh dari belajar, karena merasa sudah belajar di kelas 1. Penentuannya di akhir cawu 3 di mana semua siswa diseleksi untuk masuk IPA atau IPS. Batas nilainya adalah 6.5 pada mata pelajaran matematika, fisika, kimia dan biologi. Nilai saya pun pas-pasan, hanya 6.75, sedikit berada di batas aman.

Kelas 3, teman2 sudah semakin semangat belajar, sementara saya hanya sekedarnya. Kalopun membuka2 buku soal SKALU merah, hanya dibaca sekedarnya. Terlebih pada soal yang sudah pernah saya kerjakan, ooh, wis pernah tak garap, kiro-kiro ngono jawabane. Hehe.

Di awal cawu di kelas tiga, saya sudah menentukan pingin kuliah di mana, sehingga getol banget ngebetnya. Bahkan di sekitar tiga bulan terakhir kelas 3, saya rutin tahajjud sambil meminta pada Allah agar dimasukkan ke jurusan yang saya pilih tersebut. Sisi isengnya, bahkan jam 2 pagi saya setel murattal ngaji di loudspeaker masjid sekolah, membangunkan teman2 satu sekolahan yang masih asyik tidur. Selain tahajjud, beberapa kali juga puasa Daud, sehari puasa, sehari tidak, hingga karena kurang asupan gizi sampai dihinggapi wabah beri-beri

Begitu ebtanas, hingga umptn, Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tapi ada sedikit kekeliruan yang hampir fatal. Ketika jam tangan saya mati pada waktu hari ke-dua (materi ipa terpadu), saya merasa belum waktunya habis dan masih sejam lagi. Ternyata waktu sudah habis. Pokoknya sudah deg-deg-an. Khawatir nggak lulus. Ternyata Allah masih Maha Penyayang pada saya. Alhamdulillah lulus.

Trik Belajar

Dari pengalaman saya pribadi tersebut, inti yang bisa dipelajari adalah sbb :

1. temukan cara belajar yang paling cocok dengan diri kita.

Tidak semua orang bisa belajar dengan cara yang sama. Belum tentu cara yang cocok saya pakai, bisa cocok dan nyaman untuk si Andi. Cara tersebut misalkan dengan menuliskan kata-kata kunci (nama lainnya jembatan keledai) untuk hal-hal yang perlu dihapalkan. Pahami juga logikanya, sehingga kita tidak melulu menghapalkan rumus / formula. Akan lebih mengena manakala kita mengetahui cara penurunan rumus daripada sekedar hapal. Dunia perkuliahan di teknik menuntut hal ini. Bahkan yang sering saya alami, produk2 bimbel yang instan, banyak dicela oleh dosen2

2. Curi waktu belajar sedini mungkin.

Kalo saya sudah mencuri start di kelas 1, saya harap adik2 bisa lebih awal lagi mendahuluinya. Terlebih materi pelajaran sekarang, beberapa tahun lebih awal diajarkan dibanding kurikulum pada saat saya sekolah. Wong namanya deret aritmetika saja sudah diajarkan di SD, padahal saya baru belajar di SMU. Khususnya level SMU, utamanya di kelas 2 dan kelas 3, adalah masa hura2nya remaja, di mana kegiatan belajar sudah bukan menjadi hal yang menarik lagi. Maka harus ada strategi mengalihkan waktu belajar selain di klas 2 dan 3. Lagian tidak mungkin kita mengalihkan kegiatan hura2 di kelas 2 dan 3 kan ? Nggak gaul gitu

3. Banyak2 berdoa.

Allah tidak tidur dan senantiasa dekat dengan hamba-Nya. Perbanyak Tahajjud, Puasa, dan ibadah2 sunnah lainnya. Selain itu yang wajib jangan lupa dikerjakan, jangan tertinggal dan bolong2.

4. Banyak diskusi dengan Senior (termasuk orang tua)

Alhamdulillah sekarang sudah banyak media online untuk berdiskusi. Melalui media ini bisa banyak ditanyakan seluk-beluk jurusan / bidang yang akan dimasuki kelak. Jangan segan untuk bertanya, meskipun menurut kita adalah hal yang bodoh untuk ditanyakan (stupid question). Jika ragu-ragu akan memilih jurusan, sambil lakukan sholat istikhoroh, memohon bimbingan Allah agar kita diyakinkan pada pilihan yang sudah kita tetapkan.

5. Tinggalkan hal-hal yang mengganggu konsentrasi

Bagi yang pacaran atau berniat pacaran, tinggalkan saja dulu, daripada mengganggu konsentrasi, malah buyar tujuan utamanya. Nikah juga belum dan masih lama, rencana kuliah terbengkelai. Nanti baru setelah berpenghidupan yang matang dan layak, Insya Allah semakin memperkuat daya tawar kita di depan calon dan keluarga calon pendamping

Ingat, masa perkuliahan adalah masa-2 paling menantang, dan dapat dikatakan sebagai waktu mengeksplorasi apapun yang kita mau dan kita bisa. (SON)

Perbandingan Maskapai Rute Surabaya – Jakarta


Pengalaman wira-wiri seminggu-dua mingguan rute surabaya – jakarta, tarif Lion bukanlah tarif LCC, karena masih ada maskapai lain yang lebih murah. Masih ada Merpati, Citilink, Tiger mandala, Air Asia. Untuk AA, ternyata tidak ada maskapai yang berani melawan tarif promonya.

Posisi tarif Lion utk sby-jkt atau sebaliknya, berimbang dengan Sriwijaya. Namun untuk Air Asia tetap berada di level paling bawah meski bukan periode promo. Kalau pas promo, Citilink bisa edan juga meski termasuk promo dalam waktu singkat, hanya di akhir minggu dan beberapa jam saja dibuka. Kalau untuk pembelian 2 bulan sebelum berangkat, AA masih bisa dikatakan paling murah dibanding maskapai lain. Dan hebatnya, tingkat keterisian kursi sudah di atas 90 %.

Dari sisi pelayanan, Lion air kurang begitu disukai kawan2 penglaju karena terkesan judes dan cuek pramugarinya. Kalau yang lain masih cukup disenangi karena dianggap lebih ramah.

Dari sisi hidangan, hanya Merpati dan Sriwijaya (nggak tau SJ yang sekarang karena sudah lama nggak naik) yang masih ada snacknya (1 roti & 1 gelas air mineral).

Untuk ketepatan waktu, ada dua kelompok besar, yakni jam pagi, dan jam malam.

Surabaya ke Jakarta :

Utk jam 5.55 – 6.00 pagi juga relatif tepat waktu karena pesawat menginap di bandara dan sudah dipersiapkan sebelumnya. Air Asia bisa terbang duluan karena jam 0515 sudah boarding masuk pesawat. Sementara maskapai lain jam 05.40 baru mulai dipanggil. Tetapi AA sepertinya kurang lobi terhadap Angkasa Pura 2, sehingga mendarat sering di runway 1 dan harus memutar lama untuk ke terminal 3 yang nota bene di runway 2. Ini lumayan menghabiskan waktu khususnya di senin pagi di saat kita harus buru-buru masuk kantor.

Untuk jam malam, saya jarang menggunakan. Pernah awal 2012 silam menggunakan Lion air yg terakhir, waktu itu jam 21.50 (sebelum ada yg jam 22 atau setelahnya). Pesawat delay sampai jam 24 lebih, dan baru tiba di cengkareng jam 2 pagi, itupun di term 2E Internasional, tanpa adanya bus, maupun kru darat Lion Air. Untungnya waktu itu tidak membawa bagasi, shg tidak perlu kembali ke terminal 1A. Saya membayangkan, bagaimana kerepotannya penumpang yg punya bagasi, di tengah malam buta tanpa adanya petugas.

Jakarta ke Surabaya

Utk pagi hari jam 04.15 (cgk-sub tiger), relatif tepat waktu karena sepi dan pesawat sudah tersedia di term 3. Sayangnya harus terbang di runway 1 yang berarti harus memutar lebih dari 15 menit. Sampai di Sby jam 05.30 dan cukup akurat.

Permulaan malam, biasanya yang pengguna Lion air memilih jam 18.55, JT-588. Tapi waspadalah, karena pengalaman saya naik ini sekali, delay sampai jam 21.00. Alasannya, ternyata menunggu kedatangan pesawat yang dari Singapura. Dan ternyata ini sudah merupakan rutin. (ini status per awal 2012 lalu), nggak tau yang sekarang. Tapi kalau memilih yang jam setelahnya, cukup tepat waktu.

Untuk jam malam, khususnya di atas jam 19.00, Air asia kemungkinan bergeser 15 menit karena mepet jadwal kedatangan pesawat yang sama dari surabaya, di jam 19.10. Sementara merpati yang dijadwalkan 19.40, terlalu sering digeser ke 20.15 :). Adapun Citilink jam 20.20 selalu telat karena kedatangan pesawatnya tertunda, kebanyakan di kisaran 30 – 45 menit. Untuk Citilink 21.40, relatif tepat waktu karena pesawatnya yang akan berangkat sudah datang di jam 21.00. Tapi pernah juga ada kasus citilink 21.40 gagal berangkat hari itu sehingga penumpang ngamuk2 dan meminta DirOps nya Citilink utk tetap stay di bandara. Untungnya waktu itu aku naik Merpati.

Kepadatan bandara CGK pada jam 1830 – 2130 cukup signifikan, sehingga biasanya dari pertama kali didorong mundur oleh push back car, pesawat baru bisa terbang paling cepat 30 menit setelahnya. Maklum, antrian pesawat turun dan naik bisa 5 – 12 pesawat di depannya.

Untuk yang nyaris tengah malam, Air Asia 22.30 sebaiknya agak dihindari, kecual terpaksa karena potensi delaynya cukup besar. Menurut kawan2 yang beberapa kali naik, rata-rata kedatangan di Juanda surabaya jam 24.00, bahkan beberapa kali nyaris jam 200 sabtu dini hari. Untuk diketahui, pesawat yang digunakan AA adalah pesawat yang menerbangi rute yang sama, jkt-surabaya, ping pong kedua kota tersebut. Jadi menunggu pesawat balik. Saran beberapa kawan, sebaiknya ambil asuransi AA yang mengcover masalah-masalah keterlambatan seperti ini. Ada yang bilang, dapat klaim rp. 600 ribuan. Tapi masih belum jelas kesahihannya.

Maskapai Lain

Khususnya Garuda, mohon maaf, belum bisa menuliskan karena memang belum pernah naik Garuda babar blas. Maklum, kantong saya masih terbatas untuk membelinya, meski sebenarnya ada early bird (burung kepagian kali ya) yang harganya juga Rp. 250 ribu.

Usulan Jadwal Baru

Kawan-kawan penglaju, yang mayoritas harus masuk pagi sebenarnya punya usulan, bagaimana bila keberangkatan pesawat dari Surabaya ke Jakarta lebih pagi lagi, misalnya jam 0500 atau 0530 sudah terbang. Ini untuk mengatasi kemacetan dan supaya datang di kantor lebih pagi. Saya yakin load factor sangat tinggi karena banyak kawan-kawan PNS dan industri yang tidak bisa ditolerir absensi kehadirannya karena dendanya cukup lumayan. Pengalaman saya, banyak kawan-kawan dari Ditjen Pajak, maupun Badan Pemeriksa Keuangan yang terkendala absen sehingga harus mengorbankan waktu satu malam bersama keluarga.

Juga keterbatasan rute Jakarta – Malang (banyak kawan2 yang berdomisili di malang tapi kerja di Jakarta) khususnya di malam hari karena bandara sudah tutup. Coba ada yang buka jam 20 dari jakarta ke malang terlebih di hari jumat dan jam 05.00 senin dari Malang ke Jakarta. Saya yakin perlahan tapi pasti, load factor pasti bertambah signifikan. Siapa maskapai yang mau mencoba ? Citilink ? mosok Citilink kalah sama Lion inovasi rutenya ?

PR untuk Jakarta Baru : Trotoar, Jalur Pejalan Kaki, dan Busway


Pak Jokowi & Pak Basuki,
nambah daftar untuk PR yang harus dikerjakan dan diperbarui nih untuk Jakarta Baru, selain masalah-masalah utama seperti kemacetan, transportasi dan banjir.

PR-nya yaitu :
1. trotoar yang bolong2, sangat tidak nyaman untuk pejalan kaki.

2. perbanyak jalur pedestrian yang seharusnya bisa dioptimalkan. khususnya ruas Pancoran, Kuningan, hingga ke Semanggi serta ruas-ruas jalan utama, sebenarnya sudah punya modal bagus untuk jalur pejalan kaki, lebarnya juga sudah memadai. Tetapi untuk kualitas trotoarnya sangat memprihatinkan. Pecah-pecah semennya dan juga bolong-bolong serta tidak rata, dan di saat hujan deras rawan tergenang dan tidak terlihat, bisa membuat celaka.

Bisa mencontoh di Solo, tempatnya Pak Jokowi khususnya di jalur depan Sriwedari, jalur pedestrian dibuat dengan paving block, yang seandainya rusak tinggal dicopot dan diganti dengan yang baru tanpa memerlukan anggaran yang besar. Sayang bila hal-hal kecil yang bisa berimbas besar ini terluputkan dan terabaikan.

3. Khusus untuk penerapan ganji-genap serta tranportasi massalnya, saya setuju. Tetapi harus didahului dengan memperbanyak armada Trans Jakarta serta APTB dan modus transportasi semisal KOPAJA AC yan ada di jalur busway, sehingga mayoritas bus umum bisa menggunakan jalur busway. Prediksi saya, meskipun MRT maupun monorel tetap dilakukan pembangunan, itu baru akan terwujud paling cepat 3-4 tahun dari sekarang (perkiraan optimis).

Nah, untuk mengisi kekosongan tersebut, disinkronkan dengan jadwal penerapan ganjil-genap yang tinggal beberapa bulan lagi, jumlah armada busway sudah sangat mutlak diperlukan untuk menampung penumpang kendaraan pribadi. Ini supaya kebijakan yang diterapkan pemda DKI sinkron dan bersinergi, serta tidak menghilangkan masalah dengan menciptakan masalah baru. Nanti, bila MRT dan Monorel sudah jadi, bus-bus ini bisa secara bertahap dikurangi karena memang sudah mulai tidak efisien dan secara teknisnya layak diganti.

Selama ini keberadaan busway menjadi kurang efektif karena jumlahnya minim, mengakibatkan jalurnya sering kosong, sehingga mengundang pengguna kendaraan untuk masuk jalur tersebut. COba bila intervalnya cukup sering, paling lama 5 menit sudah ada busway lewat, asyik banget tuh. Calon penumpang tidak kelamaan nunggu di halte, sehingga tidak rawan copet, pelecehan dan lain-lainnya. Dan secara bertahap tarif bisa dinaikkan ke Rp. 5 ribu.

Pak Basuki coba studi ke Jatim, di sana untuk rute bus Surabaya – Solo – Yogya, beroperasi selama 24 jam penuh, dan interval bus-nya paling lama bila siang hari adalah 2 – 5 menit, kalo malam hari paling lama tiap 15 menit. Bus AC tarif Ekonomi, nyaman, cepat dan armadanya baru-baru semua, padahal full swasta. Merknya Sumber Kencono dan Mira. Silahkan klik tulisan saya :
http://mukhlason.wordpress.com/2012/01/12/naik-busway-sudah-tidak-nyaman/http://mukhlason.wordpress.com/2012/01/14/belajar-kepada-sumber-kencono/

Terima kasih sudah menyempatkan membaca email dan apalagi kalo sempat menerapkan saran-saran tersebut.

Suka Duka Komuter


Jika kita pandai cari kawan, banyak hal-hal positif yang bisa saling dibagi, seperti yang kami jalani lewat komunitas KOMUTER. Dari hal-hal remeh seperti info tiket murah, tebengan bareng, hingga yang termasuk gawat (nggak boleh saya sebut di sini). Unik, asyik, dan blak-blakan, itulah khasnya Komuter dari Jatim ini. Seorang kawan yang asli Riau pun sudah terpesona dengan gadis Jatim sehingga memutuskan untuk bergabung :) hehehe… Jadi, jangan coba-coba ganggu ritual jumat sore selepas jam 1500, kami pasti ngamuk-ngamuk. Karena sudah rindu sama keluarga.

Dan yang perlu diingat, wira-wiri seperti ini tidak selamanya dengan harga mahal. Mayoritas perjalanan kami-kami ini untuk satu kali pergi tiket pesawat masih di bawah 400 rb, dan tidak jarang yang di bawah 200 ribu. Kok bisa ? komunitas kami berhubungan baik dengan airlines yang sering mengadakan promo, serta anggotanya menyebar "intel" yang mengendus aroma tiket promo :) Pokoknya, yang berbau promo, hidung kami sangat terlatih. Dan tentunya, cesss pleng…

Kejadian hampir kena batunya, waktu Merpati menutup rute sub-cgk jam 6 pagi yang menjadi andalan kawan2 komuter demi efisiensi. Padahal 3 minggu sebelumnya, kami habis memborong tiket jam tersebut. Alhamdulillah, manajemen Merpati mau mengerti kami, sehingga mengganti dengan penerbangan maskapai lain pada jam yang sama meskipun harus menambah dengan biaya yang tidak sedikit, bahkan di kisaran rp. 500 rb. Kawan2 yang tergabung dengan grup komuter, Alhamdulillah semuanya diganti flight, padahal yang lain tidak sedemikan bagus penggantiannya, bahkan banyak yang hanya dikembalikan uangnya. Pada kejadian ini, saya punya 6-8 tiket yang terimbas, namun semuanya clear.

Terakhir kejadian tutupnya Batavia Air. Padahal beberapa bulan sebelumnya sudah mengadakan promo besar-besaran dengan tarif 250 rb sekali terbang. Saya masih tersisa 1 flight yang belum terbang, tetapi Alhamdulillah ada solusi yang ditawarkan oleh Tiger Mandala, dengan hanya menambah rp. 5rb saja. Tapi yang miris, salah satu kawan komuter sudah membooking untuk 2,5 bulan, dan itu masih untuk bulan September – November 2013 nanti. Ini yang masih agak was-was karena mandala hanya bersedia mengganti hingga flight bulan april.

Rekor termurah saya, adalah Rp. 111 ribu Jkt-Sby di musim arus mudik Idul Fitri kemarin. itupun sekedar biaya administrasi penukaran poin dari Merpati, 10x terbang gratis 1x. Padahal, harga tiket pada saat yang sama sudah mencapa Rp. 1,1 juta. Tapi ada beberapa kawan yang lebih edun, Rp. 60 ribu untuk pp Jakarta Surabaya, naiknya Tiger Mandala, berangkat dari Jakarta jam 4.15 pagi. Jadi sambil nginep di terminal 3 atau bahkan berangkat tengah malam buta ke Bandara. Yang sengsara, manakala tiba di Juanda jam 5 pagi, belum ada taksi yang ngetem. Ada kawan yang terpaksa jalan kaki ke luar bandara.

- ditulis dalam suasana yang masih agak capek di Senin malam -

Rekor Waktu : Surabaya – Maospati (Magetan) : 180 menit


Sabtu dinihari, setelah turun dari Merpati MZ334 jam 22.15 di Juanda, disambung ojek pulang ke rumah di Semambung. Jam 0045 melanjutkan langkah ke terminal Bungurasih di pintu keluar. Jam menunjukkan 01.05 WIB hari sabtu.

Stop watch langsung saya setel begitu MIRA bergerak. Sayangnya saya tidak sempat mencatat nomor polisinya. Dalam waktu 15 menit sudah sampai di pertigaan Krian (barat pool sumber kencono). Sambil ngantuk-ngantuk, ternyata terminal Mojokerto sudah terlewatkan. Bangun-bangun sepertinya sudah lewat Mojoagung Jombang, tetapi jalanannya tidak saya kenal.

Ternyata, setelah bertanya ke kondektur, rutenya berbeda dengan biasanya karena di Mojoagung berbelok ke kiri melewati jalanan yang alternatif tembus ke daerah Tebuireng, dekat pesantren dan makamnya Gus Dur, lalu kembali bertemu dengan jalur Surabaya – Madiun di samping stasiun Jombang. Ini dilakukan untuk menghindari kemacetan parah di proyek pembangunan jalan layang melintasi atas rel KA di Peterongan.

Stop watch saya menunjukkan angka 01:00:03 manakala bus Mira sudah lepas dari tebuireng menuju Stasiun Jombang. Sebuah rekor yang baru saya alami, karena biasanya baik siang maupun tengah malam, biasanya memakan waktu rata-rata 1 jam 45 menit hingga dua jam.

Selanjutnya saya tertidur, dan terbangun ketika menjelang saradan, lalu tidur kembali, dan baru bangun manakala masuk caruban. Lepas dari sana, si Mira ini uber-uberan dengan Sumber (sepertinya SUgeng Rahayu, karena samar-samar kelihatan gambar lumba-lumbanya). Trek lurus Balerejo hingga Nglames (Tiron) dibuat balapan kedua bus besar ini, dengan dimenangkan oleh Sugeng Rahayu. Maklum, MIRA harus menaik-turunkan penumpang di trek ini.

Di terminal madiun, stopwatch menunjukkan 2:41:00. Sayangnya, di sini bus ngetem karena ada penumpang yang ke toilet. Tidak berapa lama, bus bergerak kembali. Sampai di Maospati, stopwatch berbilang 3:00:05. Sebuah catatan tersendiri karena biasanya saya tidak pernah mengalaminya.

Beberapa tahun yang lalu, waktu masih bujangan, pernah juga naik AKAS (seperinya yg NNR) dari Surabaya ke Ponorogo. Rekor waktu 2 jam 45 menit. dan mayoritas saya tinggal tidur, biar nggak ngeri.

Posisi Aman

Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, hindari duduk di 5 barisan depan. Saya paling merasa aman bila duduk di barisan tengah hingga 3 baris dari belakang biarpun digoyang ban belakang waktu menghajar lubang jalanan.

Cara Cepat Menuju Bandara Cengkareng


Kemarin bincang-bincang dengan kawan kantor. Ternyata ybs punya pengalaman ekstrim menuju bandara Cengkareng, yaitu naik ojek.

Ceritanya, karena beliau diajak rapat sampe jam 12.30, akibatnya ybs belom bisa meninggalkan kantor. Padahal sudah harus terbang naik lion air jam 1400. Tahu sendiri, kalau naik taksi / mobil kantor, sudah pasti kecil kemungkinan untuk sampai sebelum waktunya. Dan fakta bahwa Lion kan paling mudah membuat orang tidak diterima check-in.

Ndilalah di depan kantor ada ojek, dan di awal sempat disuruh nganter ke Blok M Damri. Tapi karena tukang ojeknya nanya mau ke mana, dijawab ke bandara. Malah ditawari utk diantar sampe bandara. Rutenya Perempatan Kuningan – Gatot Subroto – Semanggi – Grogol belok kiri – Perempatan Cengkareng
– terus ke bandara. Tarifnya : dikasih 100 ribu.

Waktunya : 30 menit thok !!
Layak dijadikan alternatif, apabila sudah buru-buru dikejar jadwal.

Ini mirip sama pengalaman Mas ArJuna (Arif Junaedi) yg membukukan rekor Malang – Juanda
sejam lebih sedikit menggunakan travel sedan bermobil suzuki swift.